Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 301


__ADS_3

Indira duduk di ruang keluarga yang nyaman, mengundang Alex dan Erika untuk duduk bersamanya. Mereka berdua tampak sedikit tegang namun tetap sopan. Sementara, di ruang tamu masih ada Vito bersama Alan, Alfa, dan arvy.


"Jadi, Erika, apa kesibukanmu belakangan ini? Aku sudah lama tidak mendengar kabarmu," tanya Indira.


"Oh, saya sebenarnya cukup sibuk dengan pekerjaan di Narendra Group. Saya bekerja di departemen pemasaran, dan tugas-tugasnya cukup menuntut," jawab Erika dengan nada bahasa yang santun.


"Narendra Group? Itu suatu kebetulan yang menarik. Aku tidak tahu bahwa kamu bekerja di perusahaan keluarga kami?" Indira terkejut mengetahui Erika ternyata juga bekerja di perusahaan milik suaminya.


"Iya, Tante. Saya sudah cukup lama bekerja di sana. Bareng Alex saat masuk perusahaan," jawab Indira.


Indira mangguk-mangguk. "Suamiku tidak pernah cerita kalau kamu kerja di sana," gumannya.


"Ma, mana mungkin Papa tahu? Dia pasti sudah lupa dengan Erika yang dulu," ujar Alex.


"Ah, benar juga. Tapi, seharusnya Erika bilang dong sama Pak Vito kalau kamu dulu anak yang sering main ke rumah," kata Indira.


Erika tersenyum lebar. "Mana berani saya bicara secara langsung dengan pimpinan tertinggi perusahaan, Tante," ucapnya.


"Lain kali tidak usah malu, hubungan kita ini kan sudah seperti keluarga," pinta Indira.


"Iya, Tante. Terima kasih."


Tutur kata Erika yang santun membuat Erika tak henti-hentinya terkesima dengan wanita muda itu. "Bagaimana ceritanya kok kamu bisa bekerja di perusahaan keluarga kami? Ayahmu bukannya punya perusahaan sendiri?" telisiknya.


Erika melirik sekilas ke arah Alex. "Ah, itu ... Saya memilih bekerja di sana karena merasa terdorong untuk membuktikan kemampuan. Saya ingin mencapai kesuksesan dengan usaha sendiri," kilahnya.


Ia menyembunyikan alasan sesungguhnya bahwa ia rela bekerja di sana hanya agar bisa selalu dekat dengan Alex. Erika secinta itu kepada Alex. Namun, perasaannya tak pernah terbalaskan.


Indira tersenyum. "Itu sangat mengesankan, Erika. Aku yakin kamu akan berhasil." pujinya.


"Terima kasih," ucap Erika.


Ia selalu bangga kepada wanita-wanita yang mau mandiri. Ia sudah membuktikan sendiri bahwa kemandirian seorang wanita sangat berguna untuk menghadapi situasi tidak terduga dan tidak diinginkan.


Indira pernah menggantikan suaminya yang lumpuh sebagai pencari nafkah demi bertahan hidup di wilayah pelosok.

__ADS_1


"Dan kamu juga sangat cantik, cocok sekali dengan Alex," sambung Indira.


"Mama ...." tegur Alex. "Kita hanya teman. Jangan mencampuradukkan hal-hal seperti itu!" timpalnya. Ia tidak mau membuat Indira tidak nyaman berada di sana.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman, Alex. Aku hanya berpendapat bahwa Erika adalah sosok yang cantik, baik, dan menarik. Tapi tentu saja, itu adalah keputusanmu sendiri," kata Indira.


Erika mencoba tersenyum, meskipun ada kekecewaan yang terlihat di matanya. Dia ingin menjelaskan hubungan mereka yang sebenarnya.


"Benar, Tante. Kami memang hanya teman dekat. Kami saling mendukung dan menghargai satu sama lain," katanya.


Alex mengangguk setuju. "Kami memiliki ikatan persahabatan yang kuat, tapi itu bukanlah hubungan romantis. Erika teman yang sangat baik. Bahkan dalam kondisiku yang terburuk, dia masih tetap ada di sampingku," pujinya.


Indira melihat ke dalam mata mereka berdua, mencoba memahami situasi dengan lebih baik. Ia merasa ada yang berbeda antara sorot mata dengan ucapan mereka.


