
"Mau berlagak sok pahlawan di depan pacarmu, ya?" Fathir ingin sekali menertawakan gaya Ares yang sok berani. "Bagaimana kalau kamu buktikan saja di depannya, seberapa jago kamu berkelahi. Supaya dia bangga."
"Sebenarnya maumu apa? Kenapa sepertinya tidak pernah puas menggangguku?" Raut wajah Ares sudah menunjukkan kekesalan yang mendalam.
"Masih berani bertanya? Bukankah aku sudah pernah bilang, sekali kamu mencampuri urusanku, maka siap-siap kehidupanmu tidak akan tenang."
Fathir bersama kelima temannya beringsut maju mengelilingi Ares dan Irene. Mereka sangat pintar menggiring mangsanya ke tempat sepi lalu mengepungnya. Jalan tempat mereka berada merupakan jalan buntu sebuah perumahan yang terbengkalai. Tempat itu cukup jauh dari pemukiman aktif warga apalagi kantor polisi.
"Irene, aku tidak tahu bisa menjagamu atau tidak. Tapi, jangan khawatir. Biasanya Fathir masih waras tidak akan memukul wanita. Ya ... itu kalau dia menganggapmu wanita, kamu pasti akan aman," ucap Ares dengan nada lirih.
"Aku lebih senang kalau dia menganggapku laki-laki," jawab Irene.
"Mundur! Jaga jarak supaya tidak terkena tendangan." Ares mengingatkan Irene untuk yang terakhir kali sebelum ia juga maju ke depan. Satu lawan enam bukanlah pertarungan yang seimbang. Tapi, Ares memang sudah biasa dikeroyok oleh kelompok orang yang jumlahnya lebih besar. Hasil akhirnya ... tentu saja Ares selalu kalah dan babak belur.
Kali ini juga sama. Kesempatan menang hampir tidak ada. Tapi, ia akan tetap nekad maju demi mempertahankan harga dirinya sebagai seorang lelaki. Seandainya dia kalah, setidaknya ia sudah berjuang.
"Jagoan kita berani, kan. Aku suka ini." Fathir menyunggingkan senyuman meledek.
Secara tiba-tiba, dua anak buah Fathir maju ke depan dan menyerang Ares. Perkelahian di antara mereka berlangsung dengan sengit meskipun baru awal-awal. Kedua belah pihak sama-sama berambisi untuk memenangkan perkelahian itu.
Dua musuh awalnya masih bisa Ares tangani dengan kemampuan bela diri yang lumayan. Saat anak buah Fathir yang lain ikut menyerangnya, ia menjadi lebih kelimpungan. Energi yang harus dikelurkan lebih banyak, serta harus mempercepat gerakan agar bisa terhindar dari serangan yang berasal dari berbagai arah. Beberapa kali ia mendapatkan pukulan di tubuhnya. Ares tetap berusaha untuk bertahan.
Bruk!
Salah seorang anggota Fathir terpental jatuh hingga tersungkur ke tanah. Mereka semua tercengang, mengapa tiba-tiba ada yang jatuh. Ternyata, Irene yang menendang anak buah Fathir. Ares hampir tak percaya Irene yang ia suruh menyingkir malah ikut maju bersamanya.
__ADS_1
"Gila kamu!" bentak Ares yang khawatir Irene akan menjadi sasaran Fathir dan anak buahnya.
"Bukankah kita berdua memang sama-sama gila? Kita berangkat bersama, pulang juga harus bersama. Kalaupun kita harus mati, kita juga harus mati sama-sama." Di saat serius seperti itu Irene masih berkata dengan santai dan bercanda.
"Irene ...," kesal Ares.
Sebenarnya ia hendak memarahi wanita itu. Akan tetapi, serangan kembali datang. Kali ini Fathir juga turun tangan. Berkat Irene yang ikut maju bersamanya, Ares merasa lebih leluasa bergerak. Tidak ia sangka gerakan Irene dalam menghadapi lawan sangat baik, seperti seorang yang terlatih. Melihat Irene berkelahi, membuatnya semakin terpana. Matanya tak bisa lepas dari sosok wanita yang sedang berjuang bersamanya.
"Ah!" pekik Ares.
