Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 92: Audisi


__ADS_3

"Halo, Mr. Alan ... Selamat datang di sesi pembelajaran dasar Bahasa Persia," sapa Irene sebagai Alenta saat Alan telah masuk dan bergabung dengannya dalam aplikasi.


"Halo juga, Alenta. Terima kasih sudah menyempatkan diri mengajariku."


"Bagaimana? Apa kita mulai saja pembelajarannya sekarang?" tanya Irene.


"Hari ini aku tidak ingin belajar, Alenta. Ada yang ingin aku bahas denganmu."


"Apa, Pak?"


"Ada perwakilan dari perusahaan Iran yang akan datang ke perusahaan, Alenta. Di sini juga ada beberapa dokumen yang harus diterjemahkan. Apa kamu bersedia untuk membantuku lagi?" tanya Alan.


"Maksudnya, saya sebagai penerjemah online saja kan, Pak? Saya tidak perlu ikut bertemu dengan mereka?" tanya Irene memastikan.


"Tentu saja dua-duanya, Alenta. Kamu perlu menerjemahkan dokumen dan juga ikut datang mendampingiku untuk bertemu dengan mereka."


Irene terdiam sesaat. Mengingat pekerjaan yang perlu dilakukan cukup banyak, ia akan banyak mengorbankan waktu. Tapi, mengingat akan bayaran yang Alan tawarkan, tentu saja dia tidak bisa mengabaikannya.


"Baik, Pak. Aku akan melakukannya," ucap Irene.


"Jadi, kamu bersedia, kan?" tanya Alan memastikan.


"Iya, Pak."


"Oke, sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih atas kesediaannya. Aku akan segera mengirimkan dokumen yang perlu kamu pelajari dan terjemahkan."


Irene kembali menutup laptop setelah percakapannya dengan Alan berakhir. Ia meregangkan badan yang terasa kaku akibat belum sempat istirahat. Rasanya lega setelah tanggung jawabnya berakhir. Ia bisa bersantai sebentar di atas ranjang.


"Hm ... Minum ah!"


Irene memaksakan tubuh malasnya agar bangun. Ia kehausan dan ingin minum. Segera ia keluar dari kamar menuju ke arah lift dan turun ke lantai dasar.


Saat hendak mengambil minum di dalam kulkas, Irene melihat kehadiran Arvy yang tampak muram dan lesu berjalan menuju ke arah lift. Sepertinya dia memang sedang banyak pikiran.

__ADS_1


"Putus cinta sungguhan dia?" tanya Irene pada diri sendiri. Ia mengambil sebotol minuman dingin lalu menenggaknya sedikit. Sisanya ia bawa kembali ke dalam kamarnya.


Irene masih terpikir dengan wajah Arvy yang dilihatnya. Pandangan matanya tertuju pada secarik kertas yang ia temukan di dekat piano lantai dua. Ia kembali meraih benda itu dan memperhatikannya.


Irene yakin lagu tersebut Arvy yang membuatnya. Padahal, menurutnya nada awal lagu tersebut sudah cukup enak didengar. Ia juga mencoba menyanyikan lirik yang Arvy buat sesuai nada.


"Apa orang itu stres gara-gara lagu? Ron juga sempat memintaku menciptakan satu lagu untuk Arvy," gumam Irene.


Pada akhirnya, ia tidak bisa mengabaikan kertas karangan lagu tersebut. Ia mencoba mengoreksi notasi yang dipakai serta beberapa lirik yang telah dibuat sebelumnya. Meskipun Arvy tak memintanya secara langsung, ia berusaha menciptakan sebuah lagu yang bagus.


***


"Kak Alex, terima kasih sudah mengantarku, ya!" ucap Irene.


Alex hanya tersenyum. "Di kampus tidak ada masalah, kan?" tanyanya.


"Tidak ada, Kak. Semuanya baik-baik saja."


Sesuai yang Alex harapkan, seorang Irene pasti dapat mengatasi kesulitannya sendiri. Tanpa sadar ia memberikan tepukan lembut di kepala Irene.


Irene berbalik. Ia tersenyum saat melihat keberadaan Winda, Jeha, dan Bian di depan ruang perkuliahan. Dari kejauhan ia melihat ketiganya tampak sinis kepadanya. Ia tahu alasannya pasti karena orang yang mengantar dia beda orang dan tampan. Winda dan Jeha memang selalu bilang iri saat ia bersama para tuan muda keluarga Narendra.


