Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 159: Klarifikasi


__ADS_3

"Kamu benar sudah siap melakukan konferensi pers hari ini, kan?" tanya Marco.


"Iya, Kak. Aku akan melakukannya hari ini."


Arvy tengah bercermin membenarkan kerah bajunya. Hari ini ia mengundang pers agar datang ke perusahaan guna melakukan klarifikasi.


"Bian sudah ada di bawah menunggumu."


"Kenapa dia tidak naik ke atas saja?" tanya Arvy heran.


"Katanya dia mau di bawah saja."


Pada akhirnya dia meminta bantuan Bian untuk meluruskan berita yang selama ini beredar. Seharusnya Adila turut serta, namun wanita itu sangat trauma dengan para wartawan.


"Bagaimana menurutmu tentang Jonathan?"


Pertanyaan Marco membuat Arvy merasa tidak senang. "Apa kalian juga akan berusaha membelanya?"


"Tentu saja. Bagaimanapun juga dia bagian dari perusahaan ini."


Arvy berdecih. "Sampah mau dipertahankan? Yang benar saja. Bahkan Hyena sudah memberikan klarifikasi kalau lagu Jonathan memang menjiplak miliknya."


"Aku heran dengan penyanyi misterius itu. Kenapa dia hanya sekedar muncul di saat tertentu? Kesannya dia sedang membelamu," gumam Marco.


Arvy ikut berpikir. Ia sama sekali tak mengenal Hyena, namun penyanyi itu seakan seseorang yang sangat dekat dan peduli dengannya. Bantuan Hyena terdahulu ia belum sempat berterima kasih, ia telah mendapatkan bantuan darinya lagi.


"Jonathan besar kepala karena aku mengalami kasus ini. Setelah aku kembali membersihkan namaku, dia pasti tak akan mendapatkan panggung lagi. Pokoknya aku tidak mau satu panggung dengannya, Kak!" tegas Arvy.

__ADS_1


"Iya, iya. Akan aku lakukan kemauanmu kalau semua masalah sudah terkendali," kata Marco mengiyakan kemauan Arvy.


"Sebelum turun, aku mau ke ruangan Jonathan dulu."


Arvy berjalan meninggalkan ruangannya. Marco segera mengikuti untuk antisipasi agar Arvy tak bertindak melewat batas. Kemarin saja mereka hampir saling adu jotos.


"Mau apa lagi kalau sudah begini? Kamu juga akhirnya kena skandal, kan? Bisa kamu tangani sendiri?" omel Zumi.


Baru sampai di muka pintu ruangan Jonathan, mereka sudah disuguhi kata-kata mutiara dari Zumi yang memekakkan gendang telinga.


"Sesama artis dalam satu manajemen sudah seharusnya saling support dan menutupi keburukan masing-masing! Kamu pikir kita ada di dunia ini untuk saling membuka aib? Ah! Sialan! Aku jadi kesal!"


"Kemarin kamu menertawakan Arvy, sekarang juga pasti sedang menertawakanmu! Hancur sudah karirmu!"


"Wah, kayaknya Kak Zumi sudah mewakili kemarahanku," sahut Arvy.


Kedatangannya membuat Jonathan dan Zumi terkejut.


Arvy menyeringai melihat Jonathan kini berada dalam kondisi yang sama dengannya. "Aku sudah pernah mengatakan padamu. Setiap orang punya aib. Ketika berani mengulik kehidupan pribadi orang lain, siap-siap untuk dikuliti orang lain," sindirnya.


"Jangan senang dulu, memangnya urusanmu sudah selesai? Kamu juga masih kesulitan akibat berita itu." Jonathan masih belum kalah.


"Kita lihat saja nanti. Aku akan membersihkan diriku dari berita sampah yang sudah kamu sebar. Setelah itu, kamu akan melihatku akan lebih bersinar dari hari ini. Terima kasih sudah memberiku jalan untuk bisa lebih terkenal."


Arvy meninggalkan ruangan Jonathan dengan seringaian jahat. Ia kembali berjalan ke lantai bawah bersama Marco menuju ruang konferensi pers.


"Oh, kalian sudah datang. Terima kasih, ya," ucap Arvy menyambut keberadaan Bian dan Nida di sana.

