Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 209: Internet Menjadi Solusi


__ADS_3

Tok tok tok


"Irene ... Buka pintunya. Kita harus bicara!" Alan berusaha meminta Irene membukakan pintu. Namun, sepertinya Irene enggan untuk melakukannya.


"Irene ... Buka pintunya. Kalau tidak, aku akan mendobraknya!" kesabaran Alan sudah habis. Ia makin emosi karena Irene tak mau membukakan pintu.


Ares yang melihat kakaknya emosi malah tertawa terpingkal-pingkal ternyata kakaknya mau menuruti idenya. Menyaksikan pertengkaran dua manusia ternyata seru juga dibandingkan main game.


"Irene ... Aku dobrak sekarang, ya, supaya kamarmu tidak punya pintu lagi. Satu ... Dua ...."


Klak!


Akhirnya Irene mau membukakan pintunya. Irene tak mau menatap Alan. Raut wajahnya menunjukkan kekesalannya.


"Aku masih belum paham kenapa kamu sampai semarah ini padaku. Tapi, aku mau bertunangan denganmu karena memang aku menyukaimu. Aku ingin bersamamu selamanya, mana ada aku menyukai wanita lain?"


Irene tidak mempercayai perkataan Alan. Kejadian beberapa hari yang lalu sangat bertentangan dengan ucapan Alan hari ini. Ia hanya yakin kalau Alan menerima perjodohan sebatas demi permintaan kakek saja.


"Sudah ya, aku mau tidur, Kak. Biar aku merenungkannya dulu." Irene kembali mengunci pintunya.


Alan tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi jenis wanita yang sedang ngambek. Ia menoleh ke arah Ares yang masih menertawakannya.


"Hahaha ... maaf ya, Kak. Aku tidak bisa menahan tawa," kata Ares.


Ia melompat dari kursi yang didudukinya dan berjalan menghampiri Alan. "Mungkin dia kesal karena ada kaitannya dengan masalah kampus waktu itu, Kak. Sebelum terselesaikan, dia memang kayaknya tertekan banget dijauhi teman-teman satu kampus karena dituduh hamil."


Ucapan Ares membuat Alan berpikir. Ia jadi teringat sesuatu. Sepertinya ia tahu apa yang membuat Irene kesal.


***


Keesokan harinya, Irene datang ke kampus lebih awal seperti kebiasaannya. Ia tak mau lagi diantar jemput oleh Alan.


Di kampus, ia bertemu lagi dengan Miranda. Rasanya kesal melihat wanita itu masih bertahan di sana padahal seharusnya wanita itu dikeluarkan karena sudah memfitnahnya.


Miranda tampak tersenyum senang. Sepertinya ucapan Sovia waktu itu memang benar, Irene telah terhasut oleh rencana mereka.


"Kamu sudah mengerjakan tugas dari Pak Wibowo?" tanya Miranda sembari meminum kopinya.

__ADS_1


"Pergi kamu!" usir Irene. Ia hanya tengah memastikan makalah yang dibuatnya tidak ada kesalahan. Ia malas didekati oleh orang seperti Miranda.


"Kenapa sih kamu masih galak? Aku kan sudah janji tidak akan mengganggumu," kata Miranda.


Byur!


"Ups! Maaf, Ren, aku tidak sengaja!" Miranda menumpahkan minumannya ke atas makalah yang sudah Irene buat.


Ia mengambil tisu dari dalam tasnya. "Aduh, biar aku bantu lap!"


Bukannya menjadi bersih, perbuatan Miranda justru memperparah keadaan. Makalah Irene basah dan sobek.


"Ya Tuhan, maaf, Ren ...," ucap Miranda sembari berpura-pura memasang wajah menyesal.


Kekesalan di hati Irene sudah menumpuk dan menggunung. Ia menatap tajam ke arah makhluk yang baru saja berani mengusiknya.


"Jangan marah begitu, aku jadi takut!" ledek Miranda.


Spash!


"Oh, maaf, ya, aku tidak sengaja. Niatnya mau buang ke tempat sampah malah tumpah di wajahmu. Mungkin tidak ada bedanya wajahmu dengan tempat sampah," kata Irene mengejek. Ia membalas perlakuan Miranda kepadanya.


Miranda mengelap kasar wajahnya. Beberapa orang yang sudah datang tampak tertawa melihat penampilannya yang jadi berantakan karena siraman kopi itu.


"Hahaha ... Dasar wanita jelek. Aku sumpahi kalau kamu tidak jadi menikah dengan Pak Alan. Dia terlalu sempurna untuk orang sepertiku," sindir Miranda.


