PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Taubat sambal


__ADS_3

Villa Patrik bukit Metro


Metro City


Saat ini di dalam Villa tepatnya di salah satu kamar di lantai dua Villa itu, seorang lelaki setengah baya sedang mengoleskan sesuatu di beberapa bagian tubuh nya yang memar seperti bekas pukulan. Tampak beberapa bagian di tubuh lelaki setengah baya itu membengkak sedikit kebiruan.


Sambil meringis menahan kesakitan, lelaki setengah baya itu tetap mengoleskan sejenis salab krim dan memijit-mijit bekas memar itu acar peredaran darahnya lancar dengan sesekali mengaduh kesakitan.


Jelas tampak bara dendam yang terpancar di mata lelaki setengah baya itu setiap kali dia merasakan kesakitan dari luka lebam di tubuhnya itu.


Sambil terbatuk-batuk lelaki setengah baya itu bangkit dari sofa dan menyimpan obat-obatan tadi di atas meja kecil di samping lemari.


"Belum pernah seorang Robin Patrik diperlakukan seperti ini seumur hidupku." Kata lelaki setengah baya itu dalam hati.


"Dimana Robin Patrik yang dulu? Robin Patrik yang di takuti, di segani dan di hormati baik kawan dan lawan?"


"Ini semua karena anak Wilson ini. Menyesal dulu aku tidak turun tangan sendiri memburu anak ini. Sekarang semua serba terlambat. Namun jika aku terus-terusan seperti ini, dunia akan mentertawaiku. Aku paling benci dengan penghinaan yang belum pernah aku rasakan di sepanjang hidupku."


Lelaki setengah baya itu terus saja mengomel dalam hatinya sambil berbaring dengan nafas tersengal-sengal. Ini adalah akibat dadanya ditumbuk dengan sangat keras oleh Jerry William yang datang mengamuk di Villa tempat tinggalnya kemarin siang.


"Apa yang harus aku lakukan untuk membalikkan keadaan?" Kata lelaki setengah baya itu lagi sambil mengurut-urut kening nya.


"Surat wasiat itu. Ya di mana orang tua itu menyimpan surat wasiat itu? Jika aku bisa menemukan surat itu, maka aku bisa mengubah nama dalam surat itu. Tapi bagaimana mungkin orang tua bau tanah itu mau memberikan surat itu kepada ku? Huh.., aku harus mencari cara lain."


"Aku harus mencari bantuan. Bantuan.., bantuan..., siapa yang dapat membantu ku? Keluarga sampah Regnar sama sekali tidak bisa di andalkan lagi."


Lelaki setengah baya itu terus saja memutar otak dan menemukan solusi yang mungkin bisa membantunya untuk membalas Jerry William ini.


"Syntia. Yah itu adalah Syntia. Biarlah aku pasang muka badak ku ini untuk mengelabuinya. Aku harus berpura-pura meminta maaf. Hahahaha... Robin masih memiliki segudang akal bulus untuk mengelabui wanita sialan yang seperti mayat hidup di atas kasur itu. Hahaha.. Aku akan menelepon bangkai bernyawa itu." Kata lelaki itu dalam hati sambil mengeluarkan ponsel nya.


"Sambil menyelam, minum air. Jika aku berhasil meyakinkan bangkai bernyawa ini, selain aku bisa meminjam kekuatan adik nya untuk membalas anak Wilson ini, aku juga akan selamat dari incaran orang-orang yang di kirim Fardy untuk membunuh ku. Huh... Aku harus berhasil meyakinkan mantan istri bangkai bernyawa ini." Kata lelaki itu lagi sambil tersenyum jahat dan mulai menekan tombol ON pada ponsel nya.


Begitu ponsel telah di aktifkan, lelaki setengah baya itu menunggu sejenak sambil berfikir sekali lagi tentang rencananya ini.


"Ah.., masa bodo lah. Yang penting aku bisa membalas anak Wilson ini." Fikirnya lagi dalam hati lalu mulai mencari nomor Syntia dan menekan tombol panggil.


*********

__ADS_1


MegaTown.


Saat ini di Villa milik mendiang Ramendra di MegaTown, seorang wanita setengah baya sedang duduk di sofa sambil mengetuk-ngetukkan ujung tongkat pendek sepanjang lebih dua jengkal berkepala harimau itu di atas meja.


Mata merah wanita setengah baya itu jauh memandang dengan tatapan kosong. Dari tatapan itu tampak beribu beban perasaan yang berat sedang menimpa dirinya.


"Sudah dua hari ini J2 mengintai Villa Patrik di Metro city. Tapi masih juga belum menemukan keberadaan Robin. kemana lelaki pengecut ini sebenarnya?" Fikir wanita itu dalam hati.