Akibat berkelahi tanpa fokus, Ares kecolongan. Fathir berhasil memukul tangan kanannya dengan bilah bambu. Lelaki itu curang karena berkelahi dengan senjata. Biasanya mereka selalu menyelesaikan masalah dengan tangan kosong.
"Ares!" teriak Irene saat melihat Ares dilukai oleh Fathir. Tangannya mengucurkan darah.
Ares memegangi tangannya yang terluka. Ia dibuat tercengang melihat Irene yang sedang mengamuk. Fathir dan anak buahnya dibuat tak berdaya dan akhirnya lari kalang kabut. Seharunya ia yang melindungi Irene, tapi justru wanita itu yang telah menyelamatkannya.
Tipe perkelahian Irene sangat mengerikan. Saat marah, ia tidak peduli akan mati atau membuat lawannya mati. Entah belajar di mana bela dirinya. Tapi, Ares salut dengan wanita yang bisa membela diri.
Fathir dan anak buahnya terluka. Mereka pergi berboncengan dengan sepeda motor. Sepertinya mereka juga akan trauma jika berhadapan denga Irene lagi. Wanita itu lebih galak dari pada polisi.
"Ares! Kamu tidak apa-apa?" seru Irene seraya berlari menghampiri Ares dengan wajah cemasnya.
"Aduh ... ini darahnya banyak sekali ... bagaimana ini? Bagaimana kalau kamu mati? Aku juga tidak terlalu berani melihat darah ...."
Wajah Irene berubah pucat pasi. Wanita yang tadinya terlihat garang dan berani kini ketakutan melihat banyak darah. Ares langsung melepas jaketnya untuk menutupi tangan kanannya yang bercucuran darah.
__ADS_1
"Sudah aku tutup, kamu tidak perlu takut lagi." Ucapan Ares begitu santai seperti seseorang yang tidak merasakan sakit. Padahal sangat jelas tangannya terluka cukup parah.
"Kamu gila apa! Memangnya hanya dengan menutupi begitu lukamu akan sembuh?" Irene mengomel.
"Setidaknya kamu tidak akan takut untuk melihatku." Ares berkata sembari memberikan tatapannya kepada Irene. Wanita yang sangat biasa itu ternyata banyak menunjukkan hal-hal yang di luar ekspektasinya. Irene tak seburuk yang ia kira.
Di balik penampilan sederhananya, tersembunyi banyak hal yang membuatnya kagum. Jujur, ia menyesal pernah memandang sebelah mata Irene saat mereka pertama kali bertemu. Ia semakin mengerti kenapa sang kakek menerima Irene masuk ke dalam keluarga Narendra. Pasti, Irene bukanlah wanita biasa. Kakeknya tidak mungkin tertarik padanya jika ia tak memiliki daya tarik.
"Bagaimana ini? Lukamu harus segera diobati. Tapi, pertama-tama harus diikat perdarahannya bisa terhenti. Tapi aku tidak berani melihat darah." Irene menggingit jarinya.
Ares tersenyum. Irene menunjukkan ekspresi yang sangat lucu. "Kamu punya sapu tangan?" tanya Ares.
"Ah! Ada ... ada ... sebentar!" Irene gugup mencari-cari sapu tangannya di dalam tas. "Ini!" ia menyerahkan setelah menemukannya.
Ares mengikatkan sapu tangan itu pada bagian yang tersayat. Sebenarnya rasanya perih, namun ia mencoba menahannya. Kayu yang Fathir pukulkan padanya ada pakunya sehingga melukai tangannya.
Irene melihat ngilu saat Ares membalut lukanya sendiri. Lelaki itu tampak kesulitan, namun ia juga tidak berani melihat banyak darah.
"Kamu aneh, ya ... bukannya wanita itu pasti mengalami menstruasi setiap bulan? Bisa-bisanya kamu takut melihat darah," gumam Ares.
"Itu beda ... itu kan darahmu, bukan darahku sendiri. Orang takut mau diapakan lagi? Kamu paling juga takut kalau lihat darahku," Irene menjulurkan darahnya.
"Dasar aneh. Setidaknya kamu setiap bulan pasti lihat darah. Aku tidak setiap hari seperti ini, tahu!"
Mereka sibuk saling menggerutu tidak memikirkan bagaimana cara mereka pulang. Tempat itu sangat sepi dan jauh dari keramaian. Berharap pertolongan dari orang juga rasanya tidak mungkin.
__ADS_1