Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 307


__ADS_3

Arvy baru saja menyelesaikan proses syuting. Ia hendak menuju ke mobil bersama Mario untuk pulang. Di saat yang bersamaan, tampak kerumunan serta keributan di daerah sekitar pantai.


"Kak, itu kenapa, ya?" tanya Arvy keheranan.


"Nggak tahu. Mungkin ada yang tenggelam. Kelihatannya ada gelombang tinggi," jawab Mario sambil sibuk memainkan ponselnya.


Arvy masih penasaran. Kebetulan ada orang yang baru saja dari arah pantai.


"Kasihan, ya?"


"Iya, kasihan sekali."


"Permisi," sapa Arvy.


Kedua wanita yang baru saja lewat itu menghentikan langkah. Ia terpana dengan ketampanan Arvy.


"Eh, ada Arvy. Boleh minta foto, nggak?" tanya salah satu dari mereka.


"Boleh," kata Arvy mengiyakan.


Ia menyuruh Mario untuk mengambil beberapa foto mereka. Kedua wanita itu sangat kegirangan bisa berfoto dengan Arvy yang ternyata baik hati.


"Sebelum kalian pergi, aku mau tanya," kata Arvy mencegah keduanya.


"Kenapa?" tanya kedua wanita itu heran.


"Di sana kenapa ramai? Kenapa ada polisi juga?" tanya Arvy penasaran.


"Oh. Iya, itu di sana! Tadi artisnya hanyut! Siapa tadi namanya yang hanyut?"


"Em, itu ... Adila! Ya, Adila hanyut!"


Mendengar hal itu Arvy langsung panik. Tanpa mendengar lebih lanjut, ia segera berlari ke arah laut.


"Arvy! Kamu mau apa? Ayo kita pulang!" teriak Mario.


Ia merasa kecolongan karena terlalu sibuk mengurusi ponselnya. Ia berlari mengejar Arvy.


Arvy mendengar teriakan dan kepanikan dari para kru yang menyaksikan Adila terbawa ombak. Dia segera menyadari situasi yang darurat dan keadaan yang kritis. Rasa panik langsung menghampirinya saat dia mengetahui kabar tersebut.

__ADS_1


Arvy berlari menuju orang-orang yang berada di tepi pantai, mencoba mencari kepastian tentang kejadian itu. Dia bertanya pada mereka dengan nada yang penuh kegelisahan.


"Apa yang terjadi? Adila terbawa ombak? Tolong, beritahu aku!" tanya Arvy dengan panik.


Namun, tanggapan yang dia terima membuatnya semakin cemas. Orang-orang di sekitarnya mengkonfirmasi bahwa Adila terbawa oleh ombak yang besar dan tidak ada yang berani mencoba menyelamatkannya karena bahaya yang terlalu besar. Bahkan sang sutradara hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Apakah kalian gila? Tidak ada yang berani mencoba menyelamatkannya?" Arvy ingin terkekeh dengan kelakuan orang-orang di sana.


"Ya, Arvy. Ombaknya terlalu besar dan berbahaya. Bahkan penyelamat profesional pun tidak berani melakukannya," jawab sang sutradara.


"Tapi dia membutuhkan bantuan! Aku tidak bisa hanya duduk di sini dan tidak berbuat apa-apa, hah!" teriak Arvy dengan nada putus asa. Ia kecewa kepada seluruh kru film yang menaungi Adila.


"Arvy, kamu harus memahami situasinya. Risikonya terlalu tinggi. Kita harus percaya pada tim penyelamat yang sudah dilatih untuk menghadapi kondisi seperti ini," sahut Mario yang akhirnya berhasil mengejar Arvy. Ia khawatir juga dengan artisnya itu.


"Sepertinya aku tidak bisa hanya mengandalkan orang lain untuk menyelamatkannya," ujar Arvy kecewa.


"Arvy, kita mengerti perasaanmu, tapi kamu juga harus memikirkan keselamatanmu sendiri. Jangan menambah masalah dengan masuk ke dalam bahaya yang sama," kata sang sutradara sembari menepuk pundak Arvy. Namun, Arvy menyingkirkannya dengan kasar.


"Aku tahu risikonya. Tapi jika aku tidak mencoba, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri." Arvy sepertinya sudah mantap ingin mencari Adila sendiri.


Mario menghela nafas. "Arvy, kita semua mengerti perasaanmu pada Adila, tapi jangan sampai kamu mengorbankan dirimu sendiri. Berpikir dengan kepala dingin. Kamu jangan gila!" bujuknya.