***


Irene mendongakkan kepala memandangi gedung yang berada di hadapannya. Kini, ia berada di depan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang entertainment. Perusahaan tersebut terkenal sebagai penghasil artis-artis berkualitas yang merajai dunia pertelivisian negeri ini.


Kalau bukan karena Winda, mungkin Irene tidak akan ada di sana saat ini. Ia diminta menemani Jeha yang ingin mengikuti audisi di sana. Winda memiliki urusan mendadak yang membuatnya tidak bisa menepati janji untuk menemani Jeha.


Irene agak kaget saja wanita seperti Jeha berniat ikut audisi. Jeha berasal dari keluarga kaya. Tanpa menjadi seorang artis, Irene yakin kehidupan temannya itu juga akan baik-baik saja.


"Kamu yakin mau ikut audisi?" tanya Irene.


"Kamu meragukan bakat menyanyiku, ya?" Jeha begitu percaya diri untuk mengikuti audisi di tempat tersebut. Apalagi kesempatan untuk bertemu dengan para idola lebih besar kalau dia datang ke sana. Itu yang jadi tujuan utama dari pada hasil audisinya.

__ADS_1


Irene mengabaikan keraguannya. Ia tetap ikut Jeha masuk ke dalam. Perusahaan tersebut juga merupakan perusahaan yang mengorbitkan Arvy Galaksi. Ia jadi penasaran seperti apa kriteria artis yang diinginkan perusahaan.


"Irene?"


Irene menoleh ke arah suara. Ia tidak menyangka Arvy akan menyapanya. Jeha sudah berteriak histeris lebih dulu saat melihat Arvy berjalan mendekat ke arah mereka. Irene sampai harus menutup mulut Jeha agar tidak ribut.


"Kamu kok ada di sini?" tanya Arvy.


"Aku mengantar temanku. Dia akan ikut audisi di sini," jawab Irene.


"Oh, aku kira kamu yang mau ikut audisi." Arvy tampak menahan tawanya. Ia sedang membayangkan seperti apa suara Irene saat audisi.


"Kenapa, Kak? Mau meledekku?" Irene sangat paham dengan isi otak Arvy. Sejak awal mereka juga sudah sering bertengkar.


"Tidak, tidak ... Aku tidak bilang apa-apa," kilah Arvy.


"Ini perusahaan naungan manajemen Kakak, kan?" tanya Irene memastikan.


"Benar. Aku juga dulu ikut audisi di sini sebelum berhasil debut sebagai model dan bintang iklan. Mau coba?" Arvy kembali berusaha meledek Irene.


Padahal Irene sudah kasihan setiap kali melihat wajah murung Arvy saat pulang ke rumah. Bertemu langsung dengan lelaki itu ternyata cukup membuat kesal. Apalagi wajah iblisnya selalu nampak jika mereka berselisih.


Sementara, Jeha terpana saat melihat Arvy dari jarak yang sangat dekat. Rasanya ia ingin pingsan menatap ketampanan seorang artis yang hanya pernah ia lihat dari layar kaca. Kali ini ia bisa bertemu dengan orangnya secara langsung.


Irene jadi malu sendiri melihat kelakuan temannya yang sudah seperti orang gila saat bertemu Arvy. Jeha sejak tadi tersenyum terus seperti orang bodoh.


"Kak, temanku ini salah satu penggemarmu. Boleh nggak kalau dia foto bareng Kakak?" tanya Irene berinisiatif. Ia yakin jika apa yang Jeha inginkan juga pasti seperti itu.


"Oh, boleh. Ayo!" Arvy dengan senang hati mengajak teman Irene untuk berfoto.


Buru-buru Jeha memberikan ponselnya kepada Irene agar mengambil foto dirinya dan Arvy. Dengan antusias ia berdiri di samping Arvy dalam jarak yang sangat dekat. Ia meminta Irene mengambil banyak foto dalam beberapa gaya.


"Irene, aku tidak bisa lama-lama. Setelah ini ada syuting soalnya. Sukses untuk audisi temanmu," ucap Arvy.

__ADS_1


"Terima kasih, Arvy!" sahut Jeha dengan semangat.


__ADS_2