Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 164


__ADS_3

Alan dan Alenta saling canggung berada dalam satu kamar yang disediakan hotel.


"Em, kamu tidur saja di sini. Aku akan keluar untuk mencari penginapan lain," kata Alan.


"Ini sudah tengah malam, Pak. Sepertinya akan susah mencari kamar hotel lain. Apalagi di musim balapan seperti ini, pasti seluruh kamar hotel sudah di-booking jauh-jauh hari."


"Kamu benar juga." Alan berpikir perkataan Alenta memang benar. Kalau saja ada banyak kamar yang tersedia, pihak hotel pasti sudah memperhitungkannya.


"Tapi, apa tidak apa-apa kalau kita tinggal bersama seperti ini?" tanya Alan canggung.


"Untuk kondisi darurat mau tidak mau harus begini. Kita tentukan saja batasan tempat tidurnya. Soalnya hanya ada satu ranjang di sini."


"Aku tidur di lantai saja," kata Alan.


Alenta tercengang. "Apa Anda sudah gila? Malam ini sangat dingin. Tidurlah di ranjang! Aku akan membatasinya dengan tas ini!"


"Kamu yakin?" tanya Alan memastikan.


"Anda juga pasti butuh istirahat dengan nyaman. Dalam kondisi darurat, harus bisa menyesuaikan diri."


Irene lebih dulu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Alan mengikuti. Keduanya dalam posisi saling memunggungi.

__ADS_1


Irene memang yang menyuruh lelaki itu tidur di ranjang yang sama dengannya. Namun, justru ia sendiri yang dibuat resah dan tidak bisa tidur.


"Pak, apa Anda sudah tidur?" tanya Irene memastikan.


"Belum," sahut Alan.


Irene tidak menyangka jika mereka sama-sama tidak bisa tidur. Mereka berbicara sembari saling memunggungi.


Setiap kali Alan berusaha memejamkan mata, ia terngiang-ngiang kebersamaannya dengan Irene. Mereka pernah tidur seranjang. Ia jadi merindukan wanita itu. Sayangnya, Irene tak ada di sana bersamanya.


Alan punya keinginan untuk menghubungi Irene namun takut mengganggu waktu wanita itu. Ia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.


"Tidak," jawab Alan.


Alenta hanya tersenyum kecut. Ia paham tidak mungkin seorang Alan belum pernah tidur dengan wanita lain. Apalagi lelaki itu pernah berpacaran lama dengan wanita agresif seperti Sovia. Alenta rasa bukan hanya tidur bersama, tapi bisa lebih dari itu yang pernah mereka lakukan. Mungkin juga bukan hanya dengan Sovia saja. Alan yang tampan pasti membuat banyak wanita-wanita mengantri untuk bisa berkencan dengan lelaki itu.


Sementara, Alan tak memikirkan hal lain. Pikirannya penuh dengan Irene. Wanita itu pamit untuk pulang ke kampung. Seharusnya ia tidak perlu pergi ke sana hanya untuk menonton AI balapan.


***


Irene terbangun dari tidurnya. Ia tak mendapati Alan di sebelahnya. Lelaki itu seakan telah menghilang begitu saja.

__ADS_1


"Apa di kamar mandi?" gumam Irene.


Ia segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Tak ada Alan di sana. Ia memutuskan untuk mandi karena hari ini ada janji untuk bertemu Joy di sirkuit.


Irene turun ke basement memastikan ada tidaknya mobil Alan. Ternyata mobil Alan tidak ada di sana. Irene menebak Alan telah pergi menggunakan mobilnya.


"Mobilnya sudah tidak ada."


Samar-samar Irene mendengarkan suara seorang lelaki. Ia langsung bersembunyi di balik tiang untuk mencuri dengar percakapan antara dua lelaki yang sepertinya ada di sana.


"Sepertinya kita kurang cepat datang."


"Padahal kita seharusnya mengutak-atik mobil itu sekarang."


"Kita bisa melakukannya di sana. Aku yakin dia akan ke sana."


"Kamu benar. Kita eksekusi saja di sana, kita rekayasa supaya terlihat seperti kecelakaan murni."


"Sebenarnya aku cukup mendapatkan satu kakinya saja, aku tidak menginginkan nyawanya."


Irene langsung menutup mulutnya. Ia sangat syok mendengarkan percakapan manusi psikopat seperti mereka.

__ADS_1


__ADS_2