Orang-orang berusaha menahan Arvy. Namun, Arvy akhirnya berlari dan menceburkan diri ke laut. Mereka hanya berteriak agar Arvy tidak nekad.


"Anak gila itu .... Arvy ... Kembali ke tepi! Arvy!" teriak Mario dengan kesal sekaligus cemas.


Orang-orang di sekitarnya melihat keputusan yang telah diambil oleh Arvy. Mereka tahu bahwa tidak ada kata-kata yang bisa mengubah pikirannya. Namun, mereka tetap memantau dan berdoa untuk keselamatannya.


"Artismu sepertinya sudah gila," ujar sang sutradara.


"Lebih gila lagi kamu! Kalian!" bentak Mario. "Kalau sampai terjadi apa-apa kepada Adila dan Arvy, aku akan menutut kalian!" ancam Mario.


Arvy berenang dengan keberanian yang luar biasa, melawan arus yang deras. Rasa takut masih ada dalam hatinya, tetapi tekadnya untuk menyelamatkan Adila membara dalam dirinya.


"Adila! Adila ... Kamu dimana ...." serunya sembari terus berenang. Matanya melihat-lihat ke sekeliling, ia belum juga menemukan keberadaan Adila.


Arvy merasakan keputusasaan yang mendalam, namun dia merasa terdorong untuk melakukan sesuatu. Dia tidak bisa tinggal diam saat orang yang dicintainya berada dalam bahaya.


"Aku harus mencarinya! Aku harus menyelamatkannya!" katanya pada diri sendiri. Meskipun kelelahan, ia tidak mau menyerah sampai bisa menemukan Adila.

__ADS_1


Arvy menoleh ke belakang. Jaraknya dengan bibir pantai sudah sangat jauh. Ia berada di tengah-tengah lautan yang luas dan tak tahu dimana ujungnya.


Ia terus berenang sembari mencari Adila. Tampak jauh di depannya, ia melihat papan kayu yang mengambang. Ada seseorang di sana.


"Adila!" teriaknya.


Arvy semakin bersemangat berenang melihat titik keberadaan Adila. Ia terus menggerakkan tangan dan kakinya mendekati posisi papan kayu tersebut.


"Adila!"


Akhirnya Arvy sampai pada papan kayu itu dan menemukan Adila dalam kondisi lemas berpegangan di sana.


"Arvy," kata Adila dengan nada lirih. Ia merasa hampir mati dan tidak ada harapan. Kedatangan Arvy membuatnya sedikit punya rasa semangat untuk tetap hidup.


"Bertahanlah, kita akan secepatnya kembali ke daratan," kata Arvy.


Ia turut berpegangan pada papan kayu itu dan menjaga tubuh Adila agar tidak jatuh.


"Apa kamu masih bisa berenang?" tanya Arvy.


Wajah Adila tampak begitu pucat. "Sepertinya aku sudah tidak punya tenaga lagi," katanya pasrah.


Arvy berusaha berpikir jernih. Jarak pantai dari tempatnya cukup jauh. Jika ia memaksa Adila untuk bisa kembali, mungkin wanita itu sudah pingsan terlebih dahulu.


Ia melihat ke sekeliling. Tak jauh dari mereka, terlihat pepohonan. Sepertinya ada daratan atau pulau kecil di dekat sana.


Arvy jadi ingat kalau di sekitaran tempat itu memang banyak pulau-pulau kecil. "Baiklah, kita ke sana saja," kata Arvy menunjuk pada pulau terdekat yang dilihatnya.


"Kamu usaha sedikit berenang bersamaku supaya kita cepat sampai, oke?" tanya Arvy.


Adila mengangguk. Ia akan berusaha menggunakan tenaga yang tersisa untuk berenang ke sana.


"Pelan-pelan saja, tidak perlu memaksakan diri," kata Arvy.


Meskipun bebannya terasa berat mendorong papan kayu berisi dirinya dan Adila, Arvy tidak menampakkan kelelahannya. Ia hanya kesal kenapa bantuan begitu lambat datang dan tidak ada yang berani untuk menyelamatkan Adila.


"Arvy, terima kasih sudah menolongku," kata Adila.


"Jangan berterima kasih dulu. Kita berdua belum selamat. Kamu harus tetap bertahan," ucap Arvy.

__ADS_1


Adila mengangguk setuju.


__ADS_2