"Apakah dia sudah mati? Ah mustahil. Hanya orang-orang dari keluarga William yang menaruh dendam kepada Robin ini dan itu pun sudah mati. Bagaimana mungkin anak Wilson yang telah mati bisa bangkit kembali lalu membalas dendam?! Robin ini pasti bersembunyi di suatu tempat. Huh... dasar lelaki pengecut." Kata wanita itu lagi dalam hati.


Tidak seberapa lama setelah wanita itu berbicara sendiri di dalam hatinya, tiba-tiba ponsel yang terletak di atas meja itu berdering membuat lamunannya pun seketika buyar entah kemana.


Dengan sedikit bermalas-malasan, wanita setengah baya itu menjengukkan kepalanya untuk melihat ke arah layar ponsel dan terkejut setengah mati ketika dia mengetahui siapa yang menelepon ke ponsel nya.


"Robin?!" Katanya lalu segera meraih ponsel tersebut den mengusap layar untuk menjawab panggilan tersebut.


"Hallo Robin. Kau menelepon ku hah lelaki pengecut?" Kata wanita itu.


"Syntia. Apakah kau sangat membenci ku?" Tanya seseorang di seberang sana yang ternyata adalah Robin itu.


"Kau adalah lelaki bangsat yang sangat pengecut. Masih punya wajah kau menelpon ku heh?!" Tanya wanita bernama Syntia itu dengan sengit.


"Hentikan omong kosong murahanmu itu Robin! Kau tidak layak untuk mengatakan itu kepada ku setelah kau meninggalkan aku dalam keadaan susah payah begini. Katakan untuk apa kau menghubungi ku lagi?"


"Dengarkan dulu penjelasan ku sayang. Aku sengaja meninggalkan Villa Ramendra hanya karena ingin mengelabui ayah ku. Aku bermaksud ingin meminta bantuan sekaligus memata-matai apa yang sebenarnya terjadi di keluarga William." Kata Robin mulai memasukkan jarum beracun nya.


"Kau bayangkan saja sayang! Kebangkrutan mendiang ayah mertua itu adalah karena dia tidak mau mendengarkan nasehat dariku. Tapi ya sudah lah. Itu sudah terjadi. Sekarang aku akan mengatakan mengapa aku melarikan diri waktu itu?!"


"Itu karena kepengecutanmu!" Potong Syntia dengan kemarahan yang memuncak.


"Bukan karena aku pengecut. Tapi aku menggunakan otak ku untuk bertahan. Untuk membalas kekalahan kita di tangan anak-anak buah Jerry. Kau tau andai aku dan ayah mertua mati secara bersamaan ketika itu, lalu apa yang bisa kau dapatkan?" Tanya Robin.


Ketika dia tidak mendapat jawaban dari Syntia, Robin pun mulai bersemangat dan melanjutkan. "Jika kami berdua sama-sama bunuh diri atau sama-sama meringkuk di dalam penjara, itu sama saja dengan membiarkan musuh kita menang dengan kemenangan berlipat ganda. Ketahuilah sayang! Aku melarikan diri karena ingin menyusun kembali kekuatan dan aku juga mengincar surat wasiat dari ayah ku. tapi kau tau sendiri bahwa ayah ku tidak akan memberikan surat wasiat itu secara cuma-cuma. Itu sebabnya aku menghubungi dirimu."


"Bayangkan saja andai aku berhasil mendapatkan surat itu, kau juga akan hidup senang karena seluruh aset milik keluarga Patrik akan jatuh ke tangan ku. Bukan begitu?" Tanya Robin kepada mantan istrinya tersebut.


"Lalu apakah kau mendapatkan surat wasiat itu?" Tanya Syntia ingin tau.

__ADS_1


"Tidak. Orang tua itu terlalu pintar. Oleh karena itu lah aku menghubungi dirimu meminta agar kau berpura-pura menculikku. Kemudian aku akan mengatakan bahwa Jerry William lah yang telah menculikku dan menginginkan tebusan berupa surat wasiat itu." Kata Robin semakin yakin bahwa kali ini bius yang dia sertakan dalam obrolan itu telah membuai diri Syntia.


"Apa kau gila? Bagaimana orang yang sudah mati bisa menculik dirimu dan meminta pertukaran antara kau dan surat wasiat itu?" Kata Syntia yang mengira bahwa Robin terlalu mengada-ada.


"Itu lah keuntungan yang kita dapat karena aku melarikan diri. Dengan begitu aku dapat mengetahui semua yang terjadi di Metro city termasuk kepulangan Jerry. Kau harus tau bahwa Jerry William belum mati. Dia masih hidup dan saat ini sedang berusaha untuk melindungi kedua sahabatnya Ryan dan Daniel dari kemungkinan menjadi sasaran dendam adik ipar." Kata Robin.


