
"Hai," sapa Irene.
Lamunan Elios buyar ketika Irene menyapanya. Malam itu ia tengah menikmati secangkir teh hangat sembari memandangi suasana malam dari beranda lantai atas rumah kakek.
"Oh, Irene ... Ah, maksudku ... Kak Irene," katanya.
Ia masih merasa canggung untuk memberikan panggilan yang tepat kepada wanita yang katanya adalah kakak kandungnya.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Irene.
"Silakan."
Elios mempersilakan Irene duduk di kursi sampingnya. Mereka sama-sama duduk di sana menikmati suara-suara yang diciptakan oleh para binatang malam.
"Canggung juga ya, seperti ini," ujar Irene. Ia tertawa kecil karena bingung mau membahas apa dengan adiknya.
Elios hanya menyunggingkan senyumannya yang kikuk.
"Aku juga masih belum terbiasa. Kita baru dipertemukan setelah sama-sama dewasa. Tapi aku senang punya saudara," kata Irene dengan mengulaskan senyum. Selama hidupnya ia telah menjalani sebagai anak tunggal. Ia tidak menyangka bahwa waktu akan mempertemukannya dengan seorang adik.
"Sama denganku. Aku juga senang karena ternyata punya kakak yang cantik," ucap Elios.
Irene mengerutkan dahi. "Kamu kan punya beberapa Kakak."
"Iya. Aku punya tiga kakak di keluarga Hector. Tapi semuanya laki-kaki," jawab Elios.
Keheningan kembali menyelimuti di antara mereka. Keduanya memandangi langit malam yang bertaburan bintang.
"Aku sangat penasaran apa selama ini kamu mengalami kesulitan? Apa ada yang pernah menyakitimu?" tanya Irene.
Elios yang hendak meneguk minumannya mengurungkan niat. Ia menurunkan kembali gelasnya. Ia mencoba mengingat kembali apa yang pernah terjadi di masa lalu.
"Aku benar-benar tidak bisa mengingat apapun," ucapnya. "Keluarga Hector tak pernah mengatakan apapun kepadaku sebelumnya. Mereka membesarkanku seperti bagian dari keluarga mereka sendiri. Aku tidak tahu kalau memang dulu aku pernah diculik."
__ADS_1
Irene tersenyum. Ia merasa lega mendengarnya. Wajar jika Elios tak mengingat apapun. Saat itu adiknya masih bayi. Ia sendiri juga tak bisa mengingat dengan jelas masa-masa yang sulit dulu.
"Em, itu ... Jadi, Kak Irene mau menikah dengan Kak Alan sungguhan, ya?" tanya Elios.
Irene mengangguk. "Bagaimana menurutmu, apa kamu setuju?"
Elios tertawa kecil. "Kok jadi tanya aku?" gumannya.
"Kamu kan adikku. Jadi, aku mau pendapatmu," desak Irene.
Elios kembali merasa canggung. "Aku tidak bisa memberi pendapat apapun. Tapi, aku rasa Kak Alan memang orang baik. Dia juga pernah menolongku dulu," katanya.
"Rencanamu ke depan bagaimana? Mau tetap di keluarga ini atau kembali pada keluarga Hector?"
Elios terdiam mendengar pertanyaan yang Irene lontarkan. Semua yang terjadi padanya memang belum sepenuhnya membuat ia bisa beradaptasi dengan cepat. Ia belum bisa menentukan pilihan.
"Kamu sudah besar, apapun keputusan yang akan kamu buat pasti yang terbaik untukmu. Aku, kakek, atau nenek tidak akan membebanimu jika memang kamu tidak nyaman dengan keluarga kami. Kamu tidak perlu memaksakan diri," ucap Irene.
"Sepertinya aku harus bertemu dengan keluarga Hector untuk menyampaikan terima kasih secara langsung. Mereka sudah merawatmu dengan sangat baik."
Elios tersenyum. "Nanti kalau Kakak menikah akan aku undang mereka datang, Kak. Mereka sekarang menetap di Amerika Serikat."
"Aku cari-cari sejak tadi ternyata ada di sini," ucap Alan yang tiba-tiba muncul dari arah pintu. Ekspresi wajahnya agak merengut.
Kehadiran Alan membuat percakapan Irene dan Elios terhenti.
"Sudah dapat pesananku, Kak? Aku tadi bicara sebentar dengan El," kata Irene yang senang melihat kehadiran Alan.
Alan mengangkat kantong yang ada di tangannya. "Sudah aku belikan susah payah, ayo dimakan!" ajaknya. "Lama harus mengantre segala," ujarnya. "El, mau ikut makan juga? Aku beli mie kangkung belacan," kata Alan.
"Ayo, El, turun ke bawah, kita makan bareng," ajak Irene.
"Aku masih kenyang, Kak. Kalian berdua saja," tolak Elios.
__ADS_1
Irene agak manyun. "Ya sudah kalau begitu. Aku mau turun dulu makan bareng Kak Alan," katanya seraya bangkit dari tempat duduknya.
Ia berjalan menghampiri Alan yang masih berdiri di depan pintu. Alan meraih tangan Irene dan mengajaknya turun ke area bawah.
"Makasih, ya ...," ucap Irene. Ia mengapresiasi usaha Alan yang sudah mengabulkan permintaannya.
Alan yang awalnya agak kesal karena sudah mengantre lama untuk mendapatkannya merasa luluh mendengarkan ucapan terima kasih itu. Keduanya lantas memakan di ruang makan.
Irene terlihat antusias menikmati potongan udang yang ada di dalam makanan tersebut. Alan hanya sibuk memandangi wanita yang suka makan di hadapannya itu. Sejak awal Irene tidak pernah berubah, dia selalu suka makan.
"Aku kira tadi Kak Alan mau nyuruh anak buah untuk membelikan ini," ujar Irene.
Alan melebarkan matanya. "Tidak akan aku biarkan orang lain menyenangkan calon istriku. Jadi, apa yang kamu mau, biar aku yang mengusahakannya," ucapnya seraya mengusap puncak kepala Irene.
Irene menyunggingkan senyuman lebarnya.
"Besok kita pulang, ya," ajak Alan.
Irene mengerutkan dahi. "Kenapa, Kak? Ada kerjaan di kantor?" tanyanya. Ia ingin lebih lama berada di rumah kakek neneknya. Apalagi ia baru bertemu dengan adiknya.
"Mama menelepon katanya mau mengajak kamu belanja," kata Alan.
"Belanja apa?" tanya Irene penasaran.
"Tentu sana belanja untuk pernikahan kita, Sayang. Mama mau membelikan perhiasan untukmu katanya."
Irene terdiam mendengarnya. Ia sedikit tersipu malu. Ibu Alan yang awalnya terlihat tidak menyukainya tiba-tiba ingin belanja dengannya.
"Jangan bilang kamu sudah lupa kalau sebentar lagi kita menikah," ujar Alan.
"Tidak, mana mungkin aku lupa," kilah Irene.
"Syukurlah kalau begitu. Cepat lanjutkan makannya terus tidur!" pinta Alan.
__ADS_1