
Ibu ini apa - apaan, sih! Biarin aja dia pergi, sudah tanggung jawab nya menafkahi ku dan anak nya. Untuk apa juga ibu selalu menahan nya pergi dan bahkan sengaja tidak ingin menyembuhkan ingatan nya padahal seharusnya ingatan mas Rehan sudah kembali jika melakukan perawatan dengan rutin". Imbuh Desi mengeluarkan unek - unek nya yang selama ini ia pendam.
"Diam kamu! Bukan Rehan yang benalu di rumah ini tapi kamu!". Kini giliran Bu Wahida memarahi Desi karena ulah nya Rehan berniat meninggalkan pulau ini.
Desi terdiam di tempat mendengar hardikan mertua nya. Tapi Desi bukan jenis perempuan yang suka tunduk pada orang lain meskipun itu orang tua kandung nya sendiri. Apa lagi sekarang ia hanya ingin menuntut hak nya sebagai istri yang selama ini nggak di nafkahi dengan layak oleh sang suami dan malah selama ini ia hidup di bawa pemberian mertuanya saja.
"Ibu jangan lupa perjanjian kita berdua sebelum aku setuju untuk menikah lagi dengan anak cacat ibu dulu. Kalau bukan karena aku yang ngerawatnya tidak mungkin ia bisa sembuh seperti sekarang. Jangan karena ia kesehatan nya sudah lama membaik, ibu lupa dengan kesepakatan kita berdua..". Desi mengancam dengan mengingat kan kembali perjanjian hitam di atas kertas yang di persetujuan oleh Desi dan bu Wahida.
"Kamu jangan coba - coba mengancam ku, Desi! Apa yang sekarang akan kamu lakukan, Rehan sama sekali tidak menyakiti mu dan aku hanya tidak setuju ia pergi merantau keluar dari pulau ini. Jadi aku sama sekali nggak takut. Lagi pula sekarang orang tua mu udah nggak ada, tiada yang bisa membantu mu untuk menuntut ku". Sahut Bu Wahida sama sekali nggak merasa terancam.
"Apa ibu lupa kalau aku juga seorang wanita berpendidikan? Orang tua ku memnag udah nggak ada tapi harta nya masih ada. Ibu jangan pikir aku sekarang hanya tinggal sendiri tanpa keluarga maka aku mudah tunduk dengan keputusan kalian berdua". Imbuh Desi semakin menantang bu Wahida.
Rehan yang mendengar perdebatan antara istri dan ibunya hanya bisa terperanga. Ia mengetahui fakta baru dengan pertengkaran ini. "Apa sebenarnya yang kalian perdebatkan ini? Perjanjian apa yang sudah kalian sepakati tanpa sepengetahuan ku?". Cerca Rehan dengan nafas yang membara karena emosi dan kecewa pada kedua wanita itu.
Bu Wahida salah tingkah, wanita paruh baya itu menghampiri sang anak untuk menenangkan nya. "Ini nggak seperti yang kamu pikir kan, nak. Kamu lebih baik urungkan saja niatmu untuk keluar dari pulau ini. Ibu nggak sanggup kalau harus berjauhan dari anak ibu satu - satu nya". Bujuk bu Wahida sambil menggenggam tangan Rehan dengan penuh permohonan.
Rehan tersenyum sinis pada ibu kandung nya. Selama ini terlalu banyak yang di sembunyikan oleh wanita tua itu dari nya. "Aku kecewa sama ibu. Selama ini aku mencoba memaafkan ibu yang sudah tega memberiku obat agar ingatan ku tidak kembali. Hari ini aku lagi - lagi ibu kecewakan. Untuk apa ibu membuat perjanjian dengan wanita ini hanya untuk menikahi ku? Aku sudah nggak bisa memaafkan ibu lagi". Lirih Rehan terdengar sangat kecewa.
__ADS_1
"Ja - jadi kamu sudah tahu". Bu Wahida terkejut dengan ucapan Rehan. Bu Wahida meneteskan air mata penyesalan tapi ia tidak mungkin mengatakan penyebab mengapa ia tega melakukan itu pada anak nya sendiri.
"Sudah, bahkan sudah bertahun lama nya. Tapi karena hanya ingin menjaga perasaan ibu, maka nya aku hanya diam saja. Tapi aku nggak nyangka kalau ibu selama ini banyak menyimpan rahasia dari ku". Balas Rehan acuh.
"Semua ibu lakukan untuk kebaikan mu, nak". Lirih bu Wahida berusaha menggapai tangan Rehan untuk meluluhkan hati anak nya itu seperti biasa ia lakukan..
