Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 305


__ADS_3

Arvy baru saja sampai di lokasi syuting iklan minuman segar yang diproduksi oleh sebuah perusahaan terkenal. Dia telah mempersiapkan diri dengan baik dan siap untuk memulai proses syuting. Sebagai seorang aktor profesional, Arvy fokus pada tugasnya.


"Kak, di sini ya, tempatnya?" tanya Arvy kepada sang manajer.


"Iya, ini tempatnya," jawab Mario sembari sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.


Tempat pengambilan syuting iklan kali ini berada di daerah pantai yang masih asri dan indah. Meskipun siang hari, cuacanya tidak terlalu panas karena ada banyak pepohonan di sekitarnya.


"Tempat make up di sebelah sana, Ar! Kamu ke sana duluan untuk bersiap-siap!" perintah Mario yang masih sibuk dengan ponselnya.


Para kru dan pemain lainnya tampak sibuk dengan persiapan. Arvy melihat sebuah tenda besar berwarna putih yang dibangun di pinggiran pantai. Mario mengatakan itu adalah tempat untuk make up.


Saat berjalan ke arah tenda tersebut, tanpa sengaja mata Arvy bertemu dengan Adila. Mereka berdua saling menatap sejenak, tetapi tak ada satu kata pun yang terucap di antara mereka. Keheningan itu menggantung di udara, mengingatkan mereka pada masa lalu yang rumit.


"Adila, ayo ke sana!" pinta seseorang yang mengarahkan Adila ke tempat lain.


Adila membuang muka begitu saja seolah tidak mau melihat lagi sosok seorang Arvy. Rasanya sangat menyakitkan bagi Arvy. Kebersamaan mereka yang sudah berlangsung bertahun-tahun, bahkan mereka meniti karir bersama dari bawah, kini harus berakhir begitu saja.


Arvy mencoba mengalihkan perhatiannya dan berkonsentrasi pada pekerjaannya. Dia mendekati Mario, manajernya, dan sutradara iklan, Dirga, yang sedang berdiskusi tentang konsep iklan.


Arvy tersenyum kepada Mario. "Kak, jadi bagaimana konsep iklan kali ini?" tanyanya.


Mario melongo mendengar pertanyaan artisnya. "Arvy, tadi di mobil aku sudah bicara panjang lebar padamu tentang syuting kita hari ini. Kamu sama sekali tidak mendengarkan?"


Arvy tersenyum lebar. "Tadi aku tidur, Kak. Hahaha ...."


Mario menepuk dahinya sendiri. Ia memang harus memiliki kesabaran tingkat tinggi jika harus bekerja dengan Arvy.


"Kita telah menyusun konsep yang segar dan inovatif, Arvy. Kita ingin menampilkan kegembiraan dan semangat di dalam setiap adegan. Tim produksi yakin kamu bisa menghadirkannya dengan sempurna. Pokoknya kamu harus kelihatan ceria!" kata Mario menerangkan.


Arvy menganggukkan kepala sebagai tanda pengertian, berusaha menekankan pikirannya pada tugas yang ada di hadapannya. Dia ingin memberikan yang terbaik dalam syuting ini dan menunjukkan profesionalismenya yang sejati.


"Arvy, kamu sudah siap?" tanya Dirga yang duduk menghadap monitor.

__ADS_1


"Dia belum di make-up," sahut Mario dengan nada kesal. Padahal ia sudah meminta Arvy untuk masuk ke tenda lebih dulu, tapi malah kembali menyusulnya di sana.


Dirga memperhatikan penampilan Arvy yang casual hari ini. "Aku rasa dia sudah cocok seperti ini. Tidak usah make up atau ganti baju juga masuk dengan konsep iklan hari ini," katanya.


Arvy merasa bangga dipuji ketampanannya oleh sang sutradara.


"Tidak bisa, Arvy harus tetap make up! Nanti wajahnya bisa kelihatan kusam di kamera," ujar Mario. Ia melambaikan tangan memanggil seseorang.


Dengan cepat ada salah satu tim make up yang menghampirinya. "Ada apa, Kak Mario?" tanya perias wanita itu.


"Cepat kamu make up anak bandel ini!" pinta Mario.


"Kak, kamu tidak dengar apa kata sutradara? Aku sudah tampan," kata Arvy.


Mario memutar malas kedua bola matanya. "Cepat kamu dandani saja sekarang! Waktunya mepet!"


