Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 10: Pacar Alan


__ADS_3

Irene mengompres pipinya dengan kantong


berisi es di ruang kesehatan kampus. Sementara, Nida membantu memasangkan


plester ke bagian wajah Bian yang terluka. Saat menjelang sore suasana kampus semakin sepi karena jam perkuliahan rata-rata sudah berakhir, kecuali untuk beberapa dosen yang memindahkan jam kuliahnya pada sore atau malam hari.


“Apa aku terima saja kemauan Fathir untuk jadi pacarnya, ya?” ucap Nida.


“Katanya kamu tidak menyukainya.” Bian merespon dengan datar.


“Sepertinya dia mengganggumu karena kamu terus menolaknya.”


“Bukan karena kamu atau siapa-siapa. Fathir memang suka mengganggu orang semaunya. Tidak perlu merasa bersalah dengan urusanku, itu tidak ada hubungannya denganmu.”


“Mungkin dia akan berhenti mengganggumu jika aku jadi pacarnya. Bahkan mungkin kalian akan bisa berteman.”


Bian hanya tersenyum mendengar perkataan Nida. Tujuan Fathir mengganggunya memang agar Nida luluh karena kasihan dirinya jadi bahan rundungan. Fathir tahu mereka bertetangga dan berteman baik. Fathir merasa Nida tak mau pacaran dengannya karena Bian.


“Bian, Nida, aku pulang dulu, ya,” pamit Irene.


Perbincangan Bian dan Nida terhenti. Mereka hampir lupa kalau Irene juga ada di sana.


“Aku antar pulang, ya.” Bian menawarkan tumpangan.


“Tidak usah, Bian. Aku ada yang akan datang menjemput.” Irene mengembangkan senyumannya. Ia membereskan tasnya dan bersiap keluar dari ruangan itu.


“Irene!”


Sebelum sempat Irene keluar, seorang lelaki tampan dan tinggi dengan pakaian kerjanya masuk ke dalam ruang kesehatan. Bian dan Nida sampai tercengang ada orang setampan itu


datang ke kampus mencari Irene. Dari penampilannya saja sudah bisa dipastikan


lelaki itu minimal model, pengusaha, atau CEO.


“Aku dengar kamu terluka,” ucap Alan.


Irene tersenyum. “Hanya luka kecil saja di sudut bibir. Sekarang sudah tidak apa-apa.” Irene


mengarahkan pandangan kepada Bian dan Nida. “Dia majikan di tempat aku bekerja. Karena ada yang mengabari aku sakit, makanya datang menjemputku. Aku pulang dulu, sampai jumpa besok,” ucap Irene.

__ADS_1


Bian dan Nida hanya menganggukkan kepala. Irene lebih dulu keluar dari ruang kesehatan.


Disusul kemudian oleh Alan yang mengikutinya di belakang.


“Kenapa kamu berkata seperti itu di depan teman-temanmu?” Alan sangat heran Irene bersikap seperti itu.


“Akan terdengar aneh jika aku bilang dijodohkan dengan Kakak. Mereka lebih mudah menerima jika aku bilang bekerja sebagai pelayan di rumahmu.” Irene terus berjalan dengan kecepatan yang konstan. Alan berusaha mengejarnya agar bisa mengimbangi langkahnya.


“Kakek akan marah jika mendengar hal ini.”


“Tenang saja, aku bukan tipe orang yang suka mengadu.”


Irene heran kenapa Alan sampai berani masuk area kampus dan mencari dirinya. Tidak seperti saudara-saudaranya yang lain biasanya hanya menunggunya di tempat parkir. Alan sampai tahu dia baru saja terkena masalah. Irene yakin Ares yang bercerita.


Alan tak seramah Alex. Sikapnya biasa-biasa saja, jarang mengajaknya bicara, namun tak sungkan jalan berdekatan dengannya. Kalau orang lain melihat, Irene pasti dianggap sebagai pembantu yang dicari majikannya karena akan dihukum akibat telat pulang..


“Alan!”


Seorang wanita seksi berjalan menghampiri mereka berdua. Saat sudah dekat, wanita itu


memandangi Irene dari atas hingga bawah dengan tatapan merendahkan. “Siapa dia?” tanyanya kepada Alex.


Wanita itu tercengang sampai mulutnya terbuka saking kagetnya. Dia baru tahu jika wanita yang kabarnya dijodohkan dengan Alan ternyata sejelek itu. Dia kira wanita beruntung yang diberi kesempatan berkenalan dengan lima tuan muda keluarga Narendra pastilah wanita pilihan yang unggul dalam segala bidang termasuk kecantikan. Kalau tampangnya seperti itu, ia rasa di lampu merah juga banyak tipe wanita dekil yang bahkan lebih baik dari wanita itu.


