Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 178


__ADS_3

"Excuse me," salah seorang wanita bule yang tadi membahas Alan dan Irene mendekat ke arah meja mereka.


Wanita itu membawa segelas wine mahal menunjukkan sisi sensualitasnya seakan ingin pamer bahwa dia jauh lebih cantik dari Irene.


"Tuan, apa Anda punya waktu sebentar untuk minum-minum bersama kami?" tanyanya dengan nada menggoda.


Irene berusaha mengalihkan pandangan. Ia merasa ingin tertawa melihat kekonyolan tingkah wanita itu. Selain tidak sopan, mereka juga terlalu percaya diri.


"Maaf, Nona. Saya tidak tertarik," jawab Alan.


"Ayolah, ada banyak teman baru yang akan membuat Anda betah bersama kami. Apalagi kami semua cantik-cantik," bujuknya.


"Sekali lagi terima kasih atas ajakannya. Tapi, saya tidak tertarik. Saya sudah memiliki calon istri," kata Alan. Ia kekeh menolak ajakan itu.


"Apa ... Maksudmu wanita ini?" tanyanya sembari memandang rendah penampilan Irene dengan terang-terangan.


"Benar, dia calon istri saya," jawab Alan tegas.


"Oh, kamu pasti sedang bercanda. Ini sangat menggelikan. Aku sampai ingin muntah mendengarnya. Hahaha ...." wanita itu pergi dari sana setelah mengolok-olok hubungan Alan dan Irene.


"Pasti penampilanku sangat mengerikan ya, Kak," guman Irene. Ia heran mengapa banyak orang yang merendahkan penampilannya.


"Apa yang kamu bicarakan? Kamu terlihat cantik hari ini," puji Alan.


Meskipun secara standar kecantikan pada umumnya warna kulit Irene tak sesuai kriteria, namun bentuk tubuh dan style pakaian yang dikenakan sangat modis. Jika Irene menyembunyikan wajahnya, siluet tubuhnya pasti orang mengiranya sebagai wanita yang cantik.


"Jadi, Kak Alan tidak keberatan dengan penampilanku yang seperti ini?" tanya Irene memastikan. Tidak mungkin rasanya seorang Alan tak merasa malu berdampingan dengan wanita sejelek dirinya.


Alan tersenyum. Ia mengusap kepala Irene dengan lembut. "Aku tidak peduli bagaimanapun caramu berpenampilan. Hiduplah untuk dirimu sendiri, tidak perlu memperdulikan apa kata orang," ucap Alan dengan bijak.


Irene terlihat resah. Ia memainkan jemarinya seakan ingin mengungkapkan sesuatu namun tidak berani.


"Kak, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Irene memberanikan diri.


"Katakan saja."

__ADS_1


"Kalau Kak Alan menemukan orang yang selama ini dipercaya tapi ternyata telah membohongi Kakak, apa yang akan Kak Alan lakukan padanya?"


Alan terdiam sejenak. "Dalam prinsip hidupku, ada dua hal yang tidak bisa aku terima. Yaitu ... Pengkhianatan dan kebohongan," ucapnya.


Mendengar jawaban itu Irene urung mengatakan yang sebenarnya. Ia rasa Alan akan sangat merasa dipermainkan jika mengetahui selama ini ia menyamar sebagai banyak karakter yang diciptakannya sendiri.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Alan heran.


"Tidak apa-apa, Kak. Aku hanya sekedar bertanya saja," kilah Irene.


Usai acara makan siang mereka selesai, keduanya kembali ke kamar hotel masing-masing. Irene mendatangi kamar milik Adila. Wanita itu telah pulang setelah jalan-jalan bersama Arvy.


"Apa kamu bisa memaafkan orang yang telah membohongimu begitu lama?" tanya Irene.


"Itu tergantung. Kalau memang kebohongannya besar aku tak bisa memaklumi maupun memaafkannya."


Irene menghela napas panjang. Ia tak menyangka keputusannya yang dulu ingin menyamar akan menjadi kenyataan. Hidupnya menjadi penuh kepalsuan. Suasana hatinya benar-benar menjadi kacau.


***


Suasana di tempat ski salju itu sangat ramai. Wisatawan dari berbagai penjuru dunia berkumpul di sana untuk bersenang-senang.


"Ayo, Adila! Kamu pasti bisa!"


