Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 297


__ADS_3

"Oh, siapa ini?" tanya Indira ketika melihat kedatangan seorang wanita di sebelah Alex.


"Erika, Tante," jawab Erika seraya menyunggingkan senyum.


"Oh, apa ini pacarnya Alex?" telisik Indira.


"Dia temanku, Ma. Teman baikku," sambung Alex agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Ah, ya ... Ayo, silakan masuk, Erika." Indira mengajak keduanya masuk.


"Terima kasih, Tante," jawab Erika.


Saat mereka memasuki ruang tengah, sudah terlihat bahwa Alfa, Arvy, dan Ares sudah ada di sana. Mereka menatap tajam ke arah pintu masuk ketika Alex dan Erika memasuki rumah.


"Wah, lihat siapa yang datang? Tahanan lepas kebetulan berkunjung ke rumah kita, ya?" sindir Arvy. Ia sama sekali tidak bisa menahan diri untuk menyembunyikan rasa kesalnya.


"Arvy, jangan bicara sembarangan. Alex adalah saudaramu. Jangan perburuk situasi ini dengan kata-kata yang tidak pantas!" bentak Vito yang baru saja keluar dari kamarnya dan mendengarkan perkataan pedas yang terlontar dari mulut anak keempatnya itu.


Alfa menggertakkan giginya, merasa tidak senang dengan kehadiran Alex. Begitu pula Ares yang membuang muka dan memilih tidak peduli dengan keberadaan mereka.


"Kalian semua harus saling menghormati dan memberikan kesempatan pada Alex. Semua orang bisa berubah dan belajar dari kesalahan. Mari kita mencoba menjaga keharmonisan keluarga kita," nasihat Indira.


Alex hanya terdiam menerima respon penolakan dari saudara-saudaranya. Sementara, Erika ikut merasa tidak nyaman berada di sana.

__ADS_1


"Kalian masih mau bersikap kekanakkan seperti ini?" tegur Vito. Ia kecewa melihat anak-anaknya saling bermusuhan.


"Ayolah, malam ini kita akan makan malam bersama. Bukankah tidak menyenangkan jika suasananya seperti ini?" bujuk Indira. Ia juga ingin anak-anaknya bisa akur kembali.


"Baiklah, kita semua harus berusaha untuk menghadapi situasi ini dengan dewasa. Mari kita mencoba menjalani makan malam ini dengan baik," kata Alfa sedikit mengalah. Meskipun ia tetap tidak suka pada perbuatan Alex yabg dulu, ia berusaha menghargai keberadaan ayah dan ibunya.


"Arvy, Ares," panggil Vito memberi kode.


Arvy masih terlihat tidak puas, tetapi ia menahan diri untuk tidak memperburuk suasana lagi. Ia mengangguk setuju meski masih terlihat kesal. "Baiklah, aku tidak akan berkomentar. Tapi jangan berharap aku akan menerima keberadaan dia begitu saja," katanya.


Vito menatap Arvy dengan tegas. "Arvy, kita tidak meminta kamu untuk menerima keberadaan Alex yang tiba-tiba, tapi setidaknya berikanlah kesempatan pada Alex untuk memperbaiki hubungannya dengan keluarga."


"Ya, ya, ya ... Terserah Papa saja. Kapan makan malamnya akan dimulai?" Arvy berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Kak Alan dan Irene belum datang, Kak," sahut Ares.


"Sudah, tadi sore Mama sudah menelepon Irene secara langsung," tukas Indira.


"Paling Kak Alan malas datang soalnya ada narapidana di rumah ini!" celetuk Arvy.


"Arvy!" sekali lagi Vito membentak putranya yang suka bicara sembarangan.


Suasana menjadi kembali tegang, tetapi mereka semua setuju untuk mencoba menjalani makan malam dengan sikap terbuka. Meskipun ada rasa tidak suka yang masih ada di antara mereka, mereka tahu bahwa keluarga adalah hal yang penting.

__ADS_1


"Sudah, sudah! Kita tunggu mereka di ruang makan saja. Mama yakin mereka akan datang," ajak Indira. Ia sedikit pusing mendengar perdebatan di rumahnya.


Mereka duduk di sekitar meja makan, dengan keheningan yang agak canggung. Tetapi, dengan waktu, mereka mulai berbicara, mencoba melupakan perbedaan mereka untuk sementara waktu. Indira dengan penuh kasih sayang memandu percakapan, berusaha menciptakan suasana yang hangat dan akrab.


"Sepertinya aku tidak asing dengan Erika. Apa dulu kita pernah bertemu?" tanya Indira untuk menghidupkan suasana makan malam di sana.


"Iya, Tante. Waktu kecil saya kadang main ke sini bareng Alex," jawab Erika.


"Oh, jangan-jangan kamu anak tomboy yang suka manjat pohon di belakang rumah?" tebak Indira.


Erika tersenyum lebar. "Iya, Tante. Itu saya," jawabnya.


"Kamu putrinya Pak Revaldi?" tanya Vito.


Erika mengangguk. "Benar, Om," jawabnya.


"Pantas, Pa. Rasanya tidak asing. Sekarang dia juga sudah besar dan jadi cantik," guman Indira.


"Maaf, kami terlambat!" seru Alan.


Di tengah-tengah acara makan malam, Alan dan Irene akhirnya tiba. Indira bahagia melihat kehadiran keduanya. Ia langsung bangkit dari tempatnya dan memeluk putra dan menantunya.


"Sayang, ayo, kalian ikut makan malam bersama kami," ajak Erika.

__ADS_1


Keduanya menurut. Sekilas tatapan mata Alan bertemu dengan Alex. Ia merasa tidak senang. Alan sengaja mengalihkan perhatian ke tempat lain.


Meskipun ada ketegangan yang masih terasa di udara, keluarga tersebut berkomitmen untuk menyelesaikan perbedaan mereka dengan dewasa dan berusaha memperbaiki hubungan satu sama lain. Makan malam tersebut adalah langkah pertama mereka dalam proses rekonsiliasi keluarga, meskipun tantangan dan rintangan mungkin masih menunggu di depan.


__ADS_2