
Saat ini mobil yang di kendarai oleh tuan Abraham dan istrinya baru saja keluar meninggalkan rumah mereka untuk membeli makanan.
Ketika sudah agak jauh meninggalkan rumah, nyonya Abraham mulai nyinyir ingin mengetahui apa rencana yang akan dilakukan oleh tuan Abraham untuk membalas dendam mereka kepada Robin.
Tanpa menjawab sepatah katapun atas pertanyaan istrinya, tuan Abraham langsung meminggirkan mobil kemudian mengeluarkan ponsel nya.
"Sial sekali kita tidak memiliki nomor ponsel Jerry." Kata tuan Abraham menggerutu sendiri.
"Untuk apa nomor ponsel Jerry pacar anak kita itu Pa?" Tanya nyonya Abraham tidak mengerti.
"Ah kau perempuan diam saja lah. Lihat apa yang akan aku lakukan. Jika kau banyak bertanya, otakku akan buntu." Jawab tuan Abraham.
"Sialan. Memang nomor Jerry tidak ada." Kata tuan Abraham ingin membanting ponsel nya.
"Mengapa tidak kau tanyakan kepada Megan, Lisa atau Lira? Mereka pasti memiliki nomor menantu kita itu." Kata nyonya Abraham.
"Kau benar. Untung kau ada di sini." Kata tuan Abraham sambil mencium kening istrinya membuat wanita setengah baya itu merinding tak habis mengerti kelakuan suaminya ini.
"Aku coba telepon Lisa dulu." Kata tuan Abraham yang segera mendail nomor ponsel Lisa.
"Hallo Paman." Jawab seorang gadis di ujung sana.
"Lisa. Bagaimana kabarmu nak?" Tanya tuan Abraham melalui panggilan telepon tersebut.
"Baik Paman. Paman dan Bini apa kabar?" Tanya Lisa.
"Baik juga. Oh ya Lisa. Paman menelepon mu ini karena ada sesuatu yang ingin paman tanyakan."
"Apa itu Paman?"
"Nak. Apakah kau menyimpan nomor ponsel Jerry?"
"Tidak Paman. Semenjak Jerry marah kepadaku, aku tidak berani lagi menghubungi nya."
"Apakah Lira dan Megan menyimpan nomor Jerry ini?"
"Juga tidak paman." jawab Lisa.
Terdengar ******* mengeluh di seberang sana membuat Lisa merasa tidak enak hati.
"Oh begini saja Paman. Aku memiliki seorang sahabat yang bekerja untuk Jerry. Paman, jika paman ada sesuatu pesan, katakan saja dan aku akan meminta kepada sahabatku itu untuk menyampaikan nya." Kata Lisa.
"Apakah teman mu itu dapat di percaya?" Tanya tuan Abraham ragu-ragu.
"100% bisa dipercaya paman." Jawab Lisa.
"Begini nak. Suruh sahabat mu itu menyampaikan pesan kepada Jerry. Katakan kepadanya bahwa Robin berada di rumah tuan Abraham di MegaTown." Kata tuan Abraham berpesan.
"Hanya itu saja Paman?" Tanya Lisa.
"Ya. Katakan saja begitu."
"Baiklah paman." Kata Lisa lalu mengakhiri panggilan.
Setelah selesai, Lisa langsung mencari nomor Arslan di daftar kenalannya dan langsung menekan tombol panggil.
"Hallo sayang. Apakah kau merindukan aku?" Tanya satu suara begitu panggilan itu terhubung.
"Ya. Aku merindukan dirimu Kak. Oh ya, apakah Jerry ada bersamamu?" Tanya Lisa.
"Oh. Jerry saat ini berada di MegaTown mengantar bibi nya. Ada apa sayang? Kau jangan membuat aku cemburu." Kata Arslan.
"Huh.., tidak perlu cemburu. Siapalah aku jika dibandingkan dengan Jerry. Jauh api dari panggang." Kata Lisa.
"Syukurlah sayang. Kau tau kalau aku sangat takut kehilanganmu. Oh ya. Pesan apa yang kau ingin agar aku sampaikan kepada Jerry?" Tanya Arslan.
"Sayang, tadi paman ku dari MegaTown menelepon menanyakan nomor ponsel Jerry. Tapi aku kan tidak punya. Dia hanya berpesan kepadaku agar meminta bantuan kepadamu untuk menyampaikan kepada Jerry bahwa saat ini Robin sedang berada di rumah tuan Abraham di MegaTown." Kata Lisa.
__ADS_1
Degh....!
"Robin? Baiklah sayang. Aku akan mengakhiri panggilan ini dulu. Ini sangat penting. Terimakasih sayang!" Kata Arslan buru-buru mengakhiri panggilan.
