
Pesawat yang membawa Irene dan Alan akhirnya mendarat dengan selamat di bandara. Keduanya saling memegang tangan dan berpandangan. Senyum bahagia terkembang di bibir mereka.
"Kita turun sekarang?" tanya Alan.
Mereka sengaja menunggu semua penumpang telah turun terlebih dahulu.
"Ayo," jawab Irene.
Keduanya keluar dari pesawat dengan posisi masih berpegangan tangan. Alan membantu membawakan barang-barang milik Irene. Mereka berjalan keluar pintu pesawat melewati garbarata yang langsung terhubung ke dalam kawasan bandara.
Di bagian pintu keluar, mereka masih mengantri untuk mengambil koper yang baru turun dari bagasi pesawat. Setelah mendapatkannya, mereka kembali berjalan menuju ke pintu kedatangan.
Di sana ada ketiga adik Alan tengah menunggu dengan membawa selembar tulisan yang menurut mereka cukup memalukan.
"Welcome calon pengantin: Alan dan Irene"
Ketiganya tampak meledek kedatangan mereka.
"Selamat datang," sambut Alfa, Arvy, dan Ares kompak.
"Dasar kekanak-kanakkan!" ujar Alan kesal seraya menggulung kertas yang mereka bawa.
"Irene, akhirnya kamu pulang. Syukurlah kamu baik-baik saja," kata Alfa. Ia memeluk Irene dengan hangat.
"Ren, kamu dari luar negeri jadi cantik begini pasti semua orang kira kamu operasi plastik," ujar Arvy. Ia juga turut menyambut Irene dengan memeluknya.
"Biar saja dikira operasi supaya klinik kecantikan semakin laku!" ujar Irene.
"Ren, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Ares. Ia tersenyum senang melihat kehadiran Irene.
"Iya, Res. Aku baik-baik saja," ucap Irene seraya memeluk Ares.
Lelaki itu masih merasa berat untuk melupakan Irene yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya.
"Mari kita sambut calon kakak ipar kita ... Berpelukan ...." Arvy dan Alfa turut ikut memeluk Irene dengan erat.
"Apa-apaan sih! Kalian kekanak-kanakkan! Cepat hentikan!" perintah Alan. Ia merasa cemburu melihat adik-adiknya memeluk Irene.
Ia menarik Irene agar menjauh dari mereka.
"Ayo, Kak. Kita pulang sekarang. Mobilnya ada di depan," ajak Alfa.
Mereka membantu membawakan barang Irene dan Alan. Mereka berlima berjalan beriringan menuju mobil.
__ADS_1
Ares duduk di depan samping sopir. Di bagian tengah ada Irene dan Alan. Sementara, di paling belakang ada Alfa dan Arvy. Mereka terlihat seperti saudara yang sangat kompak.
"Bagaimana dengan orang yang waktu itu datang ke rumah, Ren?" tanya Ares membuka pembicaraan. Ia sangat penasaran dengan lelaki yang datang bersama Irene waktu itu ke rumahnya.
"Ah, itu. Dia kakak sepupuku," jawab Irene.
"Katanya dia mau menikahimu?" sahut Arvy. Dia sempat sekilas mendengar dari percakapan Alan dengan anak buahnya tanpa sengaja.
Irene menoleh ka arah Alan seolah memberi isyarat ia tak ingin membahasnya lagi.
Alan menggenggam tangan Irene. "Masalah di sana sudah selesai. Intinya, Irene akan menjadi istriku nanti," kata Alan untuk menutup pembahasan tentang hal itu.
"Kak, bagaimana caramu nanti mengenalkan Irene? Orang-orang pasti akan mengira kamu ganti pasangan lagi," ujar Arvy.
Alan sampai tidak kepikiran tentang hal itu. Ia memang sudah terlanjur mengenalkan Irene dengan penampilan yang jelek waktu itu.
"Bilang saja operasi plastik, masalah selesai, kan?" celetuk Ares.
"Nah, benar juga! Ini operasi plastik full body. Dari Irene gosong jadi Irene Putri Salju," kata Alfa.
"Tapi, dengan wajah ini orang-orang taunya kamu Hyena, bukan Irene," kata Arvy.
"Apa, kamu Hyena?" tanya Alan kaget. Ia menatap ke arah Irene dengan penuh rasa ingin tahu.
"Nah, kan ... Kakak kita ketinggalan jaman," kata Arvy sembari terkekeh.