“Apa kakekmu sudah gila? Dia mau menjodohkanmu dengan wanita buruk rupa seperti dia?” Sovia menahan tawanya.wanita bernama Irene itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dirinya. Ia jadi menyesal buru-buru pulang saking khawatir Alan akan


berpaling kepada wanita lain yang dijodohkan dengannya. Kalau tampangnya seperti itu, Sovia bisa tenang bekerja jauh dari Alan selama apapun.


“Itu tidak sopan, Sovia,” ucap Alan.


“Ah, maaf, Sayang. Aku hanya kaget saja. Mendengar namanya yang indah, Irene Abraham, aku kira dia secantik bidadari. Ternyata, ekspektasiku jauh dari itu.” Sovia bergelayut


manja kepada Alan. Ia tak menyangka akan bertemu dengan kekasihnya di sana.


“Kenapa, Kak? Takut Kak Alan berpaling kepada wanita lain, ya?” sindir Irene. Baru melihat


wajah Sovia saja ia sudah tidak suka. Irene heran seorang Alan bisa dekat dengan wanita yang kelihatannya murahan seperti itu.


“Tidak, aku tidak takut … Alan sangat mencintaiku, dia tidak mungkin tertarik dengan wanita lain,” Sovia mengembangkan senyum simpulnya.

__ADS_1


“Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Alan.


“Ah, hm ….” Sovia sedikit gelagapan menjawab pertanyaan Alan. “Ah, itu … partner pemotretanku


salah satu mahasiswa di sini, jadi manajer sekalian menjemputnya. Aku menunggu manajerku kembali di parkiran, ternyata malah bertemu denganmu. Aku jadi malas untuk kerja.” Sovia kembali memeluk manja lengan Alan.


“Partner kerja atau partner ranjang?” celetuk Irene santai.


Sovia langsung emosi. Matanya melotot penuh kemarahan kepada Alan. “Mulutmu bicara seperti sampah!” umpatnya. Ia hampir mencari ribut dengan Irene, namun Alan mencegahnya. “Lepas, Alan! Dia sudah mengatakan yang tidak-tidak tentang aku!”


“Kalau hal itu tidak benar, kamu tak perlu marah-marah. Irene hanya bercanda.”


Irene tersenyum puas karena Alan tidak mendukung wanita itu untuk memarahinya. Jika bertemu dengan wanita semacam Sovia, Irene memang suka emosi.


Sovia membuang muka. Ia kecewa Alan tak mengiyakan perkataannya. Sovia tersinggung dengan ucapan Irene.


“Sovia, aku pulang dulu dengan Irene. Selamat melanjutkan pekerjaanmu.”


Sovia hanya bisa melepaskan tangannya dari lengan Alan. Ia mengangguk. Sementara, Alan dan Irene kembali berjalan menuju mobil yang telah terparkir di sana.


“Apa itu pacarmu?” tanya Irene sembari memasang sabuk pengamannya.


“Iya.” Alan menghidupkan mesin mobilnya. Perlahan kendali di depannya mulai ia gerakkan


agar bisa keluar dengan aman dari basement parkir milik kampus. Ia melirik sebentar ke arah Sovia yang masih berdiri di tempatnya ketika mobil Alan mulai bergerak.


Semalam Alan juga sudah membahas bahwa ia telah memiliki seorang kekasih. Irene hanya tidak menyangka jika wanita yang disebut sebagai kekasih oleh Alan adalah wanita semacam itu. Sovia adalah jenis wanita yang akan mempertahankan hubungan hanya demi uang. Jika tidak ada uang, pasti akan segera ditinggalkan dan mencari mangsa yang baru.


“Pacarmu cantik dan seksi,” puji Irene.


Alan tertawa kecil mendengar pujian itu.


“Kenapa? Kamu tampaknya kurang senang aku memuji pacarmu.”


“Tidak, tidak apa-apa.”


Alan seperti malas untuk membahasnya. Ia lebih memilih diam. Perjalanan keduanya kembali dipenuhi kesunyian. Irene bingung untuk menghidupkan pembicaraan dengan Alaan. Dia


menjadi lelaki yang berbeda dengan semalam. Mungkin, Alan memang hanya bisa berbicara dengan leluasa dengan wanita berparas cantik saja, termasuk dirinya yang menyamar sebagai Miss A.

__ADS_1


*****


__ADS_2