"Sudah cukup, ibu. Kalau ibu mau aku memaafkan ibu maka izin kan aku pergi dari pulau ini. Kalau tidak maka jangan harap aku akan memaafkan ibu, selama nya". Rehan malah memanfaat kan keadaan untuk meminta persetujuan dari ibu nya untuk keluar pulau.
"Ti - tidak, ibu nggak akan pernah setuju dengan keputusan mu ini, Rehan. Ibu nggak mau kamu kembali kota itu membahayakan diri kamu sendiri". Tolak bu Wahida kukuh tidak mengizinkan Rehan pergi.
"Semua ini sebab mulut mu yang comberan itu? Kalau kamu nggak mengungkit soal perjanjian antara kita di depan Rehan tadi, ia pasti tidak akan bersikap seperti ini. Ia bahkan tidak lagi memperdulikan perasaan ku sebagai ibu nya..". Cerca Bu wahida kesal pada Desi.
"Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahan ibu sendiri. Sampai kapan ibu akan merahsiakan semuanya pada Rehan? Se pandai - pandai ibu menyembubyiakn semua nya pasti suatu hari nanti pasti akan ketahuan juga. Dengar sendiri tadi kan kalau selama ini ternyata Rehan sudah mengetahui kalau ibu sengaja memberi nya obat agar ingatan nya tetap hilang. Nikmati aja karma ibu". Balas Desi dengan senyum sinis nya.
"Itu pasti karena kamu yang memberi tahukan nya, kan?". Ujar Bu Wahida masih belum mengalah.
"Ibu jangan asal nuduh! Untuk apa aku melakukan itu semua? Sementara aku juga nggak mau kalau ingatan nya kembali. Ternyata selama ini usaha ku sia - sia untuk menarik perhatian nya lagi sedangkan ia sebenarnya sudah ingat masalah yang terjadi di antara kami di masa lalu". Sahut Desi membantah tuduhan mertua nya.
__ADS_1
"Jadi bagaimana Rehan bisa tahu kalau obat itu obat agar mencegah ingatan nya kembali? Pokok nya kamu harus membantu ku agar Rehan urung kan niat nya untuk kembali ke kota itu lagi. Kalau semua itu terjadi maka tamat lah riwayat kit berdua". Kata bu wahida mulai berbicara lembut.
"Aku sudah nggak peduli lagi masalah itu. Kalau Rehan ingin pergi, ya terserah dia saja. Aku udah nggak mau ambil pusing semua nya. Kalau dia mau menceraikan ku pun aku nggak peduli. Lebih baik hidup berdua dengan Hansip dari pada hidup berumah tangga tapi hanya penuh dengan sandiwara seperti ini. Aku udah capek". Sahut Desi menolak permintaan mertua nya.
"Desi! Kamu nggak boleh seperti ini. Dia tetap suami kamu, dan kamu harus membuat nya kekal di pulau ini!". Teriak Bu Wahida saat Desi berlalu meninggalkan nya. .
"Nek!". Tiba - tiba Hansi muncul mengagetkan bu Wahida.
"Eh, cu - cu nenek dari mana saja?". Bu Wahida berusaha mengalihkan pikiran nya agar sang cucu tak khawatir.
"Nenek nangis, yah? Biar kan lah bapak pergi nek, aku juga sebenarnya sangat ingin jalan - jalan keluar dari pulau ini, apa lagi ke kota Makasa yang ingin bapak pergi kan. Kata teman - teman Hansi, di sana best, banyak bangunan tinggi - tinggi, kendaraan mewah dan tak perlu lagi berkebun seperti di sini karena di sana banyak pekerjaan yang lebih menjanjikan hanya tinggal duduk dan dapat uang". Imbuh Hansi berpendapat.
Ternyata ia sudah mendengar perdebatan antara Rehan, Desi dan bu Wahida tadi. Dan ia setuju dengan keinginan bapak nya tapi tak kuasa membenci nenek nya karena tega menyakiti bapak nya. Ia cukup sayang pada mereka bertiga sehingga tidak bisa menyalahkan kesalahan siapa pun.
"Kamu ngomong apa nih, sayang? Nggak ada yang bisa keluar dari pulau ini. Sama ada bapak mu atau kamu sekali pun. Nenek nggak akan biarkan hal itu sampai terjadi". Tolak Bu Wahida.
"Tapi kenapa, nek? Katakan sama aku sebab nya. Kenapa?". Desak Hansi.
__ADS_1