Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 253: Perasaan Ares


__ADS_3

Ares duduk sendirian sembari melemparkan makanan ikan ke kolam di halaman samping rumah. Sejak Irene pergi, ia merasa rumah jadi sepi. Biasanya mereka selalu bertengkar meributkan hal-hal sepele. Mereka juga sering berangkat ke kampus bersama.


Ares mengingat kembali setiap momen-momen berkesan bersama Irene. Sejak awal pertemuan dimana ia sangat membenci kehadiran Irene yang bagaikan beban. Ia selalu melarang Irene dekat-dekat dengannya agar tidak membuatnya malu saat berada di kampus.


Ares merupakan primadona di kampusnya. Selain punya wajah yang tampan, ia juga jago bermain basket. Berbeda dengan Irene yang jelek dan selalu menjadi bahan lelucon orang. Saat Irene diganggu, Ares juga tak mau membantu.


Mereka hampir setiap hari bertengkar. Namun, di balik pertengkaran itu, mereka juga sama-sama perhatian. Ares juga mengkhawatirkan Irene, begitu juga sebaliknya.


Terkadang mereka melakukan hal gila bersama untuk sekedar bersenang-senang. Ketika kena marah mereka juga bersama.


Biasanya di kolam ikan itu ia dan Irene ngobrol berdua sambil melemparkan makanan ikan.


"Weh, ada cowok sedang galau kayaknya," sapa Arvy. Ia baru saja pulang dari syuting iklan.


Melihat Ares duduk sendirian di taman, ia lantas menghampiri dan duduk di samping adiknya.


Ares terlihat sedih dan terganggu ketika Arvy datang menemuinya. Dia mengalihkan pandangannya dari kolam ikan dan tersenyum tipis kepada kakaknya. "Ada apa, Kak?" tanya Ares.


Arvy mengangkat bahu, "Hanya ingin menemuimu saja. Sudah lama sekali kita tidak mengobrol."


Ares kembali memandang ke arah kolam ikan. Di sana ikan-ikan masih berebutan umpan yang dilemparkannya. Arvy turut melemparkan umpan ke dalam kolam.


"Kamu masih memikirkan Irene?" tanya Arvy.


Ares menggeleng pelan, tapi mata dan senyumnya mengatakan sebaliknya. Arvy mengenal adiknya dengan baik dan dia tahu bahwa Ares masih terpikirkan tentang wanita unik yang pernah tinggal di rumah mereka.


"Aku tahu kau merindukannya," kata Arvy dengan lembut. "Tapi, kau juga harus memahami bahwa dia memutuskan untuk pergi. Kita tidak bisa memaksanya untuk kembali."


Ares mengangguk setuju, tapi tetap terdiam. Arvy terus berbicara, mencoba untuk menghibur adiknya dan memberikan dukungan.

__ADS_1


"Kamu tahu, bukan hanya kamu yang merindukan wanita menyebalkan itu. Rumah jadi sepi, tidak ada lagi yang bisa aku ganggu," ujar Arvy.


Dia memang orang yang paling suka mrngganggu Irene dibandingkan dengan saudaranya yang lain. Arvy yang paling sadis kalau disuruh untuk menjelek-jelekkan Irene. Untungnya Irene sangat kuat mental ketika berada di sana.


"Kenapa waktu sudah tahu Irene ternyata cantik dia malah pergi, ya?" gumam Arvy.


"Memangnya kenapa kalau Irene cantik? Kak Arvy mau saingan mendapatkannya juga?" tanya Ares.


Arvy tersenyum lebar. "Tidak begitu juga. Aku kan sudah punya Adila. Setidaknya mataku tidak sakit kalau harus melihat Irene setiap hari. Bayangkan aaja satu tahun harus tinggal bersama wanita jelek dan dekil itu," katanya.


Arvy lebih memilih tinggal di luar dari pada di rumahnya dengan alasan sibuk syuting. Padahal, bisa saja ia tetap pulang pergi ke rumah. Namun, karena Irene jelek ada di rumah, ia jadi malas untuk bertemu. Apalagi dia sudah biasa bertemu dengan orang-orang yang good looking di lokasi syuting.


"Kak Arvy ini ucapannya selalu pedas," guman Ares.