Cetaaaar....?!


Bagai petir di terik mentari.


Syntia ssangat terkejut mendengar pernyataan dari Robin bahwa Jerry William masih hidup.


"Kau serius Robin? Bagaimana kau bisa tahu bahwa Jerry ini masih hidup?" Tanya Syntia seakan tidak percaya.


"Aku menyaksikan dengan mata kepala ku sendiri, sayangku. Dia bahkan ingin membunuh ku untuk membalas dendam atas kematian ayah nya. Beruntung bagiku karena Ivan, anak haram yang bodoh itu menyelamatkan nyawaku dari amukan anak Wilson itu. Sampai saat ini aku masih terasa sakit di sekujur tubuh ku akibat di hajar oleh Jerry ini." Kata Robin sambil berpura-pura terbatuk-batuk.


"Celaka kalau begini. Jadi bagaimana ini?" Tanya Syntia.


"Nak kena kau kan wanita bangkai bernyawa." Kata Robin dalam hati.


"Kau harus menghubungi adik mu Fardy dan katakan kepadanya untuk berhenti memburu diriku. Walau bagaimanapun aku mengetahui sesuatu yang tidak kalian ketahui. Aku juga masih memiliki strategi untuk melemahkan lawan kita ini. Kita bisa bekerja sama karena hanya aku yang faham dan pernah bentrok secara langsung dengan anak muda itu. Aku berbeda dengan adik mu. Walaupun dia memiliki kekuatan, namun dia tidak memiliki pengetahuan yang luas tentang musuh. Itu percuma saja." Kata Robin dengan bersemangat.


Wajar saja jika dia bersemangat. Ini karena akal bulus nan licik telah hampir berhasil memperdayai Syntia. Benar-benar sambil menyelam minum air.


"Darimana kau tau bahwa adikku mengincar mu Robin?" Tanya Syntia berpura-pura memancing.


"Apakah kau sengaja menguji ku sayang? Lalu siapa kedua orang asing berkulit kuning bermata sipit yang sering mengintai Villa ku dari taman sana? Sudah pasti itu adalah orang China suruhan Fardy karena Fardy ini lama di Hongkong, sudah pasti para anak buah nya berasal dari negara itu." Kata Robin dengan mantap. Padahal segala yang dia ketahui adalah berkat informasi yang dia terima dari Ivan dan Ivan mengetahui semuanya dari Jerry atas kabar yang dia dapat dari anak buah tuan Syam.


"Baiklah. Aku akan menarik mereka untuk kembali ke MegaTown. Lalu apa rencana mu selanjutnya?" Tanya Syntia.


"Seperti yang aku katakan tadi. kau harus berpura-pura menculik ku dan membunuh orang tua bau bangkai di Villa ini. Dengan begitu hanya ada anak haram itu saja yang tersisa. Akan sangat muda mengelabui dirinya. Dia pasti mau menukar keselamatan ku dengan surat wasiat itu. Lalu suruh dia menandatangani peralihan saham secara gratis kepada kita. Apakah itu tidak menguntungkan bagi kita?" Tanya Robin masih melalui panggilan telepon. Dia mengira bahwa dia sangat pandai mengecoh dan ingin menimpakan semua kesalahan itu kepada Jerry. Tapi satu yang dia tidak tau bahwa anak buah tuan Syam secara bergilir selama 24 jam terus memantau seluruh pergerakan di sekitar Villa Patrik ini siang dan malam.


"Baik lah. Kau tunggu di sana. Aku akan mendiskusikan semua ini dengan adikku. Ketika dia setuju, aku akan mengirim Simon dan Efander untuk menyerbu Villa Patrik dan berpura-pura menculik mu sebelum membunuh Aaron tua bangka bau tanah itu. Jangan lagi matikan ponsel mu seperti beberapa hari ini. Ini semua agar aku dapat menghubungi mu dengan mudah." Kata Syntia.


"Baik sayangku,. Mmuuuuaaah. Kau lah wanita pujaan dalam hidup ku." Kata Robin membuat Syntia yang mendengarkan itu menjadi terbang sejenak ke angkasa.


Setelah panggilan telepon itu berakhir, Robin saat ini berada di dalam kamarnya menari-nari riang dan melupakan sejenak rasa sakit di sekujur tubuh nya akibat di hajar oleh Jerry kemarin.

__ADS_1


"Hahaha.., tidak susah bagi Robin untuk membujuk singa betina. Apa lagi hanya sosok wanita bangkai bernyawa." Katanya sambil berjoget senang.


__ADS_2