
8 bulan kemudian ....
Hari itu adalah hari yang sangat istimewa bagi Ares. Dia akan merayakan kelulusan universitasnya dengan upacara wisuda yang diadakan di sebuah gedung megah. Ruangan penuh dengan tamu dan mahasiswa yang akan menerima gelar mereka, dan suasana penuh haru dan kegembiraan mengisi udara.
Ares berdiri di antara rekan-rekan sekelasnya, memakai jubah akademik yang khas dan topi wisuda yang menempel erat di kepalanya. Di sebelahnya, keluarganya berkumpul dengan penuh kebanggaan. Ayah dan ibunya, yang selalu menjadi pilar dukungan dalam perjalanannya, tersenyum bangga melihat anak mereka mencapai tonggak penting dalam hidupnya.
Saudara-saudaranya, yang penuh semangat dan riang, memberikan dukungan dengan tepukan dan senyuman menggemaskan. Mereka adalah sumber keceriaan dan inspirasi bagi Ares, yang selalu berjuang untuk memberikan contoh yang baik bagi adiknya.
Di antara keramaian, kerabat dan teman-teman dekat Ares juga hadir, memenuhi ruangan dengan tawa dan suara sorak. Mereka adalah saksi dari perjalanan Ares yang panjang dan berliku, memberikan dukungan dan persahabatan yang tak ternilai selama bertahun-tahun.
Ketika namanya dipanggil, Ares melangkah maju dengan perasaan bangga dan syukur yang memenuhi hatinya. Penerimaan gelar kehormatan dari dekan universitas menjadi momen yang paling dirindukannya. Applaus dan tepuk tangan meriah menggema di ruangan, memuliakan segala jerih payah yang telah Ares lalui selama ini.
Melihat senyum sumringah di wajah Ares, keluarganya terharu. Mata Indira berkaca-kaca, mengingat perjuangan anaknya dan betapa keras dia bekerja untuk mencapai tujuannya. Vito, dengan mata berkilau, mengangguk dan memberikan tatapan penuh kebanggaan kepada anaknya yang telah tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa.
Setelah upacara, keluarga dan teman-teman Ares berkumpul untuk merayakan keberhasilannya. Suasana penuh kebahagiaan terasa di sekitar mereka. Candaan, tawa, dan ucapan selamat mengisi ruangan, menciptakan kenangan yang indah dan tak terlupakan.
Di tengah keramaian, Ares merasa bersyukur atas segala dukungan dan kasih sayang yang dia terima. Dia merasa penuh rasa terima kasih kepada keluarganya yang selalu berada di sisinya, teman-teman yang selalu mendukungnya, dan semua guru dan mentor yang telah membimbingnya.
"Woy, Res! Kamu wisuda nggak nunggu kita. Jahatnya, huhuhu ...." Zoy memukuli lengan Ares dengan tinju ringannya.
"Selamat, ya, Res. Habis ini bantuin kita selesein skripsi," sahut Timmy.
"Halah, kerjaan kalian santai-santai, main-main, kapan mau selesai kuliahnya?" sindir Ares.
"Kita ngerjain, kok. Tapi kebanyakan main aja," tukas Abhy.
__ADS_1
Ares mengeplak kepala Abhy. "Sama saja! Kalau begini terus, aku jamin kalian bakal jadi mahasiswa abadi."
"Res, tuh, keluargamu sudah datang semua. Kompak ya, cuma karena wisudamu bisa kumpul semua," ujar Timmy.
Tatapan Ares beralih ke arah taman. Di sana sudah ada ayah dan ibunya beserta kakak-kakaknya.
"Aku ke sana dulu," kata Ares seraya berjalan meninggalkan teman-temannya.
Ia memeluk satu per satu kakaknya juga mencium tangan kedua orang tuanya.
"Selamat ya, Res. Welcome to the real world," kata Arvy seraya memberikan buket bunga. Ia datang bersama Adila yang kini menjadi istrinya.
Ares tersenyum. "Terima kasih, Kak. Mudah-mudahan hati Kak Arvy juga terketuk untuk mau kuliah supaya merasakan wisuda," katanya dengan nada meledek.
"Eh, anak ini!" Arvy memukul kepala adiknya. Semua orang tertawa.
"Iya, terima kasih, Ren. Sekarang kamu kelihatan seperti kura-kura!" celetuk Ares.
Alan melotot. "Kamu ini!" ucapnya dengan nada kesal.
"Ares ini suka banget komentar ... Jangan begitu dong, Irene kan sedang hamil, wajar perutnya besar," ujar Indira. Ia juga menjewer telinga anak bungsunya.
"Iya, Ma! Jewer aja, anak terakhir Mama memang sangat nakal," pinta Arvy.
"Aduh, Ma. Aku kan cuma bercanda," kilah Ares.
__ADS_1
"Nih, Res, untuk hadiah wisuda. Aku belikan motor yang kamu mau!" Alfa memberikan kunci motor kepada Ares.
Ares mengembangkan senyuman lebar. "Wah, makasih, Kak. Ini baru hadiah. Keren, keren ...." katanya senang. Ia memang sudah mengidamkan motor sport dari Ducati. Alfa yang mewujudkan keinginannya.
"Selamat ya, Res. Aku cuma kasih ini karena kamu dulu suka banget sama ini." Erika memberikan sebuah action figure Transformer generasi pertama kepada Ares.
"Wah, ini juga keren, Kak! Kamu dapat darimana?" Mata Ares berbinar-binar mendapatkan hadiah dari istri Alex itu.
"Dari salah satu relasi Alex. Dia kolektor juga," jawab Erika.
"Ayo kita foto bersama dulu," ajak Vito.
"Aduh, Pa! Apa foto barengnya nggak bisa nunggu Kak Alfa punya pasangan? Kasihan dia datang ke wisudaku nggak punya pasangan sendiri," ujar Ares.
Bibir Alfa langsung komat-kamit. Matanya melirik tajam ke arah Ares. "Kembalikan sini hadiah dariku!"
"Hahaha ... Bercanda, Kak!" kata Ares. "Ayo kita foto bersama. Biar aku pasangan sama Kak Alfa," ucapnya.
Semua menempatkan posisi dengan pasangan masing-masing. Vito dan Indira berada di depan. Ares dan Alfa berada di belakang mereka bersebelahan dengan Arvy dan Adila. Sementara, Irene dan Alan berdiri di sisi kanan, Alex dan Erika berdiri di sisi kiri.
"Bersiap semuanya ... Pasang senyum, satu ... Dua ... Tiga .... "
Klik!
Fotografer mengabadikan senyuman ceria dari keluarga Narendra.
__ADS_1
***
TAMAT