Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 116: Menahan Diri


__ADS_3

"Hah! Kenapa jadi terasa panas begini ...."


Irene mengipasi tubuhnya dengan tangan. Padahal, pakaiannya cukup terbuka dan suhu AC kamar telah ia turunkan. Namun, tubuhnya terasa terbakar. Niatnya beristirahat di sana justru ia semakin merasa tak nyaman.


"Apa karena body painting yang aku pakai?" gumamnya.


Demi menunjang penampilannya memakai dress pendek dengan tali spagetti di bahu, Irene rela membalurkan cat hampir di seluruh tubuhnya. Tidak biasanya ia merasa terganggu dengan penyamaran yang dipakainnya.


"Hah! Apa aku telanjang saja, ya! Kenapa jadi panas begini!"


Irene mengguling-gulingkan badannya di atas ranjang tak karuan. Kepalanya masih terasa pusing dan kini tubuhnya ikut merasa kepanasan.


"Kak ... Cepat datang!" gumamnya memanggil Alan yang tak kunjung datang memasuki kamar.


Merasa semakin kepanasan, Irene memutuskan untuk keluar kamarnya. Ia yakin jika menghirup udara segar di luar, kondisinya akan membaik. Apalagi di kapal pesiar tersebut terdapat taman buatan yang cukup nyaman untuk bersantai.


Dug!


Sesaat setelah membuka pintu, Irene menabrak seseorang. "Ah, Kak Alan," ucapnya sembari memegangi kepalanya yang pening.


Alan tak merespon sapaan Irene. Lelaki itu justru kembali mendorong tubuh Irene ke dalam kamar, lalu menguncinya.


Irene merasa ada yang berbeda dari lelaki itu. Wajah Alan tampak memerah dan tatapan matanya seolah ingin menerkam dirinya.


Alan menarik tangan Irene, membawa wanita itu berbaring di atas ranjang.


Irene masih tak mengerti dengan apa yang Alan lalukan. Ia hanya merasa Alan seperti ingin menyentuh dirinya. Sementara, dia sendiri terbawa suasana dan tidak mengelak sama sekali saat Alan begitu intimidatif terhadapnya.


Alan menggelengkan kepalanya. Ia sadar wanita yang ada di bawahnya saat ini adalah Irene. Ia berusaha menjaga kesadarannya agar tidak melakukan perbuatan yang melewati batas.


Alan sadar dirinya dalam pengaruh minuman. Ia curiga seseorang telah mencampurkan sesuatu ke dalam minumannya. Meskipun ia minum alkohol, tidak pernah ia sampai semabuk hari ini. Rasanya begitu sulit untuk mengendalikan dirinya, apalagi melihat Irene yang kini ada di hadapannya.


Cup!


Secara tiba-tiba, Irene menarik tengkuk leher Alan dan mencium lelaki itu. Alan membelalakkan mata dengan tingkah tidak biasa yang Irene perlihatkan.

__ADS_1


Wanita itu menciumnya dengan lembut. Mau tidak mau, Alan ikut terbawa suasana dan membalas ciuman yang diterimanya. Keduanya saling berpelukan sembari berciuman.


Malam itu, mereka merasa saling menghangatkan. Bahkan ciuman yang dilakukan mampu membuat keduanya nyaman.


Alan segera menghentikan ciumannya sebelum mereka melakukan hal yang lebih jauh. Ia rasa bukan hanya dirinya yang sedang gila, tetapi Irene juga. Seseorang pasti telah memberikan Irene obat seperti dirinya.


"Kak Alan ...."


Wajah Irene begitu merona dan membuat Alan semakin terpesona. Seolah wanita itu tengah diselimuti gairah dan tidak ingin mengakhiri kemesraan mereka.


Alan sekuat tenaga mengabaikan dorongan jahat yang hampir memenuhi isi kepalanya. Ia tidak ingin merusak wanita yang disayanginya.


Alan mengangkat tubuh Irene yang telah lemas. Ia sendiri memaksakan kekuatan untuk membawa wanita itu ke dalam kamar mandi.


Irene diletakkan di dalam bathube berisi air dingin. Ia merasa kaget Alan melakuka hal itu kepadanya.


"Ah!" reflek Irene menutup wajah saat Alan kengguyurkan air shower ke kepalanya.


