Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 168


__ADS_3

Timothy sedikit terkejut mendengar permintaan Irene. Namun, ia telah mendapat perintah dari Hamish bahwa apapun yang Irene minta harus diusahakan untuk dipenuhi.


"Oh, tentu saja, Nona. Ini perusahaan Anda. Jika memang Anda membutuhkan uangnya, akan saya ambilkan untuk Anda," jawab Timothy dengan ramah.


Padahal Irene hanya iseng meminta, ternyata kemauannya bisa dipenuhi oleh Tim. Ia sudah jauh-jauh datang ke sana, tidak juara, setidaknya ia bisa membawa uangnya kembali untuk membantu panti asuhan.


"Bagaimana kalau saya panggilkan direktur keuangan langsung, Nona? Anda bisa berbicara sendiri dengannya," kata Timothy menawarkan bantuan jika Irene tidak bisa mempercayainya.


"Ah, tidak usah, cukup kamu saja yang mengurusnya. Aku percaya kepada kalian," kata Irene.


"Baik, Nona. Akan segera saya kirimkan ke nomor rekening Anda," kata Timothy.


Irene menutup mulutnya. Ia tidak ingin ketahuan kalau sebenarnya ia tengah kegirangan karena bisa mendapatkan uang dengan mudah dari perusahaan yang tiba-tiba saja diketahui sebagai miliknya.


"Kak Hamish memang yang paling terbaik," gumamnya lirih.


"Ah, iya. Lalu, sebenarnya Kak Hamish dimana?" tanyanya.


Timothy tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan itu. "Tuan Hamish ada urusan di luar negeri, Nona," jawabnya.

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Tapi, tepatnya dimana?" desaknya.


"Maaf, Nona. Saya tidak bisa mengatakannya."


Seperti yang Irene duga, tidak akan mudah untuk mengetahui keberadaan sepupunya itu. Ia berharap Hamish tidak terlibat dalam sesuatu yang berbahaya.


***


Irene terbangun dari tempat tidurnya sembari meregangkan badannya. Ia merasa tidurnya sangat pulas semalam setibanya kembali dari luar negeri. Rasa lelah selama perjalanan terbayar dengan tidur nyenyaknya.


Seperti biasa, Irene melakukan rutinitas paginya dengan mandi lalu membalurkan cat penyamarannya lalu turun ke bawah untuk makan.


Ternyata Irene bangun kesiangan dan tak sempat sarapan. Menunggu menu makan siang selesai dikerjakan koki akan memakan waktu yang lama. Ia merasa tidak sabar dan akhirnya memilih untuk memasak kie instan sendiri di dapur dalam.


Lelaki itu masih berjalan dengan sedikit terpincang akibat kecelakaan yang terjadi saat balapan beberapa hari yang lalu.


"Kamu pasti baru bangun," tebak Alan. Ia berjalan menghampiri Irene dan duduk di kursi ruang makan.


Irene hanya tersenyum lebar mendengar tebakan Alan.

__ADS_1


"Pasti kamu sangat kelelahan melakukan perjalanan jauh dari desa, ya ...."


Alan memang tahu Irene kembali ke desanya.


"Kak Alan masih pincang begitu kenapa tidak istirahat? Kok malah memaksakan diri datang ke kantor?" tanya Irene.


"Ada rapat pemegang saham dadakan. Mau tidak mau aku harus datang," jawab Alan.


Irene membawa semangkuk mie buatannya. Ia ingin memakannya sendiri, namun sepertinya Alan juga mau mie buatannya. "Kak Alan mau?" tanya Irene.


"Boleh," jawab Alan.


Terpaksa Irene menyodorkan mangkok mie buatannya untuk Alan. "Kalau begitu, aku mau membuat lagi," kata Irene.


"Tidak usah, kita makan berdua saja. Kalau masih kurang, baru kamu buat yang baru," pinta Alan.


Irene menurut. Ia duduk di samping Alan. Mereka menyendok mie sendiri-sendiri dari mangkuk yang sama.


"Bagaimana acaranya, Kak? Apa menyenangkan?" tanya Irene.

__ADS_1


"Yah, kalau dibilang menyenangkan juga tidak. Kamu kan tahu sendiri aku pulang pincang begini," ucap Alan. "Tapi, memang menyenangkan juga bisa berpartisipasi di sana meskipun tidak juara."


Irene menghela napas. Ia kembali teringat momen menyebalkan kemarin. Ia gagal mempertahankan gelar juara karena ada yang berusaha menyabotase mobil Alan.


__ADS_2