PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 60 Seram


__ADS_3

"Aku sama sekali nggak takut dengan ancaman mu itu, aku hanya menghormati Om Danish yang sudah suka rela menyerahkan klan ini untuk ku. Selama ini aku menjaga mu bukan karena aku takut tapi aku tidak bisa menyakiti mu karena terikat janji dengan om Danish. Walau bagaimana pun aku tetap pria sejati yang berpegang pada janji". Sahut Ronal dengan tatapan dingin nya.


"Lihat saja. Kalau kamu masih menyimpan wanita itu di sini lebih lama, maka tak lama lagi kamu akan melihat tubuh nya tergeletak tak bernyawa di hadapan mu". Ancam Jasmin nggak mau terlihat lemah.


Setelah memberi ancaman pada Ronal, Jasmin berlalu pergi dari markas klan Nafa Merah. Ancaman nya tidak main - main. Sifat nya tetap sama seperti dulu. Jika ia sudah menetap kan pria itu adalah milik nya, maka jangan harap wanita yang mencoba mengusik pria nya itu akan hidup lebih lama.


Sementara Ronal, ia harus semakin waspada pada wanita berbahaya itu. Ia sangat yakin nyawa Meri saat ini sedang dalam bahaya. Meskipun ia juga tak mencintai Meri, tapi ia sudah berjanji pada almarhum saudara nya untuk menjaga istri nya itu dengan baik. Seharusnya Ronal yang menjaga Meri dari di sentuh oleh pria lain tapi ia tetap lelaki yang tak bisa menahan godaan wanita yang memang sengaja menggoda nya.


Lembur terpaksa di batal kan karena Ronal sedang banyak pikiran dan tak bisa fokus pada rencana yang ingin Haikal sampai kan.


Ronal masuk ke kamar nya bersama Meri. Ia harus mewanti - wanti Meri agar selalu berhati - hati di luar maupun di dalam markas. Ia yakin walau pun markas ini sudah berada di bawah kendali nya tapi pasti masih ada anak buah Danish maupun Jasmin di dalam markas.


Sedangkan Rinata dan Haikal juga masuk ke kamar mereka. Kini kamera pengintai sudah tak sebanyak dulu. Hanya ada di beberapa tempat saja, tapi mereka tetap harus menjaga ucapan mereka karena masih ada perekam suara di beberapa tempat. Itu di sebab kan Ronal nggak mau kalau saat ada kesempatan mendekati Rinata di kamar itu malah ketahuan oleh Meri atau Haikal memiliki bukti kalau ia sedang mencoba memerkosa wanita nya.


Rinata dan Haikal lebih leluasa untuk bergerak dan tak perlu terlalu berpura - pura meskipun hanya di dalam kamar. Rinata dan Haikal memang tidur dalam kamar bahkan kasur yang sama tapi mereka masih menaruh pembatas agar Rinata merasa aman tidur bersama nya.


"Kejadian tadi lucu ya, mas". Imbuh Rinata saat berbaring di kasur bersama Haikal.


"Iya, kamu ingat nggak wajah tante Jasmin tadi. Serem banget tapi malah membuat perut ku melilit karena geli. Bagaimana ya kira - kira kalau tante Jasmin menyadari kalau wajah nya sereram itu?". Balas Haikal sambil menghadap ke arah Rinata.


"Aku yang membayang kan nya aja udah malu banget mas". Sahur Rinata sambil menahan tawa nya..

__ADS_1


Saat wanita itu berbalik ke samping, tatapan mereka tak sengaja bertembung. Rinata yang sudah menaruh perasaan pada Haikal sejak lama langsung sala tingkah. Ia membuang tatapan nya ke arah bumbung untuk menghilangkan kegugupan..


"Kalau begitu kita mulai aja yuk". Kata Haikal sebagai kode untuk mereka segera tidur.


"Terserah mas aja. Aku emang dari tadi mau kok". Sahut Rinata.


Lampu di mati kan oleh Haikal lalu ia mengeluarkan ponsel nya dan memutar sebuah audio untuk mengelabuhi Ronal atau Meri yang sedang mengamati aktifitas mereka. Audio itu terdengar suara pasangan yang sedang melakukan hubungan mulai dari pemanasan hingga ke puncak. Suara yang cukup halus dan di letakkan di dekat perekam suara yang ada di samping kasur.