*********
Jerry saat itu sedang melamun sambil mengendarai mobilny. Saat ini dia tak habis fikir mengapa masalah selalu saja datang silih berganti. Jika bukan dari musuh, maka masalah akan datang dari keluarganya pula.
Saat Jerry sedang sangat jauh terbawa lamunannya, tiba-tiba ponsel nya berdering membuat lamunan tadi hancur berantakan.
"Kak Arslan." Gumam Jerry lalu menjawab panggilan itu.
"Ada apa Kak?" Tanya Jerry.
"Jerry. Tadi Lisa menelepon ku. Katanya dia mendapat pesan dari pamannya untuk disampaikan kepadamu." Kata Arslan.
"Pesan apa Kak?" Tanya Jerry.
"Lisa menitipkan pesan kepadaku. Katanya Robin berada di rumah tuan Abraham di MegaTown." Jawab Arslan.
Cetaaaaaar......!!!
Bagai tersambar petir. Mendadak Jerry menginjak Rem mobil milik Ryan yang dia pinjam ketika mendengar isi dari pesan yang disampaikan oleh Arslan tadi.
"Kau serius Kak? Tidak salah dengar?" Tanya Jerry.
"Sumpah. Apa yang aku dengar, itulah yang aku sampaikan." Kata Arslan.
"Kau bersiap-siap kak. Hubungi yang lainnya untuk menemuiku di Proyek kita yang berada di MegaTown. Tidak pakai lama!" Kata Jerry.
"Baik Jerry." Kaya Arslan lalu segera mengakhiri panggilan.
Selesai dengan obrolan telepon dengan Arslan, Jerry langsung mengirim pesan suara di Group Whatsapp.
"Kalian semua dengar baik-baik! Saat ini Robin masih berada di MegaTown."
"Tuan Syam. Siapkan anak-anak! Berangkat segera ke rumah tuan Abraham dan kepung rumah itu! Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan." Kata Jerry.
"Siap laksanakan Ketua!" Kata tuan Syam.
Tanpa cing-cong lagi, Jerry yang tadi dalam perjalanan untuk kembali ke Villa klasik langsung membanting stir mobilnya berbalik arah kemudian melesat dengan kecepatan tinggi kembali ke MegaTown.
Begitu dia tiba di kawasan rumah tuan Abraham, dia melihat sekeliling rumah itu sudah di kepung oleh anak buah tuan Syam yang ketika itu masih berada di kawasan yang tidak jauh dari hotel Mega. Di sana Jerry juga melihat ada Drako, Regan, Jeff, Austin, Herey, Black dan yang lainnya.
Ketika Jerry turun dari mobil, ponselnya mendadak berdering.
"Hallo Van!" Kata Jerry menjawab telepon yang datang dari Ivan Patrik.
"Jerry. Aku tidak ingin berlama-lama menelepon mu. Aku tau kau sudah mengetahui tempat ayah ku bersembunyi. Kak Arslan yang memberitahu kepadaku. Hanya satu pintaku. Jika kau ingin membunuh ayahku, maka bunuhlah tanpa menyiksa. Aku merelakan dan akan mengganti uang peluru mu." Kata Ivan lalu mengakhiri panggilan tanpa sempat Jerry menjawab.
Berdebar juga jantung Jerry mendengar pesan dari Ivan ini. Bagaimanapun dia faham seburuk-buruknya seorang ayah, dia tetaplah ayah kita.
Jerry hanya bisa mengelus dada dan menguatkan tekat lalu segera berjalan menghampiri pintu rumah tuan Abraham.
Praaaak.....!
Bruuuugh....?!
Tersengar suara pintu di tendang dengan pecahan kayu daun pintu yang berantakan dilanda kekuatan tendangan itu.
Dari luar kini tampak Jerry memasuki rumah tuan Abraham dengan mata merah.
Begitu melihat siapa yang datang dengan cara kasar tersebut, ketiga lelaki di dalam rumah yang duduk di sofa ruang tamu menjadi pucat pasi.
"Mau kemana lagi kau lari? Apa tidak lelah?" Tanya Jerry sambil menghampiri sofa tempat mereka duduk.
"Kau.., berani sekali kau datang kemari sendirian. Simon dan kau Efander... Seraaaang!" Teriak Robin.
__ADS_1
"Jangankan dua orang kunyuk seperti ini. 10 orang pun belum tentu aku kalah." Kata Jerry lalu tampa basa basi lagi langsung melayangkan jingkang nya menyambut serangan dari Simon.
Paaaagh...?!
Terdengar suara sepakan itu mendarat dengan telak di tengkuk Simon membuat lelaki itu terhuyung-huyung dan menggelongsor di lantai bergedebug bunyi nangka masak.
"Bangsat! Kau telah mencelakai sahabat ku. Kubunuh kau!" Kata Efander sambil mengeluarkan pistol.
Dor...!
