
"Kemarikan lenganmu!" pinta Alan.
Irene keheranan mendengar Alan berkata seperti itu kepadanya. Tanpa disangka, ternyata Alan melihat bekas luka tembakan yang pernah Irene rasakan. Buru-buru Irene menepis tangan Alan darinya dan kembali menyembunyikan bekas luka itu.
"Jadi, waktu itu kamu yang ada di sana?" tanya Alan dengan raut wajah penuh penyesalan.
Irene tidak paham dengan apa yang Alan katakan. Ia hanya memandangi lelaki itu saja.
"Kamu yang pakai topeng rubah? Waktu menghadapi Big-O?" Alan mempertegas pertanyaannya.
"Dari mana Kakak tahu?" kini giliran Irene yang penasaran.
Alan terdiam.
"Jangan bilang Kak Alan dari Black Shadow," ucap Irene.
"Aku yang menolongmu waktu itu. Dengan motorku!" tegas Alan. Ia merasa sudah waktunya untuk mengatakan segalanya secara terbuka.
Untuk beberapa saat Irene rasanya mau lemas mengetahuinya. "Kak, yang benar saja. Itu ...."
"Aku tahu. Organisasiku memang selalu jadi intaian negara, juga pihak luar negeri. Pasti itu yang akan kamu bahas," sahut Alan.
Irene memijat keningnya. Ia menghela napas dan menghembuskannya secara kasar. Ia tak menyangka jika Alan menjadi salah satu bagian dari Black Shadow.
"Percayalah, organisasiku tidak seburuk itu," ucap Alan. "Aku juga sudah berencana untuk mengalihkan anak buahku agar mendapatkan pekerjaan yang layak dan lebih baik."
Black Shadow memang selalu mencari potensi berita atau aib tokoh berpengaruh dalam suatu negara yang bisa cukup memberikan imbas besar jika terkuak. Setiap kali mereka menemukan bukti penyelewengan, mereka akan meneror pihak tersebut dengan tersebarnya berita.
Mereka akan meminta imbalan yang besar jika tidak ingin berita itu terkuak. Selama ini Black Shadow mendapatkan banyak penghasilan dari hal tersebut.
__ADS_1
"Selama ini yang aku yakini bahwa bukan suatu kejahatan untuk merampok kekayaan dari para penjahat. Aku hanya mendapatkan uang dari ketakutan mereka saja," kata Alan.
"Itu sama saja membantu menutupi kejahatan mereka, Kak. Seharusnya hal itu dilaporkan pada pihak berwenang agar aset mereka dikembalikan pada negara," ujar Irene. Ia turut merasa bersalah ternyata selama ini salah satu client yang ia lindungi melakukan hal semacam itu.
Alan tertawa kecil mendengar pendapat Irene. "Justru kebanyakan yang aku rampok adalah mereka, Sayang. Lalu, aku harus melapor kemana lagi karena kebanyakan memang sudah bobrok?" tanyanya.
"Percayalah, pasti masih ada orang yang jujur," kata Irene.
"Aku tahu. Tapi, dari pada melihat kasus mereka terhenti tanpa kelanjutan dan uang negara habis untuk kalangan tertentu, aku sengaja main kucing-kucingan dengan pemerintah lebih dulu. Setelah semuanya jelas, aku akan membuka mereka satu persatu."
Alan menepuk puncak kepala Irene yang masih tampak tercengang mendengar kejujurannya.
"Itu sangat beresiko, Kak. Kalau ketahuan ...." Irene mengungkapkan kekhawatirannya.
Alan menyunggingkan senyum. "Aku punya kamu yang bisa aku andalkan," katanya.
Irene menatap mata Alan dalam-dalam. "Sistem keamanan yang aku bangun tidak selamanya aman, Kak. Bahwa waktu itu sempat ketahuan oleh Big-O."
Alan mengambil tangan Irene dan menciumnya. "Setelah jatuh cinta padamu, aku ingin memiliki kehidupan yang biasa dan sederhana saja. Mungkin seperti kakek dan nenekmu yang tinggal di desa."
Irene merasa meleleh. Ia menyandarkan kepalanya dengan manja pada bahu Alan. "Bicara tentang kakek dan nenek, aku belum sempat mengunjungi mereka setelah kembali."
"Kamu tenang saja, aku sudah menempatkan anak buahku untuk menjaga mereka."
Irene menegakkan kembali tubuhnya. Ia menatap Alan secara serius. "Kak Alan tahu kalau mereka diawasi anak buah Kak Hamish?" tanyanya penasaran
Alan mengangguk. "Sebenarnya aku menyuruh anak buahku untuk menyelidi tentangmu. Waktu aku datang ke tempatmu, Ron memberitahukan tentang Hamish kepadaku."
"Aku menemui kakek dan nenek, menanyakan tentangmu. Katanya kamu kemungkinan dibawa ke wilayah pelosok pedesaan. Aku sampai mencarimu beberapa hari dan tidak menemukan apa-apa. Setelah bertemu Tuan Alberto, barulah ada titik terang tentang keberadaanmu," kata Alan.
__ADS_1
Irene menitihkan air matanya. Ia kembali teringat peristiwa menyedihkan yang sempat dialaminya. Ia memeluk Alan.
"Maaf, ya," ucapnya.
Alan kembali mengusap kepala Irene. "Kenapa harus minta maaf? Tidak ada yang salah. Aku yakin itu juga bukan kemauanmu," katanya berusaha menenangkan.
"Kak Hamish sebenarnya orang baik, jangan membencinya," kata Irene.
Alan terlihat menghela napas. "Aku tahu. Bagaimanapun juga dia sepupumu. Tapi, aku tetap tidak bisa memaafkan karena dia telah menculik calon istriku," katanya.
"Tapi waktu itu aku baru kamu usir," sindir Irene.
"Ah, ya, aku juga melakukan kesalahan waktu itu. Maafkan aku." Alan tak bisa mengelak dari perkataan Irene.
Kincir raksasa yang mereka naiki berhenti. Waktu mereka di sana telah habis. Alan menggandeng tangan Irene dan mengajaknya turun dari sana untuk bergantian dengan pengunjung lain.
"Kamu masih mau mencoba wahana lain?" tanya Alan.
Irene tampak sudah tidak bersemangat di sebelahnya karena menangis. "Kita pulang saja, aku sudah lelah," kata Irene.
"Baiklah, akhir pekan ini kita ke tempat kakek dan nenek. Mereka pasti senang kamu sudah kembali," usul Alan.
"Iya," jawab Irene lirih.
Ia kembali teringat bahwa mereka sebenarnya bukan kakek dan nenek aslinya. Kenyataan itu semakin membuatnya sedih. Meskipun mereka tak pernah memperlakukannya secara buruk, namun kedekatan mereka rasanya tak lagi sama.
"Bagaimana kalau pernikahan kita dipercepat?" tanya Alan.
"Memangnya rencana pernikahan kita masih kurang cepat? Ibumu bahkan sudah menyuruhku untuk fitting gaun pengantin," ujar Irene.
__ADS_1
"Sebulan dua bulan bagiku sangat lama. Kalau bisa kita menikah dalam minggu ini. Akan aku coba diskusikan dengan kakek dan nenekmu," kata Alan.
Irene hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan Alan. Lelaki itu terkesan sangat santai dalam membicarakan pernikahan mereka. Padahal, orang tua Alan menginginkan adanya sebuah pesta pernikahan yang besar.