Mario menyuruh staf perias untuk merapika make up Arvy.


"Arvy, ayo kita bahas beberapa adegan kunci. Bagaimana pendapatmu tentang adegan pembuka di taman sebelah sana?" tanya Dirga sembari menunggu Arvy dirias.


Arvy fokus pada pembicaraan dengan Dirga. "Aku pikir adegan pembuka itu menarik, Kak. Kita bisa memanfaatkan suasana terang dan cerah di taman untuk menampilkan keceriaan dan kehidupan yang dinamis. Aku siap untuk menjalankan instruksi kamu dengan baik," katanya.


Arvy mencoba mempertahankan konsentrasinya, meskipun dia tidak bisa menghilangkan kehadiran Adila di tempat yang sama.


"Arvy, matamu kemana?" tegur Mario.


Manajer Arvy yang satu itu sepertinya paham bahwa konsentrasi Arvy saat ini tengah terpecah.


"Lupakan dulu masalah wanita, kamu harus fokus kerja," nasihatnya dengan nada lirih.


Arvy tidak menyangka kalau Mario juga tahu Adila ada di sana. Dia berusaha mengendalikan emosinya dan berfokus pada pekerjaan profesionalnya.


"Jadi, kamu siap mendengarkan penjelasanku sampai tuntas?" tanya sang sutradara yang sempat terputus karena Arvy melamun.

__ADS_1


"Iya, iya. Aku minta. Maaf," ucap Arvy.


Sutradara memberikan instruksi lebih lanjut kepada Arvy dan pemain lainnya, memastikan semua detail terpenuhi. Arvy memperhatikan setiap petunjuk dengan saksama, mencoba memadukan semangat dan keceriaan yang dibutuhkan untuk iklan ini.


Sementara itu, Adila juga sibuk dengan syuting film terbarunya. Meskipun mereka berada dalam satu lokasi yang sama, mereka berdua mencoba menjaga jarak dan memisahkan pekerjaan mereka.


"Adila, bagaimana? Kamu sudah siap untuk syuting hari ini, kan?" tanya salah satu staf untuk memastikan.


Dari raut wajahnya tergambar jika ia sebenarnya kurang suka dengan keberadaan Adila di sana. Menurutnya, kondisi Adila belum sepenuhnya pulih dan tidak cocok untuk menjadi salah satu pemeran utama dalam film baru itu.


"Iya, Kak. Aku sudah siap, kok," kata Adila mantap. Ia tak ingin membuat orang yang memberi kepercayaan padanya merasa kecewa.


Walaupun Arvy dan Adila tidak saling berbicara atau saling memperhatikan secara langsung, tetapi bayangan kehadiran satu sama lain masih menyelinap dalam pikiran mereka. Kebersamaan di masa lalu dan semua emosi yang terkait masih mempengaruhi keduanya.


"Hai, Arvy!" sapa Tifani dengan akrabnya. Wanita itu sampai berani merangkul Arvy tanpa beban.


Arvy sebenarnya merasa tidak nyaman. Menurutnya, mereka tidak begitu kenal. Namun, ia sungkan untuk bersikap kasar di hadapan banyak orang. Padahal dia biasanya tidak peduli dengan perasaan orang lain.


"Seneng banget akhirnya kita bisa satu projek iklan. Aku suka banget dengan lagu-lagumu," kata Tifani.


Arvy hanya menyunggingkan senyum. "Terima kasih," katanya.


"Untuk adegan syuting kali ini, kita kan akting jadi pasangan kekasih, ya? Jangan sungkan denganku supaya chemistry kita bagus," kata Tifani.


Arvy hanya bisa tersenyum. Ia sudah tidak peduli dengan kelakuan Tifani. Bahkan saat wanita itu memeluk lengannya, ia diam saja.


Dari kejauhan ada Adila yang menatap dengan sendu ke arah Arvy. Perasaannya sakit melihat Arvy bersama wanita lain. Meskipun ia sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan, namun tidak bisa dipungkiri bahwa perasaannya masih sama.


"Adila, kita langsung menuju ke tempat set! Ayo!" seru majajer Adila.


"Iya, Kak! Sebentar aku ke sana!" jawab Adila dengan suara setengah berteriak.


Ia menghela napas panjang sebelum beranjak dari tempatnya. Ia segera berlari mengejar manajernya. Adila bertekad untuk mengubur perasaannya dalam-dalam.

__ADS_1


__ADS_2