
Irene mengenakan gaun indahnya berdiri di samping Alan yang berdandan rapi dengan setelan kemeja dan jas. Kedatangan mereka di negara itu mendapat sambutan yang sangat meriah. Mereka dibuatkan sebuah acara makan malam mewah dan dipertemukan dengan beberapa tokoh penting dari negara tersebut.
Keberadaan Irene sebagai Alenta di sisi Alan sangat menolong lelaki itu. Irene sangat fasih berbicara Bahasa Persia dengan orang-orang di sana. Tidak semua dari mereka bisa berbahasa Inggris, apalagi berbahasa Indonesia. Alan hanya mengandalkan terjemahan yang dilakukan oleh Irene.
Meskipun kedatangan Alan bukan sebagai perwakilan negara melainkan sebagai perwakilan perusahaan, namun kerjasama yang terjalin di antara mereka merupakan kerjasama yang penting di bidang impor minyak. Kedua negara akan diuntungkan dengan adanya kerjasama tersebut, begitu pula dengan perusahaan Alan.
"Nona Alenta, Anda sangat cantik dan berbakat. Apakah Anda sudah punya pacar?" tanya salah seorang lelaki paruh baya yang menjadi pimpinan perusahaan yang menjalin kerjasama dengan perusahaan Alan. "Kalau belum punya pacar, bagaimana kalau aku jodohkan dengan putraku?" tanyanya lagi dengan Bahasa Persia.
Irene hanya tersenyum mendengar permintaan lelaki tersebut. "Sayang sekali, Tuan. Saya sudah memiliki seorang kekasih. Dia adalah atasan saya sendiri," ucap Irene. Ia menggunakan kesempatan ketidaktahuan Alan untuk mengaku-aku sebagai pacar Alan.
Alan terbengong-bengong dengan ucapan Irene. Ia sama sekali tidak paham dengan apa yang sedang Irene bicarakan bersama lelaki tersebut.
"Oh, sudah saya duga sebelumnya. Nona secantik Anda tidak mungkin belum memiliki pasangan. Tuan Alan juga lelaki yang tampan. Kalian berdua memang cocok."
"Hahaha ... terima kasih atas pujiannya." Irene tertawa canggung. Untung saja Alan tidak tahu, kalau lelaki itu tahu, dia yang akan malu.
"Kalau begitu, silakan menikmati hidangan yang telah kami sajikan. Semoga sesuai dengan selera lidah kalian." lelaki tersebut mempersilahkan keduanya untuk menikmati pesta.
"Terima kasih atas sambutan dengan acara semeriah ini, kami merasa tersanjung. Kalau begitu, kami pamit dulu untuk mencicipi makanan khas negara Anda."
"Silakan, Nona."
Irene mengajak Alan pergi ke area makan. Ia sebenarnya kurang betah jika harus berbincang dengan orang asing. Meskipun menguasai bahasanya, namun Irene tipe orang yang tidak terlalu suka berbasa-basi.
"Apa yang tadi kalian bicarakan?" tanya Alan.
Irene sudah menebak lelaki itu akan menanyakannya. "Tidak ada yang penting, hanya berbasa-basi saja membahas pesta ini. Mereka khusus mempersiapkannya untuk kita, bukankah itu sangat mengagumkan?" kilah Irene.
Alan hanya mengangguk-anggukkan kepala dengan ucapan Irene. Dia memang tidak paham dengan apa yang orang-orang itu katakan sehingga percaya saja dengan cerita Irene.
"Makanannya unik-unik dan sepertinya enak, Pak ... Bapak mau yang mana?" tanya Irene.
Alan mengerutkan keningnya. Makanan yang tersedia di sana terasa asing baginya. Meskipun ia pernah menjadi seorang koki, namun belum pernah mencoba makanan dari negara tersebut.
__ADS_1
"Pak, ini namanya Polo." Irene menunjuk pada makanan yang terus diperhatikan oleh Alan. Bentuknya sekilas seperti nasi goreng.
"Ini rasanya enak kok, Pak. Tidak terlalu jauh dengan selera lidah kita. Bahannya dari nasi putih yang dicampur daging. Apa Bapak mau mencicipinya?" tanya Irene.
"Boleh," ucap Alan.
Irene mengambilkan piring, mengisinya dengan makanan tersebut secukupnya lalu diberikan kepada Alan. Mereka menikmati sajian yang disediakan berdua. Sengaja acara makan disana dilakukan secara self service agar para tamu bebas memilih makanan yang diinginkan sepuasnya.
Alan mulai menyuapkan makanan yang baru satu kali ini ia coba. Seperti yang Irene katakan, rasanya memang tidak terlalu aneh di lidahnya. Menurutnya lumayan.
"Pak, saya mau ke toilet sebentar, ya!" ucap Irene.