__ADS_1


Nida merasa begitu gembira bisa bertemu dan berbicara langsung dengan idolanya. Bian sampai berkali-kali memberikan lirikan seolah tak ingin pacarnya lupa kalau ada dia di sana.


"Kalian semua sudah siap?" tanya Marco.


Ketiganya mengangguk. Penjaga membukakan pintu ruang konsferensi pers. Puluhan flash kamera langsung menjambut mereka seperti kilatan petir.


Mereka duduk berjajar pada bangku yang telah disediakan. Di hadapan mereka sudah terpasang mikrofon dari berbagai platform berita.


"Selamat siang, semuanya. Terima kasih kami ucapkan kepada rekan pers yang telah sudi hadir pada hari ini. Saya tidak akan membuka sesi tanya jawab, hanya akan memberikan klarifikasi serta bukti-bukti yang jelas tentang berita yang tengah santer terdengar belakangan ini."


"Pada kesempatan ini, saya ditemani kedua orang yang merupakan saksi dan bisa memberikan penjelasan untuk menyanggap fitnah yang dilontarkan kepada saya."


"Ada pihak yang menuduh saya telah memaksa seorang wanita untuk menggugurkan kandungan di sebuah rumah sakit. Berita itu sama sekali tidak benar. Saya bersumpah jika hal itu hanyalah fitnah!"


"Kenyataannya, saya bolak-balik ke rumah sakit untuk menjenguk lelaki ini, namanya Bian. Waktu itu saya tidak sengaja menabraknya sampai ia dirawat di rumah sakit. Dia juga membawakan bukti surat rawat inapnya selama satu minggu di sana."


Arvy merasa telah cukup memberikan statemen. Ia mempersilakan Bian untuk memberikan keterangannya.


"Nama saya Bian, saya orang yang tidak sengaja tertabrak oleh Arvy. Biasanya artis akan menghindar atau melimpahkan tanggung jawab ketika melakukan kesalahan. Namun, itu tidak berlaku pada Arvy. Dia sangat bertanggung jawab menjamin semua biaya perawatan saya. Tidak hanya sampai di sana, dia juga menjenguk saya setiap hari selama dirawat di rumah sakit. Bahkan, setelah saya keluar dari rumah sakit, Arvy bersedia mengantar dan menjemput saya ke kampus. Tapi, semenjak ada kasus ini, dia tidak bisa lagi mengantar saya. Namun, ia tetap bertanggung jawab mengirimkan sopir untuk mengantar saya ke kampus. Dan ... Wanita yang sering datang bersama Arvy adalah pacar saya, namanya Nida."


Bian menunjuk ke sebelahnya dan mempersilakan kekasihnya untuk berbicara.


"Terima kasih atas kesempatannya. Nama saya Nida, saya Bian. Karena memiliki tujuan yang sama untuk menjenguk Bian, Arvy memberi saya tumpangan untuk pergi bersama ke rumah sakit. Tidak disangka ada orang yang punya niat buruk mengambil foto kami untuk memfitnah Arvy. Saya sebagai salah satu fans Arvy merasa sakit hati atas fitnah keji itu, apalagi foto yang dipajang adalah foto saya."


Nida berdiri melepaskan jaketnya hingga terlihat baju yang dikenakannya memang mirip dengan yang Adila gunakan saat pergi dengan Arvy. Postur tubuh mereka hampir sama, sehingga wartawan percaya jika wanita yang bersama Arvy memang benar-benar adalah Nida.


Mereka juga menghadirkan dokter yang sempat menangani Bian, dokter mengiyakan jika Arvy memang sering datang ke rumah sakit untuk menjenguk Bian. Didukung bukti lain seperti surat pembiayaan rumah sakit, dokumen rawat inap, dan keterangan dari saksi serta kepolisian saat Arvy tak sengaja menabrak orang.

__ADS_1


Arvy bernapas lega melihat banyaknya komentar di media sosial yang beralih membelanya. Mereka juga meminta maaf kepada Adila dan menganggap kasus itu telah selesai.


Semua berkat ide dari Irene yang meminta Arvy, Bian, dan Nida untuk memberikan sinkronisasi kejadian. Mereka tidak sepenuhnya memberikan fakta, namun mampu menyelesaikan fitnah yang terlanjur beredar.


__ADS_2