
Subuh-subuh sekali sepasang muda-mudi yang baru saja turun dari helikopter seperti tergesa-gesa menuju ke mobil dan langsung berangkat dengan kelajuan tinggi seperti di kejar setan menuju bukit Metro.
Mobil yang di kendarai oleh pemuda dan seorang gadis itu tadi langsung berhenti sesampainya di depan sebuah bangunan Villa yang megah dan tanpa basa-basi langsung menekan klakson mengejutkan beberapa pengawal yang memang bertugas sebagai penjaga keamanan di bangunan yang terkenal dikalangan para elit itu sebagai Villa Patrik.
"Cepat buka pagar ini. Apa kalian tidak mengenal ku?" Tanya pemuda itu seperti tidak sabaran.
Begitu salah satu dari pengawal itu melihat siapa yang berteriak, mereka langsung membuka pagar guna memberi jalan agar kendaraan yang di kendarai oleh sepasang muda-mudi tadi untuk masuk.
Setelah mendapat jalan dan memarkir mobil dengan benar, pemuda itu keluar dan setengah berlari membukakan pintu untuk pasangannya agar juga turut keluar dari mobil.
Dengan agak buru-buru pemuda itu bertanya kepada para pengawal tentang apakah ada kejadian di Villa itu selama dia pergi.
Pengawal itu hanya menjawab bahwa tidak ada kejadian apa pun yang terjadi di Villa itu.
Keterangan dari sang pengawal setidaknya membuat lega di hati pemuda itu dan bergegas menuju pintu bersama gadis pasangannya dan membuka pintu bangunan megah itu dengan kunci yang dia miliki.
"Ayo Lorna. Kau butuh istirahat. Nanti setelah terang, aku akan mengantarmu ke Villa Walker." Kata pemuda itu mempersilahkan gadis cantik itu untuk masuk agar segera beristirahat.
"Ada apa berisik-berisik di luar itu?" Tanya seorang lelaki tua yang tampak baru bangun dari tidurnya.
"Oh itu kau Van. Kapan kau pulang dan mengapa dini hari seperti ini?" Tanya lelaki tua itu lagi begitu dia melihat sepasang muda-mudi yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Aku sengaja pulang lebih awal Kek. Ini karena Jerry mendapat panggilan telepon dari tuan Syam mengatakan bahwa Villa kita disatroni oleh beberapa orang yang sengaja di utus dari MegaTown." Kata pemuda yang ternyata adalah Ivan Patrik tersebut.
"Disatroni oleh orang-orang dari MegaTown? Sudah ku duga. Pasti Fardy sudah bergerak untuk memburu ayah mu. Hmmmm..." Kata lelaki tua itu sambil mendengus.
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa secepat ini sampai di Metro city?" Tanya lelaki tua itu lagi.
"Jerry yang mengatur keberangkatan ku. Dia meminjamkan helikopter dari mountain lotus dan langsung bergerak menuju ke bukit Metro ini Kek." Kata Ivan menjelaskan.
"Sudah. Kalian istirahat lah dulu! Nanti kita akan membahas masalah ini lagi." Kata lelaki tua itu sambil menguap dan memutar badan kembali memasuki kamar milik nya.
*********
Matahari pagi itu mulai menyingsing menampakkan diri di garis edar nya bagi menerangi alam jagat ini.
Di ujung jalan tampak sebuah mobil meluncur tenang dan berbelok memasuki halaman Villa Patrik.
Itu adalah mobil yang di kendarai oleh Ivan yang baru saja kembali dari mengantar Lorna ke Villa Walker.
Ketika pemuda itu memasuki Villa, dia melihat seorang lelaki tua ditemani oleh lelaki setengah baya sedang duduk dengan wajah tegang menyambut kedatangan Ivan.
"Sudah Ayah." Kata Ivan sambil meraih tangan lelaki setengah baya itu lalu mencium nya kemudian beralih ke tangan lelaki tua itu.
"Cucu ku yang baik.., coba kau ceritakan yang telah kau ketahui dari Jerry William itu!" Pinta lelaki tua yang adalah tuan besar Aaron Patrik adanya.