Belum sempat Efander menggunakan senjatanya, satu peluru melesat dari arah pintu tepat menghantam batok kepalanya.
Kini di depan pintu tampak Herey berdiri sambil menurunkan senjatanya.
"Ampuni aku Jerry. Aku mengaku salah. Ampuni paman mu ini. Aku dulu adalah sahabat ayah mu. Ramendra lah yang membunuh ayah mu." Kata Robin sambil berlutut meminta pengampunan.
"Begitu kah?" Tanya Jerry.
"Jangan percaya dengan omongannya Jerry. Dia itu manusia berhati Iblis. Via ku mati dibunuh oleh iblis itu." Kata satu suara dari luar.
Tak lama kemudian tampak sepasang suami istri melangkah masuk kedalam ruang tamu rumah itu.
"Jika benar tuan muda Wilson adalah ayahmu, ketahuilah bahwa ayah mu di bunuh oleh bangsat ini dengan menyewa seorang tahanan hukuman mati di penjara. Dia menyuap seorang polisi dan memberi kompensasi kepada ahli waris tahanan hukuman mati itu sebanyak 10 juta untuk membunuh ayah mu. Dia kemudian memaksa pembunuh itu untuk bunuh diri dengan memakan pil racun yang dia berikan." Kata tuan Abraham membeberkan kejahatan Robin.
"Kau tau bahwa dia juga yang membunuh Via dengan membakar tubuh anak gadis ku itu." Kata tuan Abraham lagi.
"Ampun.., ampuni aku Jerry. Aku tidak akan melakukan kejahatan lagi. Tolonglah ampuni aku Jerry." Kata Robin semakin ketakutan.
"Beberapa waktu yang lalu kau mengatakan bahwa peluru yang menembak ayah ku tepat mengenai pelipis nya kan?" Tanya Jerry.
"Tolong jangan. Jangan bunuh aku. Tolong!"
"Abraham. Kau adalah bawahan ku. Mintakan pengampunan kepada Jerry untuk ku." Kata Robin semakin meratap.
"Di pelipis kan?" Tanya Jerry. Semakin dingin saja nada suara itu terdengar.
"Pistol!" Kata Jerry sambil menadahkan tangannya kearah Herey.
"Ini Ketua!" Kata Herey sambil membungkuk hormat memberikan pistol kepada Jerry.
"Tidak perlu banyak drama. Tidak perlu banyak kata-kata yang tidak perlu. Kau menyuruh pembunuh bayaran untuk membunuh ayahku. Sekarang aku akan menuntut balas."
"Di pelipis...!"
Dor.....!
"Di pelipis...!"
Dor...! Dor...!
Brugh.....! Terdengar suara tubuh jatuh ke lantai dengan kepala hancur. Darah mulai menggenangi lantai itu membuat suasana benar-benar menakutkan.
"Kalian bersihkan lantai ini! Angkat ketiga mayat itu dan buang kebawah jembatan MegaTown-Metro city. Jika yang satu lagi belum mati, segera bunuh saja!" Kata Jerry sambil melemparkan pistol kearah Herey yang dengan sigap langsung dia tangkap.
"Akhirnya doa ku terkabul melihat Robin yang membunuh putri ku mati mengenaskan didepan mata kepalaku sendiri." Kata nyonya Abraham sambil terduduk di lantai menangis bahagia.
"Paman dan Bibi. Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Masi ada urusan yang harus aku selesaikan. Sekali lagi Terimakasih karena telah membantu ku melacak keberadaan bangsat berhati iblis ini." Kata Jerry lalu melangkah santai ke luar.
"Cepat bereskan dan jangan lama-lama berada di tempat ini!" Kata Jerry lalu masuk ke mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi menuju Metro city.
"Ayo Syam. Hatiku puas sekarang. Akhirnya Robin mati juga. Tidak sia-sia pengorbananku membesarkan dan mendidik Jerry." Kata Drako sambil merangkul pundak tuan Syam.
"Kak Wilsoooon....! Kau tenanglah di sanaaaa! Dendam kematian mu sudah di bayar tuntas oleh putra mu. Beristirahat lah dengan tenang di sisi Tuhan. Semoga kelak kita bisa berkumpul di akhirat. Tapi jangan di neraka!" Kata Drako berteriak menengadahkan wajahnya ke langit.
"Hahaha. Persiapkan bekal mu dan beramal baik sebelum mati. Biar tidak masuk neraka!" Kata tuan Syam sambil tertawa.
Mereka berdua lalu tertawa terbahak-bahak sambil berjalan menuju mobil dan tancap gas meninggalkan rumah tuan Abraham di ikuti oleh anak buah mereka sambil menggotong mayat Robin, Efander dan Simon untuk di buang ke bawah jembatan penghubung Metro City-MegaTown.
__ADS_1