Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 131


__ADS_3

"Hah ... Syukurlah akhirnya Hyena mau memberi klarifikasinya," kata Marco. Ia menghela napas lega dengan berita baik untuk artisnya. "Hebat kamu Arvy, bisa membuat seorang Hyena mau muncul dan membuat klarifikasi," imbuhnya.


"Aku tidak kenal Hyena, Kak! Sudah aku bilang orangnya saja aku tidak tahu!" jawab Arvy. Dia sendiri bingung kenapa bisa Hyena yang ikut membuat lagu miliknya. Bisa-bisanya lagu miliknya dilanjutkan oleh Hyena.


"Kalau kalian tidak kenal, mana mungkin dia kurang kerjaan membuatkan lagu untukmu?"


"Ya ... Mana aku tahu? Aku juga bingung!" kata Arvy. "Mungkin memang Pak Ron yang kenal. Sepertinya dia yang sudah menghubungi Hyena untuk membuat klarifikasi itu," lanjutnya.


"Benar juga katamu ... Mungkin memang Ron benar-benar mengenal Hyena," gumam Marco.


"Aku sangat berhutang budi pada Hyena. Suatu saat, aku pasti akan membalasnya," kata Arvy.


Ia bersyukur Hyena muncul membersihkan namanya. Beban pikiran yang membuatnya resah akhir-akhir ini telah hilang. Satu demi satu hujatan tertutupi oleh dukungan yang diberikan fans kepadanya. Bahkan penggemar lagunya semakin bertambah karena tanpa sengaja ikut dipromosikan oleh Hyena.


Drrtt .... Drrtt ....


Ponsel Marco bergetar. Sebuah panggilan masuk dari rekan bisnisnya.


"Halo?" sapa Marco.


"Halo, Marco. Bisa kamu beritahukan jadwal Arvy yang kosong? Kami ingin mengundangnya ke acara festival musik minggu depan."


Mata Marco langsung berbinar. Di saat panggilan kerja Arvy sepi, ada yang menawarkan pekerjaan.


"Oh, tentu saja. Nanti akan aku konfirmasi lagi, oke?"


Marco kegirangan, menari-nari sepeperti orang gila saking senangnya.


"Kamu kenapa, Kak?" tanya Arvy heran.


"Ada job manggung untukmu minggu depan, Arvy. Akhirnya kita tidak menganggur lagi," katanya sambil terus berjoget.


Tak berselang lama, Marco kembali menerima tawaran bernyanyi untuk Arvy. Sebagai seorang manajer, tentu saja ia sangat bahagia. Ponsel miliknya tak berhenti berdering menerima tawaran pekerjaan yang banyak.


Di saat sang manajer kegirangan, Arvy justru pusing. Kalau kebanyakan job, ia sendiri yang tidak dapat waktu libur.


***


Irene pulang dari kampus sendirian. Sesampainya di rumah, ia masuk kamar dan mengurung dirinya sendiri di dalam kamar. Hatinya tidak tenang setelah membaca komentar dari salah satu penggemarnya.

__ADS_1


Drrtt ... Drrtt ....


Ponselnya berbunyi. Ron menelepon lagi.


"Halo, Nona Irene?"


"Iya, Ron," jawab Irene dengan nada lemas.


"Apa Anda baik-baik saja?"


"Ron ... Apa menurutmu aku sudah membuat kesalahan?" tanya Irene.


"Apa Nona merasa terganggu dengan komentar-komentar penggemar yang kurang menyenangkan?"


"Hm, mungkin ...." katanya.


"Saya ingin bertanya, sebenarnya Nona mencintai dunia musik atau tidak?"


Irene hanya diam.


"Nona, apapun yang terjadi, saya akan terus mendukung Anda. Sekalipun tidak ada orang di pihak Anda, saya akan selalu di pihak Nona. Saya yakin semua orang tengah menunggu Anda kembali ke dunia musik," kata Ron.