"Disaat kami berada di hotel teratai, Jerry yang sedang bersama dengan kami mendapat panggilan dari tuan Syam. Dia mengatakan ada sepasang muda-mudi yang bukan warga negara ini sedang mengintai Villa kita ini. Atas inisiatif dari tuan Syam, beliau telah memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki dan ternyata, mereka ini datang dari Hongkong atas perintah dari Fardy dengan tujuan menargetkan untuk membunuh Ayah." Kata Ivan lalu menceritakan semua yang dia ketahui dari Jerry semalam.
Mendengar penuturan dari Ivan Patrik barusan, lelaki setengah baya itu mendadak ketakutan dan berteriak histeris. " Tidak. Aku tidak ingin mati di tangan Fardy bangsat ini sebelum aku bertemu dengan anak Wilson itu."
"Ivan. Kau harus mengatur aku untuk bertemu dan meminta maaf atas semua kesalahan yang telah aku perbuat kepada anak Wilson. Mungkin dengan begitu dia akan sudi untuk membantu ku agar terhindar dari ancaman ini." Kata lelaki setengah baya itu dengan panik.
__ADS_1
"Kau ini benar-benar tidak tahu malu Robin. Dulu kau begitu gagah dan bangga. Kemana nyali jahat mu selama ini? Mengapa tiba-tiba nyali mu seperti ayam sayur?" Tanya tuan besar Aaron Patrik.
"Apa lagi yang aku miliki, Ayah? Aku sudah tidak memiliki kekuatan lagi. Bagaimana aku untuk melindungi diriku dengan keadaan seperti ini?" Tanya Robin.
"Jerry mungkin akan kembali besok ke Metro city. Dia saat ini sedang mengurus beberapa proyeknya di Hillstreet dan Country home." Kata Ivan sambil menenangkan ayah nya yang sangat resah itu.
"Lipat gandakan penjagaan di Villa kita ini Van. Kau atur orang-orang kita. Tarik semua yang berada di lokasi lain untuk berkumpul di sini. Bagaimanapun hebatnya dua orang urusan Fardy ini, mereka pasti tidak akan mampu menghadapi ratusan orang sekaligus." Kata tuan besar Aaron Patrik.
"Segera akan saya laksanakan Kek." Kata Ivan lalu berjalan menuju sebuah meja kecil di mana di atasnya terdapat pesawat telepon.
Setelah beberapa lama melakukan panggilan, Ivan segera kembali lagibke tempat duduk nya dan berkata, "Mereka akan berangkat hari ini juga ke Metro city Kek." Kata Ivan.
"Bagus. Dengan begini aku bisa sedikit lebih tenang. ini karena kita tidak bisa menggantungkan keselamatan kita kepada orang lain. Apa lagi orang tersebut telah berbuat terlalu banyak kepada keluarga ini." Kata tuan besar Aaron Patrik.
"Ayah. Sebaiknya Ayah jangan kemana-mana dulu. Aku takut jika mereka melihat Ayah, mereka akan melakukan penyerangan di Villa kita ini. Jika itu terjadi, maka pertumpahan darah pasti akan terjadi lagi tanpa bisa dihindari." Kata Ivan memperingati Robin.
"Ya. Aku tau itu. Maafkan ayah mu ini yang telah membebani dirimu." Kata Robin sambil menatap wajah Ivan dengan perasaan terharu.
"Itu sudah menjadi tugas ku sebagai seorang anak. Ayah tidak perlu merasa berhutang apapun kepada ku." Kata Ivan.
"Kakek. Aku akan keluar dan memantau Villa ini dari luar sana. Mungkin aku akan ke Condominium ku. Jika kita bertiga berkurung di dalam Villa ini, maka kita akan buta terhadap apa yang terjadi di luar sana." Kata Ivan.
"Pergilah. Jangan lupa untuk memberitahu kepada ku apa saja yang kau temukan di luar sana." Kata tuan besar Aaron Patrik berpesan.
"Baik Kek." Kata Ivan lalu menyalami kedua kakek dan ayah nya, membungkuk dan segera berlalu meninggalkan Villa itu sambil memperhatikan keadaan di sekitarnya.
__ADS_1
"Hmmmm.., tampak sangat tenang. Namun aku dapat merasakan hawa kematian yang mengintai dari segala sisi. Ketenangan ini seperti boom waktu yang bisa meledak kapan saja." Kata Ivan bergumam kepada dirinya sendiri.