
Irene kembali memulaskan krim pada wajah dan bagian tubuhnya yang terlihat. Semalam ia agak merasa menyesal sudah membuat Alan sangat terkejut dengan kejujurannya. Ia merasa terlalu terburu-buru karena terbawa perasaan. Ia sudah menebak jika Alan tidak akan serta merta menerima alasannya. Ia juga merasa kesulitan untuk menjelaskan semuanya kepada Alan.
Usai berdandan dengan penampilan Irene yang jelek seperti biasa, ia meraih tas dan siap pergi ke kampus.
Saat Irene membuka pintu, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Alan yang juga baru keluar dari dalam kamarnya.
Pakaian Alan sudah rapi dan siap berangkat ke kantor. Alan menghentikan langkah sejenak saat melihat Irene di sana. Ia lantas membuang muka dan melewati Irene begitu saja.
"Kak!" Irene berusaha memanggil Alan.
Namun, lelaki itu justru mempercepat langkah mengabaikan panggilan Irene. Alan memilih turun ke bawah lewat tangga.
Perasaan Irene langsung down. Hari-hari menyenangkan dan penuh tawa serta keromantisan bersama Alan terasa sangat singkat. Mungkin ia tak dapat menikmati momen indah itu lagi setelah Alan tahu lebohongannya.
Ia menutup pintu kamarnya. Ia berjalan menuju lift dan menekan lantai bawah. Saat tiba di lantai bawah, Ares tengah menikmati sarapan sendirian di ruang makan.
"Kak Alan tadi langsung pergi ke kantor, Ren. Biasanya kaluan berangkat bareng," kata Ares.
"Tidak apa-apa, aku mau berangkat sendiri saja," ucap Irene. Ia kembali melangkah menuju pintu depan mengabaikan makanan yang sudah disediakan.
"Eh, Ren, sarapan dulu!" seru Ares.
"Aku tidak lapar."
Ares mempercepat kunyahan makanannya. Setelah menghabiskan sarapan dan meminum segelas jus buah, Ares berlari mengejar Irene.
__ADS_1
"Berangkat bareng aku saja kalau begitu!" kata Ares.
Irene hanya mengangguk setuju. Diabaikan oleh Alan membuatnya seperti orang linglung. Alan bahkan tak mau lagi mendengarkannya bicara. Ia sangat ingin membuat Alan bisa duduk tenang dan mendengarkan penjelasannya.
"Kamu sakit?" tanya Ares saat mulai mengemudikan mobilnya.
"Tidak, aku tidak apa-apa," kilah Irene.
Sebenarnya semalam ia sama selali tak bisa tidur dengan nyenyak. Perasaannya diliputi keresahan setelah mengungkapkan penyamarannya. Semalam Irene juga sempat menangis sendiri. Ia tidak tahu lagi kalau sampai Ares dan keluarga Narendra yang lain tahu, mungkin semua orang akan membencinya.
"Wajahmu kelihatan pucat begitu. Ditambah kamu tidak mau sarapan. Setidaknya makan sesuatu. Tuh, buka dashboard mobil, ada banyak jajan di dalam," kata Ares.
Irene menurut saja. Ia membuka laci dashboard yang ada di hadapannya. Benar kata Ares, di dalamnya ada banyak camilan. Irene hanya mengambil satu permen lolipop dari sana dan mengemutnya.
"Aku yakin kalian sedang bertengkar lagi," tebak Ares. "Kayaknya tidak ada hal lain yang membuatmu muram begini kalau bukan karena Kak Alan. Kalian kenapa lagi? Semalam juga masih biasa-biasa saja, kan?" tanya Ares.
Ares tidak percaya dengan ucapan Irene. Ia tahu persis bahwa kakaknya sangat protektif pada Irene setelah pertunangan dilaksanakan. Bahkan Alan sering memarahinya jika terlalu dekat dengan Irene. Seakan Alan ingin menegaskan bahwa tak ada yang boleh mendekati Irene lagi selain dirinya.
Irene lebih banyak diam selama perjalanan. Hingga akhirnya mereka sampai di kampus juga masih tak mau banyak bicara seperti biasanya. Merek berpapasan dengan Miranda dan Irene terlihat cuek.
Klek!
Dor dor dor
Irene mematung saat mendengar suara letusan ketika ia membuka pintu ruang perkuliahan. Ternyata teman-teman kampusnya menyiapkan pesta kejutan ulang tahun yang tidak disangka-sangka.
__ADS_1
Tubuh Irene dipenuhi oleh potongan kertas yang berhamburan dari benda kejutan yang ditembakkan teman-teman ke arahnya.
"Selamat ulang tahun ... Selamat ulang tahun ... Bahagia sejahtera selamat ulang tahun ... Selamat ulang tahun, Irene ...."
Teman-teman perkuliahan Irene dengan kompak menyanyikan lagu untuk Irene. Jeha maju ke depan membawakan sebuah kue dengan lilin di atasnya. Ia berikan kue itu untuk Irene.
"Irene, selamat ulang tahun, ya," kata Jeha dengan senyuman manisnya.
"Terima kasih."
Kejutan yang Irene dapatkan sedikit mengobati kegundahan di hatinya. Irene bisa menyunggingkan senyum meskipun suasana hatinya tidak terlalu baik.
Irene meniup lilin bertuliskan angka 22 yang teman-temannya berikan. Ia menerima banyak ucapan selamat dari teman-temannya. Beberapa di antaranya juga memberikan kado kepadanya sepeti Winda, Bian, dan Nida.
"Woy, cepat bereskan ruangannya sebelum Pak Bambang datang! Nanti kita kena marah!" seru ketua rombongan belajar mereka.
Irene hanya tersenyum melihat kesibukan teman-temannya membereskan kelas setelah mereka sendiri yang membuat sampah. Untung saja Pak Bambang belum datang.
"Kenapa aku bisa lupa kalau kamu sedang ulang tahun," gumam Ares yang sejak tadi hanya bisa diam di belakang Irene.
"Memangnya kapan kamu ingat tentang aku? Ingat kalau bagian susah-susah dan minta bantuanku," sindir Irene.
"Hahaha ... Jangan diibgatkan begitu, aku jadi malu. Nanti deh hadiah dariku menyusul," kata Ares. "Kalau kalung itu dari siapa? Dari Kak Alan, ya?"
Irene langsung teringat dengan kalung baru yang dikenakannya. Ia segera menyembunyikan kalung itu ke dalam baju agar tidak ada lagi orang yang ingin tahu seperti Ares.
__ADS_1
"Iya, semalam Kak Alan yang memberikan ini padaku," ucap Irene.
"Oh. Syukurlah. Kalau begitu memang hubungan kalian pasti baik-baik saja."