PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Jerry dipalak preman


__ADS_3

"Ayah, Tuan Syam?! Bagaimana kalian bisa sampai di sini?" Tanya Jerry kepada Drako dan Tuan Syam.


Bagi Jerry, jelas dia heran. Ini karena ketika dia berangkat dari Metro City, tidak ada seorang pun yang tau kemana dia akan menetap. Terlebih lagi, dia sengaja keliling dunia dulu untuk mengelabui kalau-kalau ada yang berusaha membuntutinya.


Sekarang ini, sudah sia-sia dia bersembunyi. Toh juga kedua orang tua ini sudah mengetahui keberadaannya.


"Kau tanya saja Syam ini. Dia menipu ku. Katanya kami akan pergi berlibur ke Miami. Ternyata, ketika kami sampai di Hillstreet, dia mengungsikan istrinya dan ibu mertua mu di sana. Lalu, dia mengajak aku kemari." Jawab Drako membuat Jerry kini mengalihkan perhatiannya kepada Tuan Syam.


"Loh mengapa jadi aku? Begini ketua. Aku hanya ingin menguji insting ku. Ternyata masih bagus. Hehehe... Jangan lupa apa profesi Tuan Syam. Jangankan Garden Hill ini. Lubang tikus pun bisa aku lacak."


Mendengar jawaban dari Tuan Syam ini membuat Jerry dan Clara hanya bisa saling pandang.


Tampak pasangan muda-mudi itu menghela nafas pasrah.


Mau bagaimana lagi. Sudah terjadi.


"Heh. Mengapa wajah kalian seperti itu. Kau harus tau! Bukan hanya kau saja yang butuh ketenangan. Kami yang tua ini juga butuh. Sekarang lah saat nya. Sebaiknya kalian pikirkan saja bagaimana caranya supaya aku cepat punya cucu." Kata Drako.


"Ayah. Jangan bicara seperti itu di tempat umum. Malu tau?!" Kata Clara sambil menyembunyikan wajahnya di balik punggung Jerry.


"Ayah, dan Tuan Syam. Apakah kalian sudah selesai makan? Tangan ku kram kelamaan memegangi nampan ini." Kata Jerry mengeluh.


"Oh... Kram ya. Dasar sontoloyo. Apakah kau sudah terlalu manja Jerry?" Bentak Drako.


"Em.. anu. Aku tidak manja. Hanya saja...,"


"Hanya saja apa? Kau jangan terlalu santai. Kedatangan kami kemari justru untuk melatih fisik mu sekali lagi. Kau juga harus memperdalam apa yang diajarkan oleh Paman Malik kepada mu. Awas kau. Musuh mu saat ini sedang menargetkan teman-teman mu di Starhill dan Metro city." Kata Drako.


Jerry terus saja mendapat omelan dari Tuan Syam dan Drako.


Omelan itu pun berhenti ketika kafe milik Jerry yang baru di buka itu didatangi oleh lebih dari sepuluh orang preman sambil membawa senjata.


"Heh... Siapa pemilik kafe ini hah?"


Melihat kelompok yang sudah tidak asing lagi bagi mereka yang memang penduduk tetap di Garden Hill ini, membuat para pengunjung panik dan satu per satu melarikan diri.


"Saya. Saya adalah pemilik kafe ini. Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Tanya Jerry sambil terbungkuk.

__ADS_1


"Perkenalkan. Kami adalah kelompok gengster di kampung ini. Seluruh wilayah Garden Hill ini adalah kekuasaan kami." Kata ketua dari kelompok preman itu.


"Maaf Tuan. Saya tidak tau sebelumnya. Lalu, apa yang bisa saya lakukan untuk anda?" Tanya Jerry berlagak takut.


"Siapa nama mu kawan?" Tanya ketua kelompok preman itu.


"Oh. Nama saya adalah Jerry Yosep Tuan"


"Hmmm... Aku tadi sempat ketakutan karena mengira bahwa nama mu adalah Jerry William. Ternyata Jerry Yosep. Hahahaha. Tapi aku perhatikan kalau wajah mu seperti pernah aku lihat di televisi." Kata ketua preman itu lagi.


"Ah. Mungkin anda salah orang Tuan. Tolong katakan apa yang bisa saya lakukan untuk anda?" Tanya Jerry sekali lagi.


"Ketahuilah saudara Jerry Yosep. Kami adalah penjaga keamanan di Garden Hill ini. Setiap orang yang membuka usaha di sini, harus membayar upeti kepada kami. Itu tidak terkecuali anda. Jadi, mulai hari ini, anda harus membayar kepada kami uang keamanan sebesar dua ratus Dollar per bulan. Mengerti?" Tanya ketua preman itu.


"Saya mengerti Tuan. Kalau begitu anda tunggu sebentar. Saya akan mengambilkan uang nya."


"Hmmm... Bagus!"


Sambil tersenyum ke arah Tuan Syam dan Drako, Jerry pun akhirnya melangkah menuju meja kasir dan mengambil empat lembar uang lima puluhan dan dengan hormat menyerahkannya kepada ketua preman itu.


"Ini uang keamanannya Tuan." Kata Jerry.