Alan mengangguk. "Silakan, Alenta."
Alan sendirian menikmati hidangannya. Sembari makan, ia memandangi suasana romantis diiringi musik yang mendayu membuat suasana terasa hangat dan bersahabat. Merasa ada yang kurang dengan makanannya, ia memutuskan untuk mengambil minuman. Menurutnya, makanan tersebut akan cocok jika diminum bersama alkohol. Langsung saja ia ambil segelas bir untuk menemaninya makan.
Beberapa saat kemudian, Irene kembali dari toilet. Ia kembali menikmati makanan yang sebelumnya telah dia ambil.
Saat mereka makan, pertunjukkan kembang api dinyalakan. Percikan-percikan api mengembang indah di angkasa bagai bunga dengan komposisi warna-warni yang mempesona. Baik Alan maupun Irene sama-sama takjub dengan pemandangan indah yang terekam melalui mata mereka. Suasanya makan malam mereka seakan seperti sebuah makan malam romantis pasangan kekasih. Negara tersebut benar-benar melayani tamunya dengan jamuan terbaik.
"Oke. Kita juga perlu istirahat yang cukup untuk kegiatan besok," jawab Alan.
Keduanya berpamitan kepada penyelenggara acara. Mereka menuju parkiran hendak mengambil mobil yang mereka bawa. Alan membawa mobil tersebut sendiri ke sana tanpa sopir. Namun, saat hendak memasuki mobil, ia tiba-tiba merasa pusing.
"Bapak kenapa?" Irene langsung panik saat melihat Alan hampir terjatuh. Ia cemas dengan kondisi bosnya.
"Aku tidak apa-apa, hanya merasa sedikit pusing." Alan memukul ringan kepalanya sendiri.
"Tolong kamu carikan seorang sopir. Sepertinya aku tidak akan bisa menyetir dengan baik." Ia berpegangan pada pintu mobil agar tidak limbung.
"Kalau begitu, biar saya saja yang menyetir, Pak!" Irene menawarkan bantuannya.
Alan terkesiap kaget. "Jangan gila, kamu! Aku belum ada niatan menuju jalan ke surga bersamamu. Ada-ada saja." Ia lebih khawatir jika Alenta yang membawa mobiknya.
__ADS_1
"Saya bisa menyetir, Pak." Irene tetap pada pendiriannya.
"Ini bukan jalanan di kita."
"Saya mengerti, serahkan kepada saya." Irene membantu memapah Alan ke arah kursi penumpang. Setelah mendudukkan Alan di sana dan memasangkan sabuk pengaman, Irene menuju kursi memudinya.
"Hah! Kita lihat ini, Kamu harus sangat hati-hati, Irene. Aku tidak mau saat membuka mata nanti aku sudah berpindah alam."
Irene hanya terkekeh dengan gumaman Alan. Ia memasang sabuk pengamannya sendiri seraya mulai menyalakan mobilnya. Alan tidak tahu kalau sebenarnya dia jago balapan baik dengan motor maupun dengan mobil. Bahkan dirinya dijuluki raja jalanan wanita.
Sepanjang perjalanan, Alan tampak seperti orang mabuk. Ia heran lelaki itu bisa semabuk sekarang. Padahal, setahu dirinya Alan tidak ikut mengkonsumsi kohol.
Sesampainya di hotel, terpaksa ia meminta bantuan seorang pelayan hotel untuk mengantarkan Alan ke kamarnya.
"Terima kasih, Pak!" ucap Irene setelah mereka sampai di kamar hotel Alan.
Irene meneruskan memapah tubuh Alan yang cukup berat itu. "Bapak kalau minum kira-kira, dong ... kenapa sampai mabuk berat seperti ini," keluh Irene.
"Huek ...."
Alan memuntahkan isi perutnya hingga sebagian kecil juga mengotori pakaina Irene. Wanita itu langsung mematung. Ia tidak menyangka Alan akan mengeluarkan muntahannya. Rasanya mau menangis saja kena semburan Alan.
Irene merebahkan tubuh Alan di atas ranjang. Ia merengut memperhatikan kekacauan yang dilakukan oleh bosnya. Lantai kamar sangat kotor begitu pula dengan tubuhnya.
***
Hai ...
Maaf untuk update yang tersendat. Sekali lagi, novel ini di bawah bimbingan editor. Jadi, author hanya bisa menulis saat ada bahan yang dikirim.
Sembari menunggu update, bisa mampir ke karya author yang lain, ya. 😘
__ADS_1
Bagi yang suka Romansa Modern rate 21+, silakan mampir ke karya "PEMUAS RANJANG CEO"
Bagi yang suka Romansa Fantasi rate 18+, silakan mampir ke karya "PELAYAN KESAYANGAN PANGERAN"