Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 312


__ADS_3

"Adila ... Adila ... Bangun!" panggil Arvy.


Adila perlahan membuka mata. Dilihatnya Arvy tengah berdiri di hadapannya dengan pakaian yang lengkap. Sementara, ia masih menggunakan balutan kain semalam. Tidurnya terasa nyenyak sampai ia baru terbangun.


"Ayo, sarapan dulu!" ajak Arvy.


Lagi-lagi lelaki itu menawarkan ikan bakar kepadanya. Di dalam hutan tak ada yang bisa diharapkan untuk dimakan selain apa saja yang ada di alam.


"Setelah ini ayo kita ke pantai. Siapa tahu ada tim penyelamat yang datang," lanjut Arvy.


"Ah. Hm, iya. Aku mau memakai bajuku. Kamu keluar dulu, ya," pinta Adila. Ia merasa pakaiannya yang semalam juga sudah kering.


Arvy mengangguk. Ia lantas keluar dari sana dan menunggu di depan pondokan. Sembari menunggu, ia memandangi sekeliling. Tempat itu sangat sepi.


Pagi-pagi sekali ia keluar untuk mengecek keadaan di tepi pantai. Sepertinya belum ada pertolongan yang datang. Ia kembali masuk hutan untuk berburu ikan sekaligus mandi. Tak ada binatang yang lebih mudah ditangkap selain ikan.


"Masuklah, aku sudah selesai!" seru Adila dari arah dalam.


Arvy kembali masuk. Mereka duduk di dekat perapian menyantap ikan bakar bersama.

__ADS_1


"Semalam kamu mengigau. Apa kamu mimpi buruk?" tanya Arvy.


Adila menunda suapan yang hampir masuk ke dalam mulutnya. "Memangnya aku mengigau apa?"


"Kamu menjerit ketakutan dan berkali-kali mengatakan 'jangan ... Jangan ...'. Sepanjang malam aku jadi khawatir kepadaku," ujar Arvy.


Selera makan Adila tiba-tiba hilang. Ia tidak menyangka jika Arvy akan mengetahui traumanya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Arvy memastikan.


Adila mengulaskan senyum. "Mungkin karena adegan syuting waktu di pantai sebelum kita terdampar di sini. Itu hanya mimpi," kilahnya untuk mengalihkan pembicaraan.


Adila tertawa kecil. "Kita sudah putus, Arvy. Kenapa kamu masih bersikap baik seperti ini padaku," gumannya. Ia tidak pernah menyangka jika lelaki itu masih sangat peduli kepadanya.


"Kamu yang meminta untuk putus, bukan aku yang mau," timpal Arvy. Raut wajahnya langsung berubah serius. Suasana di antara mereka sedikit tegang.


Adila merasa kikuk karena memang dia yang terus membuat masalah agar Arvy mau putus dengannya.


"Kenapa sih, kamu sepertinya sangat ingin putus denganku? Apa aku sangat menyebalkan?"

__ADS_1


Arvy tak tahan lagi untuk bertanya. Ia merasa tak pernah melakukan satu hal apapun yang membuat Adila bisa kecewa padanya. Sejak dulu ia memperlakukan Adila dengan baik meskipun dengan menyembunyikan hubungan mereka dari media.


Adila terdiam. Ia tak bisa menjawab pertanyaan yang Arvy berikan kepadanya.


"Kamu tahu tidak, hatiku sangat sakit saat kamu mengatakan kata-kata itu padaku. Padahal aku tidak pernah punya masalah denganmu. Aku selalu berusaha berhati-hati agar tidak menyakiti perasaanmu."


Adila merasa bersalah mendengar ucapan Arvy. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Keduanya melanjutkan sarapan dengan saling diam.


Usai sarapan, mereka berjalan meninggalkan pondokan. Mereka duduk di bawah pohon kelapa di tepi pantai. Belum ada tanda-tanda tim penyelamat yang datang untuk mereka.


"Apa kita akan terdampar selamanya di sini?" tanya Adila dengan raut wajah putus asa.


Arvy menyunggingkan senyum. "Apa kamu tidak suka berdua saja denganku seperti ini?" tanyanya.


"Bukan seperti itu ...." Adila menyangkal.


Arvy bangkit dari tempatnya. Ia mengambil sebilah kayu lalu menuliskan sesuatu di atas hamparan pasir. Ia berharap akan ada orang yang melihat tulisannya.


***

__ADS_1


__ADS_2