Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 181


__ADS_3

Alan mulai membuka matanya. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah ruangan temaran dengan pencahayaan yang samar. Ia merasakan tangannya yang hangat oleh genggaman seseorang. Ternyata, ada seorang wanita yang tengah tertidur di samping ranjang sembari memegangi tangannya.


"Irene?" panggil Alan dengan suara lirih.


Merasa tangannya digenggam seseorang, membuat Irene terbangun. Ia terkesiap kaget. "Kak Alan sudah sadar!" serunya girang.


Alan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. "Syukurlah kamu baik-baik saja," ucapnya.


Irene merasa terharu. Ia sangat bahagia melihat Alan kembali sadar. Air mata mengalir membasahi pipinya saking bahagia. "Kak, kamu membuatku takut," rengeknya.


Selama tiga hari perasaannya selalu diliputi rasa cemas. Ia sampai tak berselera makan karena mengkhawatirkan Alan.


"Aku juga merasakan hal yang sama. Aku sangat mengkhawatirkanmu."


Keduanya bertukar pelukan begitu hangat.


"Em, Kak, aku ke toilet sebentar. Aku mau buang air kecil," pamit Irene seraya melepaskan pelukan mereka.


Ia sengaja menutupu wajah dengan rambut panjangnya dan berjalan menuju toilet membawa tas miliknya.


Di dalam toilet, ia menghela napas. Hampir saja ia membuat masalah. Ia belum memakai riasan wajahnya di hadapan Alan. Segera ia membersihkan wajahnya dan mengoleskan krim pengubah warna kulit ke wajahnya.


Irene menyalakan lampu kamar Alan usai berbenah di dalam toilet. Ia mengembangkan senyum dan kembali menghampiri Alan di ranjangnya.


Alan kembali menarik Irene ke dalam pelukannya seakan ia masih belum puas untuk memeluk wanita itu.


Irene merasa aneh dengan Alan. Perbuatan Alan memjadikan dirinya berekspektasi tinggi bahwa Alan memang benar-benar menyukainya dengan penampilan seperti itu. Pelukan yang Alan berikan kehangatannya bisa merasuk sampai ke hati.


"Permisi,"


Suara pintu yang terbuka dan kedatangan fokter bersama perawat menghentikan perbuatan mereka. Ada rasa malu karena orang lain memergoki mereka sedang berpelukan.


"Tuan Alan sudah sadar, ya? Kami turut senang. Saya mengganggu waktunya sedikit untuk melakukan pemeriksaan," ucap sang dokter.

__ADS_1


Dokter tersebut memeriksa tekanan darah, denyut jantung, dan kondisi fisik luka yang baru selesai dioperasi beberapa hari yang lalu.


"Kondisinya sudah membaik, semoga Tuan Alan bisa segera sembuh seperti sedia kala," ucap dokter.


Usai melakukan pemeriksaan, dokter dan perawat tersebut kembali meninggalkan ruang perawatan Alan.


"Irene, bisa tolong berikan ponselku?" pinta Alan.


"Ah, baiklah."


Irene menghampiri laci tempat ia menyimpan ponsel Alan. Ia sengaja mematikannya sementara selama Alan masih belum sadarkan diri.


"Kak Alan kan baru sembuh, tidak perlu memaksakan diri untuk mengurusi urusan lain. Fokus saja pada kesembuhan," nasihat Irenw.


Alan menyunggingkan senyum. Ia mengelus puncak kepala Irene. Ditariknya punggung Irene dan memberikan ciuman singkat di pipi wanita itu.


Irene hanya tertegun. Ia kaget tiba-tiba dicium.


Alan mengaktifkan ponselnya. Ada banyak pemberitahuan pesan dan panggilan yang masuk ke ponselnya. Paling banyak dari Ares. Ia segera menghubungi nomor Ares.


"Kamu kemana saja, Kak? Kenapa tidak bisa dihubungi?"


"Aku kena musibah. Kecelakaan di XXX waktu terjadi longsoran salju."


"Apa? Kak Alan kecelakaan? Kok Irene tidak bilang apa-apa?"


Alan melirik pada Irene. Wanita itu tampak mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Mungkin dia tidak mau kamu khawatir. Sudahlah, aku juga baik-baik saja sekarang."


"Ah, ya, pantas saja dia tidak mau memberitahu Kak Alan dimana. Ini kondisi perusahaan sedang kurang baik, Kak. Ada beberapa pemegang saham utama yang menginginkan posisi kakak diganti."


Alan sudah memperkirakan hal itu terjadi. Setelah kakek meninggal, pasti akan ada pembelot yang ingin menyingkirkan posisinya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana sekarang? Apa kamu bisa menanganinya sendiri?" tanya Alan.


"Ya, aku berusaha sebisaku. Untung ada Pak Ron yang membantu."


Alan mengerutkan dahinya. "Siapa itu?"


"Lelaki yang sering bertemu Irene itu, Kak. Dia juga sepertinya mengurusi manajemen tempat Arvy bernaung. Waktu itu Irene memberikan nomor kontaknya padaku dan membantu aku mengurus perusahaan selama kakak tidak ada."


"Ah, baiklah. Aku percayakan perusahaan padamu. Setelah kondisiku membaik, secepatnya aku akan kembali ke tanah air," ucap Alan.


"Kakak fokus kesembuhan saja, aku akan berusaha menanganinya sendiri."


Alan mengakhiri teleponnya dengan Ares. Tatapannya kini mengarah pada Irene seakan ada hal yang ingin disampaikan kepadanya.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Alan.


"Tanya apa, Kak," Irene tampak kikuk. Ia merasakan firasat yang kurang baik dengan pertanyaan Alan.


"Siapa itu Ron?"


"Hah? Ron? Siapa dia?" Irene pura-pura tidak mengenal.


"Orang yang kamu rekomendasikan untuk membantu Ares. Sepertinya kamu juga beberapa kali pernah menyebut nama itu dan bertemu dengannya," telisik Alan.


Irene meringis. "Ya, aku cukup kenal. Dia punya kompetensi yang baik dalam hal manajemen perusahaan. Makanya aku rekomendasikan agar bisa membantu Ares selama Kakak sakit," kilah Irene. Ia tidak bisa mengatakan jika Ron adalah tangan kanannya.


Alan merasa curiga Irene memiliki hubungan khusus dengan lelaki itu.


"Oh, iya. Bagaimana dengan Arvy dan Adila? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Alan.


"Kak Arvy baik-baik saja, hanya mengalami luka ringan. Dia juga dirawat di sini, Kak. Tapi, kalau Adila ...." Irene merasa berat untuk melanjutkan perkataannya.


"Bagaimana dengan Adila?" tanya Alan memastikan.

__ADS_1


"Dia belum ditemukan sampai hari ini, Kak. Sudah lima hari tim penyelamat berusaha mencari sisa-sisa korban yang belum ditemukan, termasuk Adila.


__ADS_2