
"Bagaimana lagu barunya? Kamu sudah menyelesaikannya, kan?" tanya Marco yang duduk di belakang kemudi dalam perjalanan mengantarkan Arvy ke tempat syuting.
Arvy hanya bisa memijit keningnya. Di sela-sela jadwal yang padat, ia masih diminta sang manajer untuk membuat lagu demi debut barunya sebagai penyanyi pendatang baru. Ia benar-benar sedang tidak bisa berpikir apalagi disuruh untuk mengantar lagu.
"Belum selesai lagunya, Kak," jawab Arvy.
"Ayolah, berusaha lebih keras. Hanya satu lagu saja. Aku yakin debutmu akan sukses besar!" Marco sangat antusias dengan artisnya yang satu itu.
Meskipun dunia keartisan merupakan cita-cita Arvy, namun terkadang ia merasa jenuh dan lelah menjalani kesehariannya. Apalagi jadwal yang padat membuat dia sulit bertemu dengan sang kekasih. Ia tidak bisa bebas menjalin hubungan untuk menjaga perasaan para penggemar.
Terkadang ia merasa aneh sendiri memikirkan para penggemar yang suka melarang idolanya menjalin hubungan dengan orang lain. Padahal, kalau penggemar pasti akan bahagia jika idolanya bahagia juga.
"Apa kamu tidak akan protes? Kalau aku jadi penyanyi, kamu akan lebih sibuk untuk mengantarku ke tempat konser. Begini saja sering mengeluh apalagi sampai ke luar kota atau bahkan luar pulau," sindir Arvy. Marco semakin lama terlihat semakin menuntut dirinya akan banyak hal.
"Tenang, Arvy. Sekarang aku sudah ikut fitnes demi menjaga kebugaran tubuh. Aku akan menjadi seorang manajer yang bisa diandalkan!" Marco membanggakan dirinya sendiri.
Arvy hanya mencebikkan bibir. Manajernya memang suka berbicara berlebihan saat awal penandatanganan kontrak. Setelah berjalan beberapa hari, biasanya sikap marah-marah mulai keluar.
"Aku sudah menyuruh Ron untuk menghubungi Hyena. Katanya dia mengenal Hyena."
Arvy menoleh ke arah Hyena. Wanita bersuara merdu yang sangat misterius itu ternyata ada yang kenal. "Lalu, bagaimana? Apa dia menyanggupi?" tanyanya ingin tahu.
"Aku belum tahu balasannya bagaimana. Kalau bisa diterima, aku yakin karyamu akan langsung meledak, Arvy!" lagi-lagi Marco sangat percaya diri.
Arvy hanya bisa menghela napas. Ia tidak yakin karirnya akan bagus jika memaksakan diri terjun ke dunia tarik suara. Beberapa contoh coveran lagu yang pernah ia nyanyikan, ada banyak yang berkomentar negatif.
"Apa aku menyerah saja ya, Kak? Aku merasa hal ini bukan bidangku," usul Arvy.
"Heh! Apa kamu sudah gila? Kita susah payah mendaki sampai di sini masa mau melepaskan begitu saja?" Marco memarahi Arvy.
__ADS_1
Arvy terdiam. Ia tidak mau terlalu berharap kali ini akan sukses. Apalagi sampai bisa mendapatkan bantuan dari seorang Hyena, artis virtual yang masih cukup terkenal di dunia maya.
***
Jeha dan Irene masih duduk menunggu di depan pintu ruang audisi. Di dalam sana tim penilai masih mendiskusikan siapa saja yang berhasil lolos audisi menjadi salah satu calon bintang baru perusahaan. Peserta lain yang masih bertahan di sana juga harap-harap cemas ingin terpilih juga.
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka. Seorang wanita keluar sembari membawa selembar kertas di tangannya. Ia bersiap memberikan pengumuman kepada para peserta yang telah mengikuti audisi.
"Baiklah, akan kami sampaikan lima peserta yang lolos audisi hari ini."
Wanita tersebut mulai menyebutkan satu per satu peserta yang terpilih. Setiap nama yang disebut, terdengar sorak sorai riuh dari para penonton yang memberi tepuk tangan dan selamat. Tiba giliran nama peserta terakhir yang belum diumumkan, semua berharap nama mereka yang disebut.
