Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 191: Fitting Gaun Pengantin


__ADS_3

"Apa kamu sudah menyelesaikannya?" tanya Alan.


"Sudah, Kak. Bagaimana kalau hari ini Kakak menemaniku ke tempat Kak Alfa untuk mencoba gaunnya. Aku tidak tahu apakah hasilnya akan bagus atau tidak," ujar Irene.


Alan menepuk kepala Irene. "Kalau kamu yang buat, aku yakin akan bagus," ujarnya.


Alan mengajak Irene masuk ke dalam mobilnya. Ia sepakat ingin menemani calon istrinya itu untuk fitting baju pengantin yang sudah mengalami perombakan sedikit.


Sesampainya di sana, mereka disambut oleh asisten Alfa yang akan membantu fitting. Alan dan Irene masuk ke ruangan yang berbeda untuk mencoba pakaian mereka.


"Em, apa aku boleh meminta saran?" tanya asisten bernama Eka yang menemani Irene.


"Saran apa?" tanya Irene heran.


"Aku dengar kamu cukup mahir merancang gaun."


"Aku tidak semahir itu," kilah Irene.


"Sebenarnya aku sedang magang di sini. Dari kampus ada tugas untuk merancang gaun dengan tema fantasi, aku sudah membuat rancangannya, apa kamu bisa memberikanku masukan?" tanya Eka.


"Oh, boleh saja kalau memang kamu mau mendengar pendapatku."

__ADS_1


Eka terlihat bahagia. Ia langsung berlari mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memperlihatkan kepada Irene. Ada beberapa lembar gambar yang ia telah buat.


Irene memperhatikan hasil rancangan Eka. Menurutnya, itu tidak terlalu buruk. "Kenapa kamu tidak bertanya pada Kak Alfa? Aku rasa dia lebih kompeten untuk memberikan saran dari pada aku."


"Rasanya sungkan, aku masih baru bekerja di sini. Aku lihat Kak Alfa juga sepertinya sibuk, bahkan ia jarang bisa datang ke kantor," ujar Eka.


"Menurutku ini sudah bagus. Tapi, karena kamu sepertinya ingin merancang sebuah gaun peri, aku rasa akan lebih bagus jika bagian bawah gaunnya dibuat bergelombang. Kamu bisa memakai beberapa layer kain di bagian rok bawah agar tampak mengembang. Lalu, jangan pakai model tali spaghetti di area pundak. Lebih baik ini dibuat satu lengan saja seperti ini."


Irene terlihat memberikan sedikit revisi gambar pada sketsa buatan Eka. Ia juga menjawab pertanyaan yang diberikan mahasiswi jurusan desain dan mode itu, padahal ia sendiri seorang mahasiswi ekonomi.


"Terima kasih, ya! Saranmu sangat membantuku. Kalau untuk bahan, menurutmu apa yang bagus?"


"Pilih saja bahan organza. Untuk bagian furing bisa ditambahkan bahan katun agar tidak terasa panas."


Irene menyunggingkan senyum. "Aku malah senang jika diajak berdiskusi, kapan saja kamu ingin bicara denganku, katakan saja," katanya.


"Kalau desainku mendapatkan nilai yang baik, aku akan mentraktirmu kapan-kapan."


"Aku sangat menunggunya," ucap Irene. Ia memang paling suka saat mendengar kata traktiran.


"Oh, iya! Kenapa aku jadi lupa membantumu mencoba baju ini. Kak Alfa bisa marah!" Eka baru saja sadar akan tugasnya. Ia cepat-cepat mempersiapkan baju dan aksesoris yang diperlukan.

__ADS_1


Sementara, di luar Alan sudah mengenakan setelan jas pengantinnya. Ia merasa cocok mengenakan pakaian rancangan Irene.


"Kenapa dia lama sekali di dalam? Apa Irene pingsan?" gumam Alfa yang sudah cukup lama duduk menunggu di sana.


"Apa kamu selalu terburu-buru dengan setiap client-mu? Atau ini karena Irene?" sindir Alan.


"Aku serius, biasanya asistenku tak akan begitu lama membantu memasangkan gaun pengantin dan aksesorisnya. Apa yang mereka lakukan, aku jadi penasaran."


"Biarkan saja dia menikmati waktunya di dalam. Mungkin ada banyak yang harus dilakukan karena ia wanita. Aku akan membayar waktumu yang tersita saat ini, jangan khawatir," ucap Alan.


"Ah! Kakak membuatku jadi seperti adik yang tidak tahu diri. Aku bahkan bisa memberikan jasa ini gratis karena kamu kakakku," kilahnya.


"Tidak masalah kalau aku harus tetap membayar, sepuluh kali lipat juga aku mau. Tapi, tolong perlakukan Irene dengan baik. Bagaimanapun juga, dia calon istriku, calon kakak iparmu," kata Alan.


Alfa langsung terdiam mendengar nasihat dari kakaknya. "Apa ... Aku keterlaluan padanya?" tanya Alfa.


"Menurutmu bagaimana sikapmu kemarin padanya?" tanya Alan balik.


Alfa menghela napas. Ia juga heran dengan dirinya sendiri yang kemarin sempat terlihat marah saat berbeda pendapat dengan Irene. Ia merasa harga dirinya seperti terluka karena Irene mengkritik rancangannya. Padahal, yang paling utama dalam sebuah rancangan gaun pengantin adalah kenyamanan pemakainya, bukan kepuasan perancangnya.


"Sebenarnya aku masih tidak yakin kalau Kakak mau menikahinya. Rasanya ...." Alfa tak mampu melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Aku sudah bilang, kan, kalau aku menyukainya. Aku menyukai Irene, Alfa. Jadi, kamu jangan mengangganggunya lagi, terutama jika aku tak ada di dekatnya. Aku akan marah kalau sampai dia kesulitan karena dirimu." Alan memberikan ultumatum.


"Iya, iya ... Aku juga tidak pernah membenci Irene. Hanya saja ... Ah! Sudahlah!"


__ADS_2