
Irene antusias memandangi makanan yang baru saja dihidangkan di hadapannya. Ia memesan banyak makanan berkuah pedas yang menurutnya mampu menghangatkan tubuh.
"Selamat makan ...," ucapnya seraya mulai menikmati makannya.
Ia memperlihatkan ekspresi yang ceria setiap kali memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Meskipun pedas, justru membuatnya semakin semangat untuk terus makan.
"Uhuk! Uhuk!"
Perhatian Irene pada makanan peralih kepada Alan yang baru saja tersedak makanan. "Minum dulu, Kak!" ucapnya seraya mendekatkan gelas ke arah Alan.
Alan meminum air di dalam gelas itu sampai tersisa setengahnya. Wajah Alan terlihat berkeringat dan bibirnya menjadi merah.
"Kak Alan kepedesan, ya?" tanya Irene. Ia memang memesankan makanan dengan level pedas paling tinggi. Ia juga merasa kepedasan namun masih kuat menikmatinya.
"Tidak, aku hanya tersedak," kilah Alan.
Meskipun berusaha menutupi, namun Irene tahu kalau Alan menahan lidahnya yang terbakar karena makanan pedas itu. "Minum ini, Kak!" Irene mengambilkan sebuah kotak susu kemasan dari dalam tasnya untuk Alan.
Alan menerimanya dan mengisapnya.
"Seharusnya Kak Alan tadi bilang kalau tidak suka pedas. Aku pesan semuanya level super, Kak," ujar Irene.
Alan hanya terdiam, ia merasa malu dan harga dirinya sedikit jatuh karena tidak bisa menahan pedasnya makanan itu.
Irene memanggil seorang pelayan dan memesankan makanan lain yang tidak pedas. Ia tidak ingin hanya dirinya yang menikmati makanan itu.
***
"Ren, masuk ke ruanganku sebentar!" pinta Alfa saat Irene baru saja datang ke tempat kerjanya.
__ADS_1
Niatnya Irene akan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda kemarin. Ia mengikuti Alfa masuk ke dalam ruangan.
"Kenapa, Kak?" tanya Irene heran. Ia rasa wajah Alfa menunjukkan raut sedikit kesal.
"Apa kamu membagikan gaun rancangan kita kemarin pada orang lain?" tanya Alfa.
Irene melebarkan mata terkejut. "Untuk apa aku melakukannya, Kak? Memangnya aku kurang kerjaan?" bantahnya.
Alfa menarik napas dalam-dalam. Ia mengambil ponselnya dan menunjukkan sesuatu kepada Irene. "Lihat ini, ada desainer yang memposting rancangannya, sama persis dengan gambar buatanmu, kan?"
Irene sampai keheranan ada orang yang bisa melakukan hal itu. "Kak, aku hanya mengambar sesuai apa yang kita diskusikan kemarin. Kakak juga tahu sendiri kan, kemarin Kak Alan menjemputku dan langsung pulang. Desain juga aku tinggalkan di ruang kerja Kak Alfa. Apa menurut Kakak aku tipe orang yang bisa melakan hal yang serendah itu? Aku juga tidak melakuakan plagiasi atau pencurian karya ...."
"Aku juga tidak bermaksud menuduh, Ren. Aku hanya heran saja kenapa bisa desainmu diunggah orang di internet," gumam Alfa.
"Beri aku kesempatan untuk aku membuktikan kalau aku tidak salah, Kak. Aku benar-benar tidak melakukannya," kata Irene.
Alfa menganggukan kepala. Irene membisikkan suatu rencana kepada Alfa.
"Terserah kamu saja, aku akan mendukung," ucap Alfa.
Tok tok tok
Pintu ruangan Alfa diketuk. Nadia datang membawa nampan berisi minuman segar untuk Alfa dan Irene.
"Pak, ini minumannya," ucap Nadia.
"Terima kasih, Nadia," kata Alfa.
"Nadia, aku boleh tanya sesuatu kan?" Irene menghentikan langkah Nadia yang hendak keluar.
__ADS_1
"Mau tanya apa?" tanya Nadia penasaran.
"Kemarin aku ketinggalan barangku di tempat kerja, jam tangan Rolex pemberian calon suamiku. Apa selain kamu kemarin ada orang yang masuk ke dalam sana?" tanya Nadia.
Nadia tertegun. Ia tidak tahu apa-apa tentang kejadian itu. "Aku rasa tidak ada yang masuk ke sana. Kemarin juga aku sepertinya tidak melihat apa-apa," kilahnya.
"Benarkah? Padahal aku meletakkannya di meja dekat gambar desainku," kata Irene.
"Sebelumnya tidak pernah ada kasus seperti ini, Ren. Semua barang aman-aman saja. Kamu pasti akan dimarahi Alan karena telah menghilangkannya," ujar Alfa.
"Iya, Kak. Kemarin Kak Alan juga sempat menanyakan kenapa aku tak memakai jam tangannya. Aku bilang ketinggalan di rumah. Kalau sampai Kak Alan tahu, aku bisa ditinggalkan olehnya."
"Mungkin kamu lupa menaruhnya di rumah, aku benar-benar tidak melihatnya kemarin," kata Nadia.
"Benar kata Nadia, Ren. Cari dulu di rumah," usul Alfa.
"Sudah, Kak. Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak ketemu. Aku lapor polisi saja bagaimana?" tanya Irene.
Nadia membulatkan mata. Wajahnya terlihat tegang.
"Aku terserah padamu saja, Ren. Lagipula kan kamu yang kehilangan benda itu," kata Alfa.
"Kalau menurut aku sih jangan dulu lapor polisi, Pak!" sahut Nadia.
Alfa mengernyitkan dahi. "Memangnya kenapa? Barang Irene kan hilang di sini, itu juga menjadi tanggung jawab kita juga."
"Iya sih, Pak. Tapi, kalau melibatkan polisi nanti butik ini akan tersorot negatif. Lebih baik kita usaha untuk mencarinya bersama-sama," usul Nadia.
"Bagaimana, Ren?" Alan kembali meminta pendapat pada Irene.
__ADS_1
"Baiklah, tidak masalah. Kalau nanti belum ketemu juga, baru aku akan lapor polisi."