"Baik Tuan Gilberto. Lain kali jika ingin makan, jangan sungkan untuk singgah ke kafe saya ini." Kata Jerry dengan sopan.


"Ayo kita tinggalkan kafe ini!" Kata Gilberto mengajak anak buahnya untuk pergi.


"Hahahaha... Seorang Tuan muda yang kaya raya. Seorang ketua Dragon empire dan Tiger ternyata bisa juga di palak. Sungguh adegan yang sangat lucu." Kata Tuan Syam sambil memegangi perutnya menahan tawa.


"Benar katamu Syam. Jerry sudah berubah sekarang. Dia menjadi pria yang toleran dan lemah lembut." Timpal Drako yang juga ikut-ikutan tertawa.


"Aku justru takut kalau orang tadi sempat mengenali wajah ku ini. Akan menjadi masalah besar jika sampai mereka tau kalau aku adalah Jerry William." Kata Jerry sambil menarik nafas lega.


"Jerry. Besok pagi-pagi sekali kami akan berangkat ke Hillstreet untuk menjemput ibu mertua mu dan juga istri Tuan Syam. Kami mungkin akan berada di sini untuk istirahat dan menenangkan pikiran. Kami ini sudah terlalu lelah dengan kekerasan dunia hitam. Waktunya kami istirahat sambil menunggu kehadiran cucu. Bukan begitu Syam?"


"Benar. Kami sudah lelah. Aku rasa tidak mungkin lagi kami kembali ke Metro city. Organisasi Tiger sudah kau titipkan kepada Herey dan Black. Sedangkan Dragon empire sekarang berada dalam kepemimpinan Arslan. Waktunya tidur nyenyak, sarapan teratur dan menghirup udara segar. Apa kau keberatan Jerry?" Tanya Tuan Syam sambil menguatkan apa yang disampaikan oleh Drako tadi.


"Tidak tidak tidak. Sama sekali aku tidak keberatan. Rumah kami besar. Memiliki sayap di sisi kiri dan kanan. Aku dan Clara tinggal di ruang tengah, sayap kiri ditempati oleh Tuan Syam, sedangkan sayap kanan bisa ditempati oleh Ayah dan ibu mertua." Kata Jerry.

__ADS_1


"Bagaimana Syam?" Tanya Drako.


"Aku setuju." Jawab Tuan Syam.


"Bagus. Sekarang ayo kita pulang." Ajak Drako.


"Sebentar Ayah. Kami harus beres-beres dulu sebelum pulang."


"Ayo kami bantu." Kata Drako bersemangat.


Mereka berempat lalu pergi ke bagian belakang untuk beres-beres.


Bagi orang yang baru kenal, mungkin itu pemandangan biasa. Namun bagi Jerry, dia setengah mati menahan tawa. Bagaimana tidak? Dua orang yang di kenal sebagai naga dan harimau nya Metro city itu sedang sibuk membantu Clara mencuci piring, gelas dan lain sebagainya. Sungguh pemandangan yang sangat langka.


"Sudah beres semua. Ayo kita pulang!" Ajak Drako.


"Ayah, Tuan Syam! Coba kalian berkaca. Aku lihat kalian hanya membantu ku mencuci piring. Tapi mengapa bisa sabun naik ke atas rambut?" Tanya Clara sambil menahan tawa.


"Hah? Ah yang benar saja. Apa iya Syam?" Tanya Drako.


"Bukan hanya rambut. Kumis mu juga ada buih sabun." Kata Syam tertawa.


"Ah kau sama juga. Kau mungkin lebih parah." Kata Drako sambil melangkah mendekati cermin.


"Hahaha... Lihatlah kita. Sama sekali tidak berbakat untuk menjadi pelayan."


"Terlalu lama berkecimpung di dunia hitam. Ini adalah sesuatu yang baru. Alu merasakan keindahan hidup. Ternyata hidup itu banyak warnanya ya." Kata Tuan Syam.


"Benar kata mu. Hidup itu akan berwarna jika kita mau mencoba hal-hal yang baru."


"Hidup kita, kita sendiri yang mewarnainya. Itu sebabnya mengapa aku tidak ingin ada orang lain yang menguasai kehidupan ku. Aku adalah kapten untuk diriku sendiri dan sekarang aku juga adalah kapten untuk diri Clara." Kata Jerry dengan bangga.


"Terimakasih sayaaaang..." Kata Clara manja.


"Terimakasih juga karena kau telah mempercayai ku. Terimakasih karena telah menggantungkan masa depan mu di pundak ku. Aku akan selalu menjaga mu."


"Aaaah... Drama lagi drama lagi. Muak aku. Kapan kita pulang kalau begini terus?" Omel Drako yang terkenal tidak sabaran.

__ADS_1


"Ya sudah. Ayo kita pulang!" Kata Jerry.


Mereka berempat pun pulang dengan berjalan kaki. Hal ini mereka lakukan karena sepeda motor butut Jerry tidak akan kuat menampung beban tubuh Drako dan Tuan Syam yang tegap tinggi itu. Bisa ambrol tuh sepeda motor.


__ADS_2