Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 37: Rasa Tidak Wajar


__ADS_3

Irene benar-benar memanfaatkan waktu di area permainan salju dengan baik. Bukan hanya bermain ski yang dicobanya, tapi juga berseluncur dengan ban karet yang tak kalah seru. Ia juga masuk ke area pertempuran bola salju, di mana setiap orang bisa saling lempar salju kepada orang lain.


Plak!


Lemparan salju Irene tepat mengenai wajah Alan. Padahal lelaki itu sejak tadi hanya diam memperhatikan tapi justru dia menjadi sasaran. Sementara orang yang berhasil melemparinya sedang tertawa bahagia mengintip dari balik rumah salju mainan.


Plak!


Sekali lagi Irene melemparkan bola salju ke arah Alan. Irene tertawa terpingkal-pingkal. Rasanya puas bisa menjadikan Alan sebagai pelampiasan kesal.


"Irene ... kamu ada dendam apa kepadaku?" Alan geram. Kalau tidak sengaja, mungkin ia bisa memaklumi. Tapi, Irene sudah dengan sengaja dua kali melemparinya.


"Hahaha ... siapa yang dendam? Ini kan namanya permainan. Dilarang baper, Kak ... semua orang juga saling lempar." Irene menyembunyikan tubuhnya lagi takut jadi sasaran orang lain.


Sesekali ia membulatkan salju yang ada di bawahnya lalu melemparkan ke arah orang lain. Di tempat seperti itu, tawuran salju tidak akan ditangkap polisi. Irene kembali memandang ke arah Alan yang masih berdiri mematung di tempatnya. Ia belum puas sebelum bisa memancing Alan untuk ikut bermain dengannya.


Irene memadatkan salju di bawahnya menjadi beberapa bulatan yang padat dengan kekuatan penuh. Setelah dirasa cukup, ia lemparkan satu per satu bola-bola salju itu ke arah Alan. Tentu saja lelaki itu geram.


"Irene ...." seru Alan.


"Hahaha .... Irene langsung kabur mencari tempat persembunyian yang lebih aman menghindari Alan. Setelah Alan berhasil di pancing, ia justru menghindar takut ada yang balas dendam.


Saat ada kesempatan, ia bulatkan salju dan melemparkan ke arah Alan. Saat Alan akan membalas dengan lemparan salju, ia cepat-cepat bersembunyi. Selain menghindari lemparan dari Alan, ia juga menghindari lemparan dari orang lain.


Situasi makin seru saat setiap orang saling melemparkan salju satu sama lain dengan semangat. Tak ada yang marah ketika terkena timpukan, justru mereka akan tertawa bahagia. Kecuali Alan yang memang kesal dengan permainan pengecut Irene. Wanita itu terus lari setiap kali ia kejar.


Irene sangat berhati-hati agar tidak tertangkap oleh Alan. Ia mengendap-endap ke arah belakang yang terdapat rumah-rumah mainan untuk menghindari Alan. Irene yakin hari ini sudah cukup membuat Alan kesal padanya. Ia tak bisa berhenti tertawa mengingat wajah Alan yang terlihat lucu saat marah.


"Mau kemana sekarang?"


Irene tertegun saat mendengar suara Alan dari arah belakangnya. Ia hanya bisa nyengir kuda. "Hehehe ... lari ...."

__ADS_1


Sebelum Irene sempat lari, Alan lebih dulu menarik tangannya. Sontak Irene berusaha melawan agar cekalan tangan Alan terlepas. Sayangnya, mereka berdua akhirnya jatuh bersama.


Mata mereka saling bertemu pandang. Alan memperhatikan wajah wanita yang ada di bawahnya dengan seksama. Lagi-lagi bayangan hantu cantik itu terlintas di benaknya. Seolah Irene adalah Miss A. Dari segi postur, mereka sepertinya memiliki ukuran proporsi tubuh yang sama. Hanya bedanya pada warna kulit dan tentu saja Miss A jauh lebih cantik dari Irene. Meskipun memang Irene tidak bisa dikatakan jelek juga hanya karena warna kulit. Irene juga punya sisi manis.


'Apa ini karena aku sudah sangat terobsesi dengan hantu? Kenapa aku jadi memikirkannya? Apa aku tidak waras sudah suka pada hantu?' batinnya.