"Kak! Hentikan! Dingin!" seru Irene. Lambat laun kesadarannya juga mulai kembali. Ia merasa ada yang aneh dengan dirinya sendiri.


Irene cukup khawatir dengan penyamarannya yang bisa saja terbongkar. Alan terus menyemprotkan air padanya. "Kak! Cukup! Please!"


Pakaian yang Irene kenakan mencetak jelas lekuk tubuhnya. Bahkan, Alan, mampu melihat belahan dada yang mencuat dari balik pakaian tersebut. Rasanya ia semakin gila dan ingin melampiaskan hasratnya.


"Sadar kamu, Alan! Dia masih sangat muda dan masih sekolah," pikirnya dalam hati.


Semakin lama ia di sana, semakin sulit ia menahan dirinya. Alan bergegas keluar dari kamar mandi meninggalkan Irene di dalam sana.


"Hah! Hah! Aku pasti sudah gila!"


Susah payah Alan keluar dari kamar mandi demi menenangkan diri. Sayangnya, hal itu tidak membuatnya membaik. Hasratnya telah memuncak akibat pengaruh obat yang tanpa sengaja diterimanya.


Alan bisa saja mengikuti pikiran jahat yang ada di kepalanya. Ia akan senang menghabiskan malam panjang dengan wanita yang kian hari kian mencuri hatinya. Namun, sedikit pikiran warasnya masih jalan. Ia tidak ingin menorehkan trauma untuk Irene dan bisa saja hubungannya rusak karena kelakuannya.


Alan menoleh ke arah meja. Ia lihat sebilah pisau di keranjang buah yang tersedia di sana. Tanpa pikir panjang, ia mendekat ke arah meja dan mengambil pisau tersebut.

__ADS_1


Alan bergelut di antara dua pikiran sulit. Ia harus memilih untuk melampiaskan hasratnya atau menghilangkan pengaruh obat itu.


"Aku tidak akan menyerah kepada orang yang sudah merencanakan hal ini!" ucapnya.


"Ahhhh!"


Alan berteriak kecil menahan sakit saat ia menghunuskan pisau tersebut ke betis kanannya sendiri. Ia menggigit bibir bawahnya sendiri.


Hunusan pisau itu cukup dalam. Darah segar segera mengalir membasahi permukaan pisau mengkilat itu.


"Ah!" Alan kembali memekik saat mencabut pisau dari tubuhnya.


Ia sengaja melukai dirinya sendiri agar tubuhnya fokus kepada rasa sakit daripada hasrat berbahayanya.


Alan duduk bersandar ke tembok dengan tubuh yang lemas. Ia pandangi darah yang mengalir mengotori kakinya hasratnya kian lama kian surut. Ia bersyukur tidak terjerumus dengan pikiran jahatnya.


Satu jam berlalu, pengaruh obat itu menghilang. Alan hanya bisa merasakan sakit di kakinya. Ia masih mengingat meninggalkan Irene di dalam kamar mandi.


Dengan langkah tertatih, ia memaksakan diri berjalan menuju kamar mandi. "Irene, maafkan aku!"


Alan menghampiri Irene yang entah tertidur atau pingsan di dalam bak mandi. Segera ia angkat tubuh lemas wanita itu dan membawanya kembali masuk de dalam kamar.


Ia kembali menghela napas saat melihat tubuh Irene terbaring di atas ranjang yang menggoda.


"Dia bisa sakit kalau pakaiannya basah. Tapi, kalau aku yang menggantikan bajunya, mungkin aku akan .... Ah!"


Alan berhenti memikirkan hal buruk. Ia keluar kamar mencari pelayan.


"Mba, bisa bantu gantikan pakaian wanita yang ada di dalam kamar itu?" tanya Alan kepada seorang pelayan wanita yang kebetulan lewat di depannya.


"Ah, baik, Pak."


"Apa aku boleh memakai kamar sebelah?" tanya Alan.


"Maaf, Pak. Sepertinya kamar sebelah telah dipakai Nona Sovia. Anda bisa memakai kamar yang di sebelah sini kalau mau," kata pelayan itu sembari menunjukkan kamar yang dimaksud.

__ADS_1


"Terima kasih," kata Alan.


Pelayan tersebut masuk ke dalam kamar Irene, sementara Alan masuk ke dalam kamar yang tepat berada di depan kamar Irene.


__ADS_2