
Helikopter yang membawa Jerry dan rombongan telah mendarat di depan kantor besar lokasi proyek Country home.
Kemudian helikopter yang membawa Ronald dan yang lainnya juga sampai, dan belum lagi helikopter tersebut mendarat dengan sempurna, mereka mulai berlompatan keluar dan terus lari menyusul Jerry yang saat ini telah memasuki mobil.
Arslan juga telah siap untuk membawa Jerry menujuke kantor Arsend karena dia sangat familiar dengan seluk beluk kantor Arsend tersebut.
"Cepat lah! Kita sudah tidak punya waktu lagi!" Kata Jerry tidak sabaran.
Tanpa menunggu yang lainnya memasuki mobil masing-masing, Arslan langsung tancap gas membuat mobil itu menghambur seperti panah lepas dari busurnya.
Dalam perjalanan tersebut Jerry masih sempat mengirim pesan kepada Drako yang berada di Metro city.
"Ayah.., saat ini aku sudah berada di Country home. Segera bawa anak buah mu dan serbu Villa Patrik!" Kata Jerry mengirim pesan suara.
Tak lupa Jerry juga mengirim pesan suara kepada Ivan agar bersiap sedia untuk membebaskan tuan Aaron yang di sekap oleh Robin di ruang bawah tanah Villa Patrik.
"Jerry.., anak buah ku mengatakan bahwa Robin telah berangkat menggunakan helikopter ke Country home. Kau berhati-hatilah di sana. Aku bisa membereskan sisa anak buah Robin yang berada di sini." Kata Drako.
"Hancurkan mereka tanpa sisa Ayah! Aku tidak ingin ada satu orang pun yang tersisa. Ayah telah mengenal Ivan, bantu dia untuk membebaskan tuan Aaron bersama kepala pelayan James!" Kata Jerry lalu segera memasukkan ponsel nya ke dalam saku.
...*...
Kita kembali ke arena sabung bawah tanah di kantor peminjaman uang berbunga Arsend.
"Ting.., ting.., ting..!"
Terdengar suara lonceng di pukul menandakan masuknya babak ke dua pertarungan antara Riko melawan Hyden.
Tampak kedua petarung itu kini sudah saling berhadap-hadapan untuk memulai saling pukul.
Kelihatan dari raut wajah Hyden saat ini bahwa dia mulai berani dan percaya diri.
Detik pertama Hyden langsung berinisiatif mengawali serangan jarak jauh dengan mengirim tendangan dan pukulan mengarah ke wajah Riko.
Riko yang menang pengalaman langsung menghindar dan mulai membalas menyerang dengan menangkap kaki Hyden yang mengarah kebagian kepala nya.
"Agh..."
Tampak Riko merasa kesakitan padahal Hyden hanya sedikit saja menarik kaki nya dan mengirimkan tendangan susulan yang di tangkis oleh Riko.
Tendangan susulan ini lah yang membuat Riko seakan tak percaya dengan apa yang dia rasakan.
Riko berusaha untuk mengirim serangan balasan. Tapi yang sangat mengherankan adalah serangannya terasa begitu lambat dan bobot pukulan itu pun terasa sangat lemah.
"Apa yang terjadi? Ada apa dengan kecepatan dan tenaga ku?" Kata Riko dalam hati.
Hyden kini benar-benar di atas angin. Dia terus mengirim tendangan dan pukulan membuat Riko semakin terpojok.
Tepat ketika detik-detik terakhir di ronde ke 2 itu, Hyden berhasil mengirim tendangan keras ke arah kepala Riko membuat Riko terhuyung dan ambruk di kanvas ring.
"Ayo bangun orang kampung! Mana mulut besar mu tadi?" Kata Hyden sambil mencibir.
"Kau.." Hanya itu yang keluar dari mulut Riko.
Riko tetap berusaha untuk bangkit dengan bersusah payah.
Tepat ketika dia sudah bersiap, lonceng pun berbunyi menandakan ronde ke dua telah berakhir.
"Riko.., apa kau baik-baik saja?" Tanya Ramos.
"Ada dengan ku Pak? Mengapa aku seperti tidak bertenaga?" Tanya Riko dengan heran.
"Maafkan aku Riko!" Kata Ramos sambil menyeka wajah Riko yang berlumuran darah.
