PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Jerry melihat foto kedua orang tua nya


__ADS_3

Bab 86.


Malam itu di Villa Smith tampak sangat ceria. Apa lagi setelah makan malam di hidangkan di meja oleh para pelayan. Jerry, Daniel dan Ryan sangat antusias menghadap ke meja yang penuh dengan makanan dan minuman yang sangat jarang dapat mereka nikmati.


Daniel saat ini sedang menggosok-gosok telapak tangan nya seperti tidak sabaran untuk melahap banyak makanan sekaligus.


Tuan Smith yang melihat ini hanya bisa terkekeh. Bagaimana pun dia tau bahwa ketiga anak muda ini adalah mahasiswa yang hanya menghabiskan sebagian besar waktu mereka di sekitar kampus dan asrama. Dan ini juga berlaku bagi Jerry.


Walaupun Jerry memiliki uang yang banyak di kartu bank miliknya, namun dia tidak terlalu menggunakan nya kecuali ketika dia berurusan dengan petugas administrasi rumah sakit dimana ibu Riko di rawat ketika itu.


Hal yang paling tidak dapat di lupakan adalah ketika mereka makan malam di kamar Diamond Lotus mansion ketika itu.


"Jerry, apa rencana mu selanjutnya setelah ini?" Tanya Tuan Smith disela-sela makan malam mereka.


"tidak terlalu banyak kek. Pertama adalah menemui mu dan kakek William untuk memberitahu bahwa adanya penghianat di dalam rumah mereka. Yang ke dua adalah menunggu kepala pelayan Tuan Aaron Patrik untuk membahas agenda apa saja yang di rencanakan oleh Robin dan mengacaukan nya. Yang ketiga adalah menemui Ayah angkat dan tuan Syam untuk meletakkan beberapa orang di beberapa pusat hiburan dan perbelanjaan di Starhill. Ini karena belum lama ini telah ada beberapa preman yang mengaku bahwa kawasan Jewel Star adalah milik mereka dan kami sempat bentrok dengan mereka." Kata Jerry menjelaskan agenda nya mengunjungi Metro city kali ini.


"Hmmm...., mendengar tentang penghianat di keluarga William. Apakah kau sudah pasti siapa orang nya?" Tanya Tuan Smith.


"Sudah kek. Dan semua akan terungkap setelah kita bertemu nanti dengan kakek William." Kata Jerry masih belum ingin memberitahu kepada Tuan Smith siapa penghianat yang berada dalam keluarga William itu.


"Untuk yang ke dua, bagaimana kau bisa mengenal kepala pelayan di keluarga Patrik? Bukankah mereka ini adalah musuh yang telah mencelakai ayahmu?" Tanya Tuan Smith lagi.


"Jerry...!"


Ryan kini menegur Jerry dengan halus sebelum Jerry melanjutkan kata-kata nya.


Lalu Ryan menggeser gelasnya dan meletakkan sesuatu di balik bayangan gelas tersebut.


Jerry mengerti maksud Ryan ini. Dia pun segera mengurungkan niatnya untuk menjelaskan tentang bagaimana dia bisa berhubungan dengan kakek James, kepala pelayan keluarga Patrik.


Tuan Smith yang melihat tanda itu juga tidak berusaha bertanya lagi.


"Jerry..., malam sudah terlalu larut. tentunya kalian sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Sebaiknya segera lah beristirahat!" Kata Tuan Smith.


"Baik lah kek. Aku akan segera beristirahat sekarang dan sampai bertemu lagi esok pagi." Kata Jerry pamit.


Tuan Smith juga berdiri dan segera menawarkan beberapa buah kamar dimana mereka bisa tidur malam ini. Tapi sebelum itu dia melihat ke-arah sebuah kamar yang besar di lantai itu. Dia mendesah sejenak. Ada raut kesedihan terpancar di wajah tua nya.


"Jerry..., ini adalah kamar milik orang tua mu dulu sebelum mereka pindah. Jika kau ingin melihat-lihat, aku akan menemanimu sebentar." Kata Tuan Smith.


Jerry hanya mengangguk. Dalam hati dia juga sangat ingin melihat-lihat peninggalan orang tua nya. Karena sebagai seorang anak, dia sangat ingin mengetahui seperti apa orang tua nya dulu.

__ADS_1


Setelah menyuruh kepala pelayan untuk membukakan pintu, Tuan Smith mengajak Jerry untuk memasuki kamar itu dan mempersilahkan Jerry untuk melihat-lihat.


Jerry kini memandang ke sekeliling kamar itu. Tidak terlalu banyak perabot di dalam kamar tersebut. Hanya ada lemari pakaian, meja rias dan ranjang yang cukup besar serta beberapa lukisan antik yang terpajang di dinding.


Jerry melihat di meja rias itu ada foto sepasang lelaki dan wanita yang dibalut dalam gaun pengantin. Jerry segera melangkah mendekati meja itu dan mengambil foto itu lalu memandang ke-arah Tuan Smith.


"Itu adalah foto ibu dan ayah mu Jerry. Foto itu diambil di hari pernikahan orang tua mu tepat nya di Villa William." Kata Tuan Smith menjelaskan.


Jerry hanya menatap foto itu dan menarik nafas dalam-dalam. Ada rasa perih menyayat di lubuk hatinya.


Tuan Smith kini melangkah ke-arah laci meja itu dan mengeluarkan album foto dan menyerahkannya kepada Jerry.


"Dalam album ini semua adalah foto ibu dan ayahmu. Kau bisa melihat-lihat dan hanya itu yang kakek miliki sebagai peninggalan dari orang tua mu."


Jerry dengan tangan bergetar menyambut album foto yang di serahkan ke tangannya oleh Tuan Smith.