"Memangnya aku peduli? Sekalipun Kak Alan tidak jadi menikah denganku, dia juga tidak mungkin menikahi wanita seperti kakak sepupumu. Setidaknya Kak Alan tidak buta untuk memilih Sovia sebagai istrinya," balas Irene.


Miranda tampak memendam kekesalannya. Wajah wanita itu terlihat merah padam karena ucapan Irene.


"Kamu masih berhutang maaf padaku. Kalau kamu tidak mengakui kesalahanmu di depan kelas, aku akan melaporkan hal ini kembali pada Ibu Retno. Ingat, ya! Kamu seharusnya dikeluarkan karena sudah memfitnahku!" ancam Irene.


Miranda terpojok, ia tak punya pilihan lain. Dilihatnya seisi kelas yang hampir penuh dengan peserta perkuliahan. Miranda berjalan ke depan kelas menghadap ke orang-orang.


Ia mengabaikan rasa malunya untuk berdiri di sana. Ia menjadi pusat perhatian. Banyak yang terlihat berbisik-bisik membicarakannya.


"Teman-teman ... Aku mengaku yang telah menyebarkan berita bohong tentang kehamilan Irene. Tolong maafkan aku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi."

__ADS_1


Beberapa orang terdengar menyoraki dan menertawakan Miranda. Wanita itu lantas turun dari podium kelas dan berjalan keluar. Dengan kondisi seperti itu, ia tidak mungkin mengikuti pembelajaran.


***


Alan di kantornya terlihat tak berkonsentrasi pada pekerjaan. Pikirannya memang dipenuhi tentang Irene. Wanita itu kalau sedang marah tidak jelas tidak mau mengatakan apa permasalahannya. Silent treatment yang diberikan kepada Alan mampu membuat lelaki itu kalang kabut dalam bekerja.


"Pak, apa Anda ada masalah?" Finn, asisten barunya memberanikan diri untuk bertanya. Sudah seminggu lebih ia rasa atasannya itu tidak melakukan pekerjaan dengan baik. Ia sampai pusing untuk menghandle segala urusan yang dilupakan oleh Alan.


"Kamu belum menikah kan, Finn?" tanya Alan.


Finn mengerutkan dahi. "Belum, Pak. Memangnya kenapa?" ia sedikit merinding karena sempat mendengar isu kalau atasannya itu mungkin penyuka sesama jenis.


"Kamu punya pacar atau pernah punya pacar?" tanya Alan lagi.


Finn memegangi tengkuknya. Bulu-bulu halus di sana berdiri. Pertanyaan dari Alan terdengar horor untuknya.


"Saya sudah punya pacar, Pak," jawabnya. Sebenarnya ia sudah lama putus dengan pacarnya, namun cari aman agar atasannya itu tidak berpikir macam-macam tentangnya.


"Baguslah, jadi aku mungkin bisa meminta saranmu," kata Alan.


Finn semakin merasa tidak paham. "Saran apa ya, Pak?" tanyanya.


"Biasanya apa yang kamu lakukan kalau pacarmu sedang marah untuk meredakannya?"


Mendengar pertanyaan Alan, Finn kini baru paham kalau sepertinya sang atasan sedang digalaukan oleh kekasihnya. "Oh, pacar Bapak sedang marah, ya?" tanyanya.


"Ah, iya. Kamu pasti belum tahu. Aku sudah punya calon istri, kami sudah bertunangan. Tapi, sekarang dia sedang marah padahal aku tidak terlalu tahu kenapa dia bisa semarah itu padaku." Alan menyampaikan permasalahnya secara detil kepada sang asisten. Ia rasa menemukan orang yang tepat untuk diajak berdiskusi.


Finn terdiam. Dulu ia putus dengan pacarnya juga karena dirinya yang katanya tidak peka saat pacarnya marah. Ia malah takut kalau salah memberikan solusi. Kalau ia jujur tidak punya pacar, sudah pasti atasannya akan marah padanya.


"Sebentar, Pak!"


Finn berbalik badan. Ia mengambil ponsel dan membuka browser. Diketiknya kata kunci cara meluluhkan wanita yang sedang marah. Ia baca beberapa artikel teratas dengan cepat untuk memcari tahu solusi yang tepat.


"Kamu ngapain?" tanya Alan penasaran. Asistennya aneh, disuruh menjawab pertanyaannya malah sibuk dengan ponselnya sendiri.


Finn kembali berbalik badan. Ia tersenyum lebar seolah tak terjadi apa-apa. "Em, terus terang saya tidak terlalu mengerti tentang wanita, Pak. Tapi, mungkin Anda bisa melakukan beberapa hal untuk menangani wanita yang marah," kata Finn.

__ADS_1


__ADS_2