"Semangatlah, Res! Tidak ada Irene kan masih ada kakak-kakakmu. Kalau masih kurang juga, ada pelayan dan penjaga rumah yang siap kamu ganggu!" kata Arvy.


"Aku takut kualat kalau iseng pada mereka," kata Ares.


"Kamu sesuka itu ya, dengan Irene?" tanya Arvy. Kali ini nada bicaranya terdengar serius.


Ares memasang raut wajah sendu. Ia tak berani menjawab pertanyaan itu.


"Aku kira dulu hanya Kak Alan yang gila bisa menyukai wanita jelek seperti Irene. Ternyata kamu tidak kalah gilanya dengan kakak pertama kita."


Ucapan Arvy serius tapi terkesan meledek.


"Tapi, Irene aslinya cantik," kilah Ares.


"Ya, itu setelah dia membuka penyamarannya. Sebelum itu, dia sangat jelek meskipun memang baik hati. Tapi, anehnya, Adila lansung bisa mengenali kalau Hyena adalah Irene. Padahal aku yang sudah tinggal lama dengannya saja tidak tahu."

__ADS_1


"Mana ada tinggal bersama? Kak Arvy lebih sering tinggal di luar, pura-pura ada jadwal syuting," sindir Ares.


"Sstt ...! Jangan buka-buka kartu! Aku memang perlu waktu supaya bisa bertemu dengan Adila," kata Arvy.


"Lalu bagaimana? Apa dia sudah bisa mengenalimu?" tanya Ares.


Arvy menggeleng. "Dia masih belum bisa mengingatku. Setiap hari saat aku datang yang ia tanyakan pertama adalah Irene. Aku sampai bosan mendengarnya."


"Hahaha ... Aku curiga Adila malah suka dengan Irene bukan denganmu," ujar Ares.


Mereka berdua tersenyum dan kembali melemparkan makanan ikan ke kolam, menikmati keheningan yang nyaman. Meskipun Ares masih merindukan Irene, dia merasa lebih baik setelah bercakap-cakap dengan kakaknya. Dia merasa tidak sendirian lagi dan yakin bahwa dia akan baik-baik saja.


"Sejak Irene ada di sini, kamu semakin banyak bicara dari sebelumnya, Res. Itu yang aku sukai dari Irene, bisa membawamu jadi lebih menyenangkan begini, bisa lebih terbuka," ujar Arvy.


"Sayangnya, Irene dan Kak Alan yang akhirnya saling punya perasaan yang sama. Aku harap kamu bisa lapang dada menerimanya. Irene akan menjadi kakak ipar kita," kata Arvy mengingatkan.


Ares hanya tersenyum. "Iya, aku tahu. Aku juga tidak bermaksud untuk mengacaukan hubungan mereka," kata Ares.


Arvy merangkul pundak Ares. Entah mengapa ia merasa bangga dengan adiknya yang kini sudah semakin bisa bersikap dewasa.


"Res, kamu kan tampan. Apa tidak ada niatan untuk jadi artis? Manajer di tempatku sempat menanyakan tentangmu," kata Arvy.


"Tidak, aku tidak tertarik." Ares tanpa ragu langsung menolaknya.


"Oh, ayolah! Masa mau kamu sia-siakan ketampanan keluarga Narendra? Wajah kita memiliki nilai jual yang tinggi jika tampil di televisi. Ayolah, sekali-kali coba dulu hal baru. Aku yakin kalau sudah cocok, kamu tidak akan bisa berhenti," bujuk Arvy.


"Tidak, cukup Kakak saja yang jadi artis di keluarga ini. Aku paling anti dikejar-kejar fans apalagi wartawan!"


Ares punya pengalaman buruk dikejar oleh pengagumnya di kampus. Rasanya menjadi populer sangat mengganggu. Untung saja ada Irene. Semenjak ia dekat dengan Irene ia jadi lebih jarang diganggu. Mungkin karena mengira seleranya tidak masuk akal. Tapi, Ares sungguh-sungguh telah mencintai Irene jauh sebelum Irene menampakkan identitasnya. Ia tanpa sadar sudah menyukai Irene sejak awal.

__ADS_1


__ADS_2