Foto pertama dia melihat sepasang muda-mudi sedang membelakangi kamera menatap ke-arah laut di geladak kapal pesiar mewah.


Foto kedua terlihat bahwa seorang wanita cantik saat di wisuda di apit oleh lelaki setengah baya dan juga wanita setengah baya.


Jerry berfikir bahwa itu pasti ibunya dan kakek Smith serta almarhumah neneknya.


Foto ke tiga adalah sepasang lelaki dan wanita sedang tersenyum gembira dengan latar belakang bertuliskan Harvard University.


Dia dapat membayangkan kebahagiaan yang dirasakan oleh orang tua nya ketika itu.


Kakek nya yaitu Tuan Smith hanya bisa menepuk-nepuk pundak Jerry untuk menenangkan nya.


"Betapa bahagianya ayah dan ibuku kek. Lihat lah senyum di wajah mereka ini!!"


"Ayah dan ibumu saling mencintai. Tanpa perjodohan. Mereka bertemu kala itu tepat ketika mereka masih usia kanak-kanak. Sebenarnya ada rencana untuk menjodohkan mereka. Aku dan kakek mu William memiliki rencana itu. Namun mereka telah menjalin hubungan dan mendahului rencana kami. Biarlah semuanya nanti kakek mu William yang menceritakan." Kata Tuan Smith tak bisa menahan air matanya.


Ayah mana yang tidak sedih di tinggal mati oleh anak semata wayang nya. Tak lama setelah itu nenek Jerry pula menyusul. Walau pun dia kaya, memiliki banyak harta, tapi tetap saja dia tidak bahagia. Ini lah sebab nya mengapa dia habis-habisan mengerahkan anak buah nya untuk mencari keberadaan Cucu nya yang hilang itu.


Baginya Jerry adalah harta satu-satunya yang dia miliki. Semua untuk Jerry. Bahkan dia kini sudah memiliki ancang-ancang untuk menindahkan seluruh asetnya di dalam dan di luar negri ke atas nama Future of Company.


"Jerry Aku sudah sangat tua. Sudah waktunya pensiun dan menikmati masa tua ku. Kau harus cepat belajar menjadi seorang pemimpin sebuah perusahaan besar Jerry. Aku memberi mu waktu selama 3 bulan untuk belajar. Jika tidak, Aku akan mengalihkan seluruh harta kekayaan ku ke panti asuhan dan rumah-rumah kebajikan." Ancam Tuan Smith untuk memotivasi Jerry.


"Itu idea yang bagus kek. Berebut pahala semasa hidup bekal untuk akhirat." Kata Jerry dengan luguh nya.


"keletuk..."

__ADS_1


"Dasar anak bodoh. Kapan kau akan pintar?" Kata Tuan Smith kemudian berbalik menuju keluar setelah menjitak kepala Jerry dengan gagang tongkat nya.


Jerry hanya cengengesan sambil menggosok-gosok bekas dimana tadi dia di jitak.


"Untung tidak di bekas luka. Jika tidak, aku pasti akan masuk lagi kedalam penjara putih." Kata Jerry bergidik ngeri dan segera berlari mengikuti Tuan Smith dari belakang.


"Disini ada beberapa kamar dan kalian bebas memilih kamar yang mana saja." Kata tuan Smith setelah mereka sampai di luar kamar mendiang orang tua Jerry.


"Kami mau kamar yang paling besar dan paling mewah selain kamar kakek." Kata Jerry membuat permintaan.


"Kau akan mendapatkan nya anak bandel."


"Samuel..., bawa ketiga anak ini menuju lantai dua dan tempat kan mereka di kamar induk di lantai itu!" Perintah tuan Smith kepada kepala pelayan keluarga nya.


"Saya laksanakan Tuan." Kata kepala pelayan bernama Samuel itu sambil menghormat.


"Mari Tuan muda semua.., ikuti saya ke atas.!" Kata Samuel mempersilahkan Jerry, Daniel dan Ryan untuk mengikutinya masuk kedalam lift menuju lantai dua.


Begitu mereka sampai di kamar yang paling besar, paling mewah dengan ranjang empuk dan besar itu, Daniel, Ryan dan Jerry segera terbang dan melompat seperti anak monyet lepas dari kandang.


"Ini ranjang yang empuk Jerry. Sangat berbeda dengan ranjang asrama." Kata Daniel sambil melompat-lompat di atas tempat tidur itu.


"Ho'oh.., aku juga belum pernah merasakan ranjang empuk sebegini." Kata Jerry.


"Kalian berdua minggir dulu! Aku akan melompat ke atas." Kata Ryan sambil mundur membuat ancang-ancang untuk berlari dan melompat ke-atas tempat tidur tersebut.


"Wuuuzzzz...."


"Bruuug."


Terdengar suara terhempas ketika Ryan meluncur dan mendarat dengan mulus diatas kasur besar itu.


Mereka lalu tertawa terbahak-bahak di ikuti oleh gelengan kecil dari kepala pelayan itu.


"Kakek Samuel. Terimakasih sudah mengantar kami ke kamar ini. Kami sangat suka.., sangat suka." Kata Jerry.


"Sama-sama Tuan muda. Jika tidak ada lagi yang di butuhkan, saya permisi dulu." Kata Samuel meminta diri.


"Silahkan kakek. Beristirahat lah!. Anda mungkin sangat lelah." Kata Jerry mempersilahkan. Lalu dia berbalik dan menghajar Daniel dengan bantal.


Seketika suasana dalam kamar itu seperti kapal pecah. Terdengar sumpah serapah dan derai gelak tawa dari ketiga pemuda itu.

__ADS_1


Kepala pelayan yang melangkah menuju lift untuk turun kebawah hanya bisa tersenyum geli mendengar celoteh ketiga pemuda itu dari dalam kamar.


__ADS_2