"Baiklah, aku mengerti. Maaf jika aku membuat kesimpulan yang salah. Tapi, sebagai ibu, aku hanya ingin melihat kalian berdua bahagia. Jaga terus hubungan baik kalian," nasihat Indira.


"Terima kasih, Tante. Saya juga ingin melihat Alex bahagia. Persahabatan kami sangat berarti bagi saya," ucap Erika dengan senyuman terpaksanya.


"Bukan hanya untukmu, Erika. Persahabatan kita juga berarti untukku. Terima kasih untuk segalanya," kata Alex pada Erika.


"Baiklah, aku menghargai kejujuran kalian. Namun, jika suatu saat perasaan kalian berubah, jangan ragu untuk mengakuinya," pancing Indira.


Alex dan Erika saling bertatapan. Mereka merasa ucapan Indira merupakan hal yang mustahil. Mereka lebih nyaman memiliki status sebagai teman. Hubungan mereka hampir rusak saat Erika mengakui perasaannya. Bahkan saat itu Alex menganggap tidak pernah mendengar ucapan Erika.


"Terima kasih, Ma. Kami akan selalu jujur satu sama lain." Alex lebih memilih mengiyakan ucapan mamanya dari pada masalahnya lebih berlarut-larut.


"Oh, iya, Ma. Ini sudah jam 10 malam. Aku mau mengantar Erika pulang dulu," kata Alex.


Indira mengernyitkan dahi. "Kenapa kamu mau pulang? Menginap saja di sini. Ada banyak kamar di sini," bujuknya.


Erika tersenyum kikuk. "Maaf, Tante. Sepertinya tidak bisa untuk malam ini. Saya ada urusan penting besok," tolaknya dengan sopan.


"Oh, begitu, ya? Ya sudahlah, tidak apa-apa kalau kamu mau pulang," kata Indira dengan ekspresi memelas. "Tapi, lain waktu datang lagi ke sini, ya! Jangan sungkan utuk datang," pintanya.


Erika menganggu. "Saya pamit dulu, Tante," katanya seraya mencium punggung tangan Indira dan melabuhkan pelukan.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan," pesan Indira.


Alex mengajak Erika untuk keluar lewat pintu samping. Ia tidak mau melewati ruang tamu karena takut terlihat oleh saudaranya yang lain.


"Kamu harus jadi orang yang lebih baik ya, Lex," ucap Erika kepada lelaki yang berjalan di sampingnya.


Ia tak bisa memberikan bantuan apa-apa. Ia hanya bisa mendukungnya. Ia tahu jika saudara-saudara Alex belum mau menerima lelaki itu.


"Oh, iya, Lex. Kamu antar aku sampai di gerbang saja. Aku sudah pesan taksi," kata Erika.


"Hah? Kamu gimana, sih! Aku kan bisa mengantarmu," ujar Alex dengan nada kesal.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Nanti kamu jadi repot harus bolak-balik," ujar Erika.


Setelah perdebatan yang cukup panjang, Alex akhirnya mengalah untuk membiarkan Erika pulang naik taksi. Sang sopir juga sudah menunggu di depan.


"Aku pamit du ...."


Belum sempat Erika menyelesaikan perkataannya, ia sudah dikagetkan dengan pemandangan yanh tanpa sengaja ia lihat. Tampak Ares dan Irene tengah berpelukan di atas balkon. Alex turut melihat ke arah yang sama sama dan akhirnya turut terkejut.


"Lex, itu ... Irene, kan?" tanyanya memastikan.


"Iya, itu Irene dan Ares," kata Alex.


"Kok ... Bisa begitu, ya?" tanya Erika heran.


Alex mengangkat kedua bahunya mengisyaratkan bahwa ia tidak tahu.


"Rasanya tidak mungkin kalau seorang Irene suka begitu di belakang Kak Alan."


"Sudahlah, kamu tidak perlu mengkhawatirkan orang lain," usul Alex. Ia mendorong Erika agar segera keluar gerbang dan masuk ke dalam taksi.


"Sampai jumpa, Lex," kata Erika yang melihat lewat kaca jendela mobil.


"Hati-hati di jalan. Selamat istirahat" kata Alex.

__ADS_1


Keduanya saling melambaikan tangan.


__ADS_2