"Apa maksud mu Pak Ramos?" Tanya Riko yang tidak mengerti.
__ADS_1
Ramos pun lalu menceritakan semua kejadian dan segala rencana Sendiego dan Robin yang menjebak Riko.
Dia juga menceritakan bahwa keluarganya telah di sandra oleh anak buah Sendiego dan memaksa dirinya untuk berkhianat.
"Menyerah lah Riko! Masih ada waktu." Kata Ramos yang tidak tega melihat Riko sudah babak belur.
"Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidup Riko, Pak. Aku lebih baik mati daripada menyerah." Kata Riko tetap tidak mau mengakui kekalahannya.
"Aku tidak tau lagi harus berkata apa pada mu Riko." Kata Ramos pasrah.
"Ting.., ting.., ting...!"
Lonceng tanda ronde ke tiga sudah di mulai.
Kini dengan susah payah Riko bangkit dari kursinya dan segera berjalan ke tengah ring.
Melihat Riko sudah siap, Hyden tidak menunggu waktu lagi. Dia langsung meluruk ke arah Riko dan langsung mengirim pukulan bertubi-tubi membuat Riko jatuh terbanting di kanvas ring.
Sedikit pun Hyden tidak memberi kesempatan kepada Riko sampai akhirnya satu tendangan telak menghantam kepala Riko membuat semuanya terasa gelap.
Riko ambruk tersungkur mencium lantai ring dengan darah tampak keluar dari hidung dan telinga nya.
Semua yang ada di tempat itu seakan tidak percaya melihat Riko di pecundangi dengan sangat mudah oleh Hyden.
"Rikoooo...!"
Terdengar satu suara berteriak membuat semua yang ada di ruangan itu memandang ke arah suara tadi.
Tampak dua orang pemuda laksana terbang memanjat octagon ditengah-tengah ruangan itu.
"Kak.., bawa Riko dari sini cepat! Selamat kan dia! Larikan ke rumah sakit!!!" Kata pemuda yang baru saja naik ke atas ring tersebut.
"Siapa kalian ini? Berani sekali mengganggu kesenangan ku." Tanya Hyden dengan heran.
"Kau tunggu lah bangsat! Aku akan mencabut nyawa mu sebentar lagi." Teriak pemuda itu.
"Baik Arslan." Kata Ramos.
"Tidak ada yang boleh membawa Riko dari ruang bawah tanah ini. Atau kalian berdua akan mati." Kata Sendiego dengan marah. Dia berbicara dari atas panggung sedikit lebih tinggi letaknya di banding dengan kursi yang lain.
"Bagaimana ini Jerry?" Tanya Arslan.
Pemuda yang di panggil Jerry tersebut langsung berteriak dengan marah. "Masuk dan serang bangsat-bangsat ini. Satu pun jangan biarkan hidup!"
Setelah itu kini dari pintu masuk berlompatan orang-orang berbadan besar dan langsung menyerang anak buah Robin dan Sendiego.
Seketika pertarungan itu pecah membuat orang-orang yang melakukan taruhan berhamburan menyelamatkan diri dengan cara duduk di sudut ruangan dengan tangan terlipat di belakang kepala.
Dalam kecamuk perkelahian itu tampak Ramos dan Arslan berusaha membawa tubuh Riko keluar dari ruangan itu.
Setelah Ramos dan Arslan berhasil keluar, kini Jerry memusatkan perhatiannya kepada Hyden yang masih berdiri di pojok ring.
"Kau yang bernama Hyden? Ayo aku ingin merasakan seperti apa kerasnya tinju mu!" Kata Jerry segera memburu Hyden.
Pertarungan yang tak seimbang antara Jerry William dan Hyden Patrik pun pecah di dalam sangkar arena pertarungan bebas itu.
Jerry tampak seperti orang kesurupan memukul Hyden tanpa henti.
Sudah tidak terhitung lagi jumlah pukulan yang bersarang di tubuh Hyden membuat anak kedua dari Robin Patrik itu jatuh terjerembab mencium lantai gelanggang.
"Robiiiin...! Dimana kau? Lihat anak mu ini!" Kata Jerry sambil menginjak punggung Hyden yang jatuh tertelungkup dan menarik rambutnya dengan keras hingga..,
"Kraaak..."