***


"Jangan marah-marah begitu, aku juga sibuk! Tunggu aku sebentar lagi sampai."


Sambungan telepon dimatikan begitu saja oleh Arvy. Irene yang sejak tadi menunggu di area parkir kampus sampai hilang kesabaran.


"Dasar artis! Mentang-mentang makin tenar jadi sok sibuk! Bilang kalau tidak bisa jemput kan bisa!" gerutunya.


Irene bersyukur lagu Arvy sukses di pasaran. Namun, ia juga kesal dengan sikap Arvy yang ketus padanya. Ia juga dimarahi kalau berani protes lelaki itu tak bisa tepat waktu menjemputnya.


"Irene!" panggil seseorang.


Irene melebarkan mata menyadari orang yang memanggilnya ternyata Alan. "Kak Alan? Kenapa Kak Alan ada di sini?" tanyanya Heran.


"Aku datang untuk menjemputmu. Ayo kita pulang!" ajak Alan.


"Loh, ada Kak Alan?"

__ADS_1


Arvy baru saja turun dari mobilnya. Ia berusaha mengebut karena Irene sudah marah-marah padanya.


Arvy memberi salam pada kakaknya yang memang jarang ia jumpai karena masalah pekerjaan.


"Bukannya itu Arvy, ya?" seru seseorang.


"Eh, mana? Mana?"


"Eh, benar, itu Arvy!"


Tiba-tiba saja orang yang lewat di area parkiran menyadari keberadaan Arvy.


"Aduh, lupa kalau ada artis di sini! Bakalan susah kalau tidak cepat pergi! Irene mau ikut atau tidak?" Alan segera berlari memasuki mobilnya.


Irene kebingungan. Tangannya diseret Arvy agar naik ke dalam mobil Alan bersamanya.


"Loh, mobilmu bagaimana?" tanya Alan heran melihat Arvy ikut-ikutan masuk ke dalam mobilnya.


Pasukan fans Arvy sudah berlarian ke arah mobil Alan. Mereka seperti zombie yang antusias ketika melihat mangsanya. Kalau saja dalam mobil tidak ada peredam, suara jeritan para fans pasti akan terdengar jelas.


"Biarkan mobilku di sana, nanti manajerku yang akan mengambilnya," kata Arvy enteng.


Alan mulai menyalakan mesin mobilnya sebelum kerumunan fans Arvy semakin banyak. Perlahan ia melajukan mobil menghindari para fans. Setelah berhasil menjauh, mereka merasa lega.


"Kamu ini pekerjaannya menyusahkan orang saja," sindir Alan.


"Aku membayar manajer memang untuk itu, Kak!" kilah Arvy.


"Kak Arvy memang begitu, Kak. Sangat merepotkan," keluh Irene.


"Memangnya menapa?" tanya Alan sembari melirik spion memperhatikan Irene yang duduk di bangku belakang. Sementara, Arvy duduk di sebelahnya.


"Telat terus kalau jemput aku! Kalau mau antar juga mepet-mepet waktu! Aku sampai tidak enak dengan dosen kalau telat masuk perkuliahan!" Irene mengadu kepada Alan.


"Hm, kamu itu bagaimana, Arvy? Itu kan tugas dari Kakek. Kalau kamu tidak lakukan dengan baik, aku rasa Kakek akan langsung menyuruhmu berhenti jadi artis," kata Alan.


"Aduh, jangan adukan ke Kakek .... Mau bagaimana lagi? Jadwalku pada, kamu harus memaklumi aku, Irene ...." kata Arvy. "Atau Kak Alan kalau bisa, gantikan aku lah untuk mengantar jemput Tuan Putri ini!"


"Apa sih! Kalau tidak suka bilang langsung ke Kakek!" omel Irene.

__ADS_1


"Sudah, sudah ... Kalian tidak perlu bertengkar. Biar aku saja nanti yang menggantikan Arvy," kata Alan menengahi.


"Yes! Kak Alan memang yang terbaik!" seru Arvy kegirangan.


__ADS_2