'Kak Alan kenapa tidak bangkit juga? Apa dia mau menciumku? Kayaknya tidak mungkin, aku kan sedang menyamar. Kenapa wajahnya jadi begitu? Apa yang harus aku lakukan kalau dia benar-benar mau mencium? Apa aku biarkan saja? Tujuanku kan memang mau menyingkirkan Sovia sialan itu. Tapi ... masa aku mau merelakan ciuman berhargaku hanya karena Sovia. Aduh ... cepat pergi dong ...."


Bukan hanya Alan yang merasakan hal yang aneh. Irene juga mengalami gejolak dalam batinnya. Tubuh mereka saling berhimpit, jarak wajah mereka hanya sejengkal. Detak jantungnya berdebar lebih kencang, muncul rasa deg-degan di dalam dirinya.


"Mama ... di sini ada orang pacaran."


Suara seorang anak kecil menyita perhatian keduanya. Mereka kembali saling pandang. Sadar posisi keduanya memang tidak layak dilakukan di tempat umum, Alan buru-buru bangkit dari atas tubuh Irene. Mereka jadi salah tingkah sudah dilihat oleh seorang anak kecil.


"Sayang, kenapa kamu ada di sini?" Seorang wanita yang merupakan ibu dari anak itu mendekat.


"Mama, tadi mereka pelukan," ucap si anak dengan polosnya sambil menunjuk ke arah Alan dan Irene.


Plak!


"Mereka sedang main lempar salju, Sayang. Kamu tidak boleh bermain di area orang dewasa. Bahaya kalau kena lemparan salju. Nanti sakit. Kita kembali lagi ke area anak-anak, ya ...."


"Aku mau bikin manusia salju, Ma ...."


"Boleh, Sayang ... nanti kita akan buat bersama dengan Papa." Si ibu itu menggendong sang anak lalu membawanya pergi dari sana. Sebelum pergi, ia menoleh ke arah Irene dan Alan lalu tersenyum dan meminta maaf.


Irene dan Alan masih terduduk di tempatnya. Mereka sangat malu ada seorang anak kecil yang sudah salah paham dengan apa yang menimpa keduanya. Mereka sedang bertengkar, bukan sedang bermesraan.


"Ini semua gara-gara kamu," ucap Alan menyalahkan Irene.


"Kenapa gara-gara aku? Kan Kak Alan yang membuatku jatuh." Irene tak mau disalahkan.

__ADS_1


"Siapa coba yang sengaja melempar salju berkali-kali ke wajahku, hah? Barusan juga diulangi lagi!" Alan semakin ngotot ingin memarahi Irene.


"Namanya juga area permainan lempar bola salju, masa kita mau joget-joget atau masak di sini? Kak Alan aneh ...," cibir Irene.


"Aku bilang tadi tidak mau ikut main kan. Untuk apa aku bertingkah kekanak-kanakkan sepertimu!"


Plak!


Irene kembali melemparkan salju ke wajah Alan.


"Kamu ini ya, memang sengaja!"


"Kak Alan sudah masuk arena, artinya sudah ikut main, kan? Berarti kita memang sama-sama kekanakkan." Irene tetap ngeyel.


"Sudahlah! Capek berdebat denganmu."


Tut! Tut! Tut!


Jam tangan yang melingkar di tangan mereka berbunyi. Jam yang mereka pakai menunjukkan durasi waktu yang sudah mereka pakai di dalam sama. Tanpa terasa mereka telah bermain selama satu jam di sana. Masih ada jatah waktu satu jam sebelum mereka harus keluar.


"Sambil menunggu waktu habis, kita coba makan di restorannya ya, Kak ... aku lapar," ucap Irene sembari mengelus perutnya.


"Kenapa tidak pulang saja sekalian? Kalau lapar bisa mampir ke restoranku." Alan sudah sangat ingin pergi dari tempat itu.


"Aku mau makan di tempat yang ada sensasi rasa dingin, memangnya restoran Kak Alan ada yang seperti ini juga?" ledek Irene.


"Kamu ya ...." Alan jadi gregetan dengan kelakuan Irene.


"Kak Alan minta cepat pulang jangan-jangan karena tidak mau bayarin aku makan, ya? Ingat kesepakatan di awal dong ...." Irene menyindir Alan.


"Ya, ya ... terserah kamu saja!" Alan memilih mengalah daripada berdebat. Meladeni Irene hanya akan membuatnya semakin pusing. Padahal, urusan bisnis sudah cukup membuatnya pusing tujuh keliling.

__ADS_1


__ADS_2