Terdengar suara tulang patah di susul dengan tubuh Hyden yang berkelojotan meregang nyawa.
__ADS_1
Setelah itu Jerry langsung melompat keluar ring dan mulai mengamuk menghajar siapa saja anak buah Sendiego yang berada di dekat nya.
"Hyden anak ku... Kau Jerry. Aku akan membunuh mu." Teriak Robin dan mulai akan melompat menyerang Jerry.
Belum lagi Robin bertindak, baju nya telah di tarik dari belakang.
"Tuan besar. Kita sudah kalah. Lihat anak buah kita sudah tewas semua. Selamatkan diri mu Tuan." Kata Sendiego.
"Tapi Hyden. Aku harus membalas!" Teriak Robin.
"Hyden sudah mati Tuan. Kalau kau mati, siapa yang akan membalas kekalahan ini? Ayo lari Tuan!" Kata Sendiego sambil menarik tangan Robin.
"Rudock.., mana cucu Ramos. Jadikan dia tameng. Aku akan menyelamatkan tuan besar." Kata Sendiego.
"Baik Tuan." Kata Rudock sambil mengacungkan pisau dan berteriak, "Berhenti kalian! Jika tidak, aku akan membunuh cucu Ramos ini." Kata Rudock dengan lantang.
Mereka yang berkelahi langsung menghentikan pertarungan dan memandang ke arah suara ancaman tersebut.
Kini tampak Rudock menggendong seorang balita dan meletakkan ujung pisau tepat di leher anak tersebut.
"Jika kalian bergerak, Anak ini akan mati!" Teriak Rudock.
"Dooor...."
Belum hilang gema suara teriakan Rudock, tiba-tiba satu peluru melesat dengan kelajuan tinggi menghantam tepat di tengah-tengah kening Rudock membuat lelaki bertubuh besar itu jatuh terkangkang dengan nyawa telah lepas dari raga nya.
"Bagus Herey..." Kata Jeff sambil mengacungkan jempol.
"Cepat kejar mereka!" Kata Jerry berteriak memberi perintah.
Mendengar teriakan Jerry, Regan, Jeff, Austin dan Ronald segera bergegas ke arah dimana tadi Robin dan Sendiego menghilang.
"Ayo cepat Tuan. Kita harus segera ke atas. Kita bisa melarikan diri menggunakan helikopter." Kata Sendiego.
Mereka langsung berlari menaiki tangga menuju atap bangunan dimana helikopter milik Robin berada.
"Cepat...! Cepat hidupkan mesin!" Teriak Robin dari kejauhan.
Begitu melihat Robin seperti di kejar hantu, sang pilot pun segera menghidupkan mesin.
"Ayo naik duluan Tuan besar!" Kata Sendiego.
Tanpa basa-basi lagi Robin segera melompat menaiki Helikopter. Namun tepat ketika giliran Sendiego,
"Dooor..."
Sebutir timah panas langsung menembus punggung nya membuat lelaki bertubuh sedikit pendek itu jatuh terlentang.
"Ayo naik..! Cepat bawa aku naik!" Kata Robin berteriak.
Tembakan kini berlalu-talu menghantam badan helikopter yang sudah mulai membumbung tinggi.
"Sialan. Dia berhasil lolos." Kata Herey sambil menatap ke arah Jerry dengan perasaan bersalah.
"Periksa apalah anjing Robin ini masih hidup atau sudah tewas?!" Kata Jerry.
Herey dan Jeff langsung membalikkan tubuh Sendiego. Setelah mereka memeriksanya, ternyata Sendiego masih hidup.
"Bereskan orang ini Herey! Aku tidak mau manusia berhati iblis ini masih hidup hanya untuk mengotri dunia ini saja." Kata Jerry.
"Dengan senang hati Tuan muda." Kata Herey lalu...,
"Dor.. dor... dor."
"Ayo semuanya keluar dan bakar tempat ini!" Kata Jerry lalu segera berjakan menuju ke lantai bawah.
__ADS_1
Tak berapa lama tampak suara sirene dari mobil pemadam kebakaran menuju ke arah Kantor Arsend karena mendapat daporan bahwa bangunan itu telah terjadi kebakaran.
Bersambung...