Irene menyemangati Adila yang sejak tadi terus terjatuh saat berusaha menggunakan papan seluncurnya. Melihat Adila berkali-kali jatuh, membuat Irene ingin tertawa. Gaya Adila saat terjatuh sangat lucu tapi kasihan.


"Irene, aku menyerah! Aku tidak bisa bermain," ucap Adila dengan napas terengah-engah. Ia sudah sangat kelelahan dan kesakitan karena jatuh berkali-kali.


"Jangan menyerah begitu, ikuti caraku, nanti kamu pasti bisa!" Irene tetap memberikan semangat.


Adila mengangkat tangan tanda menyerah. "Tubuhku sakit semua. Kalau masih kulanjutkan, rasanya tulang-tulangku akan hancur."


"Oke ...."


"Aku mau istirahat dulu," ucap Adila. Ia menyingkir dari area permainan ski menuju ke tepi. Ia duduk di sebuah bangku yang terdapat di depan salah satu pondokan memandangi orang-orang yang begitu ahli bermain ski.

__ADS_1


"Nih!" Arvy menyodorkan segelas minuman panas untuk Adila.


"Oh, terima kasih." Adila menerima minuman itu dan memegangnya dengan kedua tangan. Ia menghirup aroma kopi yang enak. Ia minum sedikit demi sedikit untuk menghangatkan tubuhnya.


"Bagaimana tadi? Apa menyenangkan?" tanya Arvy.


"Tidak ... Sama sekali tidak menyenangkan. Badanku sakit semua karena Irene," keluh Adila.


"Aku bilang juga tadi jangan main dengannya. Kalau mau belajar denganku saja," kata Arvy.


"Aku tidak enak kalau kita terus berdua. Mereka kan yang membayar liburan kita." Adila memandangi Irene yang tengah asyik bermain ski bersama Alan. Wanita itu terlihat sangat lincah berseluncur di atas papannya.


"Bukannya itu bagus? Toh mereka juga sebentar lagi akan menikah. Kita juga bisa pacaran sepuasnya mumpung ada di sini," ujar Arvy.


"Irene itu keren, ya? Dia kok bisa jago banget begitu. Apa dia sudah sering main ski?" Adila fokus memperhatikan kelihaian Irene bermain ski. Terlihat wanita itu sudah sangat terlatih.


"Aku juga heran dengannya. Apapun yang dia pegang, sepertinya bisa ia lakukan," sambung Arvy.


"Pantas Kak Alan menyukainya. Irene memang penuh talenta. Dia juga teman yang menyenangkan."


Arvy ikut memperhatikan Irene dan Alan dengan fokus. Semalam Alan juga mengatakan padanya jika lelaki itu menyukai Irene. Ia masih belum bisa yakin apakah kakaknya benar-benar berkata jujur. Irene memang memiliki banyak talenta, namun dari parasnya sangat timpang dengan kakaknya.


"Ar, mau ikut main lempar bola salju? Di sana sepertinya ramai," ajak Adila. Ia melihat sekumpulan orang yang tengah saling melemparkan bola salju sambil tertawa kegirangan.


"Hah! Itu permainan kekanak-kanakkan sekali, Adila. Lebih baik kita tetap di sini."


"Ya sudah kalau tidak mau, aku akan main sendiri kesana!"


Adila berlari dengan semangat menghampiri kumpulan orang-orang asing itu. Ia langsung ikut berbaur dan menyerang orang lain dengan bola salju yang dibuatnya.


"Dia kenapa? Katanya tadi badannya sakit tapi masih kuat berlari seperti itu. Hah ...," gumam Arvy.


Melihat Adila yang terlihat begitu bahagia, ia merasa turut senang. Mereka sangat jarang bisa bertemu apalagi menghabiskan waktu bersama seperti saat ini. Meskipun ada rasa kesal dipaksa ikut ke sana oleh kakaknya, kehadiran Adila membuat kekesalannya terobati.


Pengaruh media berita yang ada di tanah air sangat menyeramkan. Jika berita kedekatan mereka beredar, jagad hiburan pasti akan kembali ramai seperti sebelumnya. Ia merasa Alan dan Irene sengaja mengajak mereka ke sana agar bisa sedikit bersenang-senang dan terhindar dari rutinitas yang menjemukan sebagai artis.

__ADS_1


__ADS_2