"Baiklah, peserta terakhir yang lolos adalah ...."
"Jeha, selamat mau lolos!" ucap wanita tersebut.
Jeha langsung berteriak kegirangan seraya mrmberikan pelukan gemas terhadap Irene. Ia masih belum yakin kalau dirinya akhirnya terpilih. Begitu pula dengan Irene, ia heran Jeha bisa lolos audisi. Padahal, penyanyi lain masih banyak yang kualitasnya bagus.
Suasana di tempat karaoke lumayan ramai. Jeha sengaja memilih satu kamar khusus untuk mereka berdua saja. Niatnya, ia ingin gila-gilaan berdua dengan Irene.
"Racun ... Racun ... Wanita racun dunia ...." Jeha menyanyikan dengan semangat lagu bergenre rock di hadapan Irene.
Irene tidak bisa berhenti tertawa saat melihat kelakuan Jeha yang gila. Ia kira Jeha seorang anak pendiam, ternyata bisa berperilaku gila juga.
"Giliranmu, Irene! Kamu harus menyanyi!" seru Jeha.
Irene menggeleng. Ia membiarkan temannya itu menyanyikan lagu-lagu yang ditampilkan monitor. Menurutnya, suara Jeha memang lumayan bagus.
"Ayolah ... Sesekali kita harus gila-gilaan. Ayo nyanyi bareng!" Jeha memaksa Irene untuk bangkit dari duduknya. Ia memberikan mic lain dan mengajaknya untuk bernyanyi bersama.
__ADS_1
"Tukang parkir ngombe dawet ... Ojo dipikir marai mumet ...."
Keduanya tampak tertawa-tawa ketika menyanyikan sebuah lagu yang mereka anggap lucu. Sesekali mereka bergantian melakukan gerakan random yang membuat tertawa sampai sakit perut. Baru kali ini mereka berdua gila-gilaan tanpa rasa malu.
"Jeha, aku mau ke toilet sebentar, ya!" pamit Irene sembari memegangi perutnya yang sakit karena kebanyakan tertawa.
Jeha hanya mengangguk. Ia juga masih tertawa dengan kekonyolannya sendiri. Irene keluar pintu ruangan menuju toilet terdekat.
Di area luar cukup lengang. Para pengunjung pasti sedang bersenang-senang di dalam ruangan masing-masing. Hanya ada seorang resepsionis yang berjaga di koridor.
Irene memasuki bilik toilet khusus wanita, melakukan apa yang ingin dia lakukan. Setelah selesai, ia mencuci tangan di washtafel sembari bercermin memperhatikan penampilannya. Penyamaran sebagai Irene jelek masih menempel sempurna dan baik.
"Alan Sayang ...."
Aktivitas Irene di dalam toilet sedikit terusik. Ia membulatkan mata mendengar ada suara seorang wanita menyebut nama Alan. Segera ia keluar dari toilet mengintip dari balik pintu. Tampak seorang wanita cantik dengan pakaian s3ksi menghampiri Alan dan merengkuh lengan Alan dengan mesra.
Wanita itu bermanja kepada Alan sembari mengajak untuk masuk ke dalam salah satu ruangan di tempat karaoke tersebut. Irene yang penasaran mengikuti mereka dari belakang. Wanita itu tampak dekat dengan Alan sampai berani mencium pipi Alan. Ada perasaan tidak suka yang singgah di hati Irene.
"Aduh!"
Seseorang mendorongnya masuk saat berdiri di depan pintu. Kehadiran Irene membuat Alan dan wanita itu terkejut. Irene tidak bisa menghindar lagi, ia sudah ketahuan.
"Irene? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Alan penasaran.
Irene salah tingkah. Ia bingung ingin menjawab bagaimana. Sementara, wanita yang ada di sebelah Alan juga terheran-heran memandanginya.
"Aku ... Aku kerja di sini, Kak," ucap Irene Asal.
Alan tampak mengerutkan dahi. "Kamu kerja di sini? Benarkah?" ia tampak tidak percaya.
__ADS_1
"Hahaha ... Iya, Kak. Supaya ada tambahan jadi aku mencari kerja sampingan." Irene memamerkan senyumannya.