Irene tersenyum ke arah Alan.
"Kamu tidak pernah bilang kalau kamu adalah Hyena?" tanya Alan dengan nada agak kesal. Ia juga merasa kalah dengan saudara-saudaranya yang lain yang lebih dulu tahu.
"Aku sebenarnya sudah mau jujur tapi Kak Alan tidak datang," kilah Irene.
Alan menghela napas panjang. "Identitas siapa lagi yang kamu pakai, Ren? Kenapa semuanya jadi kamu?" gumamnya.
"Dia juga ternyata Lily, Kak! Dia pernah bekerja di butik ternama di Eropa," sambung Alfa.
Alan sampai lupa kalau dirinya juga sempat tahu bahwa Hyena adalah Irene dari anak buahnya. Mungkin saking banyaknya hal yang harus dipikirkan. Irene juga seorang pembalap dan anak jenius yang telah mendapatkan dua gelar sarjana di usia muda.
"Asal kalian tahu kalau pembalap AI juga sebenarnya dia," kata Alan.
"Apa?" ketiga adik Alan terkejut bersama.
Irene membulatkan mata tak menyangka jika Alan akan tahu sejauh itu tentang dirinya.
__ADS_1
"Dia juga ahli peretasan data, namanya Cookie," sambung Alan.
"Kak Alan!" panggil Irene. Ia merasa tidak nyaman karena lelaki itu menyebutkan semua identitas yang selama ini disembunyikannya.
"Wah, Irene kita memang bukan kaleng-kaleng. Yang penting kamu tidak ada dendam kepada kami, kan?" tanya Arvy. Dari kelima tuan muda, memang Arvy yang paling kasar menghina Irene saat awal-awal Irene datang.
Irene menoleh ke arah belakang dan melirik tajam pada Arvy. "Aku pulang salah satunya untuk balas dendam pada kalian, memang!" ujarnya. "Yang pertama akan aku balas adalah kamu, Kak!" kata Irene.
"Hahaha ... Balas saja, Ren! Kalau bisa buat supaya Arvy kapok!" kata Alfa.
"Lupakan masa lalu, Ren. Kita hidup di masa sekarang dan masa yang akan datang. Tidak ada gunanya balas dendam," rayu Arvy. Ia sendiri telah merasa bersalah atas perbuatannya dulu.
"Memang tidak ada gunanya, tapi aku suka membuat Kak Arvy menderita," kata Irene meledek.
"Ayolah, nanti aku kenalkan ke manajemenku, mereka pasti mau mengorbitkanmu jadi artis terkenal sepertiku," rayu Arvy lagi.
"Aku tidak mau terkenal," ucap Irene.
"Kenapa? Kamu takut Kak Alan cemburu, ya?" tanya Arvy.
Alan ikut-ikutan menoleh ke belakang menatap adiknya yang paling mengesalkan. "Kenapa namaku dibawa-bawa?" protesnya.
Arvy melebarkan senyum. "Kak Alan kan memang gampang cemburu. Apalagi Irene yang sekarang cantiknya seperti bidadari dari kayangan. Kalau jadi artis, Irene pasti bakalan banyak yang suka," ujarnya.
Alan berdecih lalu kembali duduk menghadap ke depan.
"Kak Alan tidak tahu seperti apa antusiasnya para penggemar Hyena," kata Arvy.
"Aduh, jangan dibahas lagi. Aku melakukannya hanya untuk menyenangkan Adila," kata Irene.
"Ngomong-ngomong soal Adila, luangkan waktu untuk mengunjunginya, Ren. Dia selalu menanyakanmu, aku pusing," kata Alan.
"Kenapa harus aku? Kamu kan pacarnya?" Irene menjawab dengan malas.
"Tapi, kamu kan pawangnya," kilah Arvy.
"Pawang, pawang ... Pawang apaan? Pawang buaya?"
🩷🩷🩷
Mau maksa kalian mampir ke karyaku yang sudah tamat. Judulnya "PURA-PURA MISKIN".
__ADS_1
Bercerita tentang Ruby, seorang anak orang kaya yang merasa bosan dengan kehidupannya. Ia ingin mencoba hidup mandiri tanpa mengandalkan kekayaan orang tua. Lika-liku perjalanan hidupnya mempertemukan Ruby dengan lelaki menyebalkan bernama Melvin. Dari benci akhirnya jadi cinta.
Yang belum baca wajib baca, ya!