Tinggal ponsel nya yang beraksi sementara mereka berdua tidur nyenyak dengan menggunakan handset agar suara yang di timbulkan tidak mengganggu pendengaran. Benar saja, Meri yang sedang mengamati mereka tersenyum senang karena Haikal sudah tak selugu dulu lagi. Ia juga nggak perlu terlalu khawatir karena Rinata tak lagi perawan.


*


*


Jasmin menggerutu nggak jelas di kursi tengah karena kejadian memalukan di markas tadi. Ia tak menyangka kalau Ronal benar - benar tak menganggap nya selama ini. Ia pikir setelah pria itu merasakan tubuh nya ia akan mulai luluh dan membuka hati untuk nya tapi ternyata sama sekali nggak mempan.


"Pasti kerana saat itu aku nggak sadar kan diri. Coba saat itu aku sadar sudah pasti aku akan membuat nya melayang ke udara saking nikmatnya berhu6ungan dengan ku. Aku harus merencanakan sesuatu saat ia pulang, aku nggak percaya kalau ia sama sekali nggak ketagihan setelah merasakan ku". Gumam Jasmin dengan senyum sinis nya.


"Sebenarnya aku sedikit curiga kalau yang sedang ada di belakang itu bukan nona Jasmin melainkan kuntilanak yang menyerupai nya. Dari tadi wajah nya seram gitu pakai senyum segala lagi, tambah merinding aku melibat nya". Batin pak Sopo. Tangan nya sampai gemetaran melihat wajah Jasmin.


Awal nya ia pikir majikan nya itu hanya tidak perasan wajah nya sedang berantakan tapi semakin lama hawa dalam mobil itu semakin berbeda, bulu kuduk supir itu merinding seketika.

__ADS_1


"Ma - maaf kalau saya be - bertanya nona. Ta - tapi saya benar - benar penasaran...". Imbuh pak Sopo dengan suara bergetar menahan takut.


"Diam! Aku nggak mau dengar apa - apa!". Bentak Jasmin pada supir nya.


Pak Sopo memilih diam. "Sifat nya sama dengan non Jasmin. Ketus dan sinis. Tapi wajah nya itu loh kenapa seram kayak gitu, sih?". Batin Pak Sopo.


Sepanjang perjalanan pak Sopo tak berani mengeluarkan suara, ia juga tak berani melirik kebelakang karena merinding melihat wajah menyeramkan majikan nya. Sesampai di rumah, Jasmin bergegas keluar untuk beristirahat karena waktu sudah menunjukkan waktu 12 malam.


Pintu di buka oleh bik Jusma dan ia juga tambak terkejut melihat wajah Jasmin yang menyeramkan itu. "Apa lihat - lihat! Kayak nggak pernah lihat perempuan cantik saja". Hardik Jasmin saat melihat wajah terkejut pembantunya itu.


Bik Jusma nggak membalas, tertunduk sambil menahan gelak dengan menggigit bibir nya karena majikan nya sangat percaya diri sekali. Jasmin berlalu masuk ke dalam rumah menuju kamar nya. Tubuh nya sangat lelah sehabis berantem tadi bersama Meri.


Di dalam kamar tanpa sengaja Jasmin menatap wajah nya dari pantulan cermin meja rias nya. Mata nya langsung membulat sempurna karena baru menyadari riasan wajah nya kini berantakan dan sangat menyeramkan.


"Kenapa wajah ku jadi seperti ini? Sejak kapan make up ku berubah menyeramkan seperti ini?". Cerca Jasmin pada diri nya sendiri.


Mencoba mengingat - ingat kembali setiap tanggapan dan reaksi orang saat melihat nya malam ini.


"Kamu yang lebih baik melepaskan tangan mu dari nya. Pergi bercermin terlebih dahulu. Sayang ku pasti tak akan mau menjadi suami dari kuntilanak seperti mu". Jasmin mengingat kembali ucapan Meri tadi yang mengatakan kalau di terlihat seperti kuntilanak.


Juga cara menatap Haikal dan gadis yang ia temui tadi tampak menahan tawa dengan menggigit bibir. Sepanjang lorong juga seperti itu saat berpapasan dengan anak buah Ronal. Pak Sopo saat di mobil sepanjang perjalanan terlihat seperti ketakutan melihat wajah nya. Terakhir bik Jusma yang menunduk takut pada nya.

__ADS_1


"Ahhccchh....". Jasmin berteriak frustasi.


__ADS_2