Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 143


__ADS_3

Alan menyalakan laptopnya. Ia mengaktifkan aplikasi percakapan yang biasa digunakan untuk berhubungan dengan Alenta. Wanita itu tampaknya belum online sehingga Alan mengisi waktunya dengan menghisap sebatang rokok.


Ting!


Sebuah pesan masuk mengabarkan bahwa Alenta telah online. Buru-buru Alan mematikan rokok yang baru saja dihisapnya.


"Halo, Pak Alan. Selamat malam."


Tampak video Alenta muncul di layar monitor Alan. Wanita itu terlihat mengenakan make up menor seperti yang biasa dipakai saat bertemu dengannya.


"Selamat malam, Alenta," Alan menyapa balik.


"Sudah siap untuk praktik percakapan hari ini, kan?" tanya Alenta.


Alan mengangguk. Jadwal hari ini memang Alenta meminta ia untuk berbicara secara penuh dengan Bahasa Persia.


"Chi khabar, Alan?" (apa kabar, Alan?)


"Man Khoba mamnun," (baik).


"Tu chi kar mikoni?" (kamu lagi apa?)


"Man dosted daram," jawab Alan sembari menahan tawa.


Alenta memberikan lirikan tajam. "Pak Alan, kita sedang belajar Bahasa Persia, bukan belajar menggombal," gerutunya.


"Tu Ghaza kordi?" tanya Alan sambil tertawa. Ia merasa sedang ingin membuat tutor bahasanya kesal.


"Kenapa tanya aku sudah makan atau belum? Mau mentraktirku?" tanya Alenta.


"Kalau kamu mau, ayo kita ketemu. Tapi, aku rasa kamu pasti orang yang sangat sibuk.


Alenta terdiam. Menyerah ia kalau harus memakai identitas lainnya hanya untuk bertemu dengan Alan. Urusannya memang sedang banyak akhir-akhir ini, apalagi untuk tugas kampus.


"Baiklah, kita lanjutkan saja praktik kita hari ini. Awas kalau tidak serius!" ancam Alenta.


Keduanya kembali bercakap-cakap menggunakan Bahasa Persia yang sudah dipelajari. Alan sangat memperhatikan cara Alenta berbicara dan gestur tubunya. Ia merasa Alenta memang sangat mirip dengan Irene.


"Apa mungkin ada orang yang sangat mirip cara bicaranya di dunia ini?" gumam Alan.


"Apa ada masalah, Pak Alan?" tanya Alenta yang merasa Alan telah mengatakan sesuatu.


"Ah, tidak ada," kilah Alan.

__ADS_1


"Baiklah, aku rasa pembelajaran kita cukup sampai di sini dulu. Untuk latihan selanjutnya minggu depan," kata Alenta.


"Oke, terima kasih, Alenta."


"Sama-sama, Pak Alan. Selamat Malam."


Alan mematikan aplikasinya. Ia masih terpikir untuk membandingkan antara Alenta dan Irene. Mereka benar-benar memiliki gaya bicara yang sama dan juga hobi makan.


"Mungkinkah mereka saudara kembar?" gumamnya.


Alan memukul kepalanya sendiri. Ia merasa bodoh telah berpikiran seperti itu. Mungkin karena ia terlalu kelelahan di kantor.


***


"Irene, cepat berangkat!" seru Arvy. Sejak tadi ia menunggu Irene untuk turun sembari memandangi jam tangannya.


Irene celingukan karena bingung. "Kak Alan nggak kerja?" tanyanya melihat Alan masih mengenakan kaos dan tampak belum mandi.


"Hari ini aku libur. Kamu berangkat dengan Arvy dulu, ya!"


"Ah, oke,"


Irene sedikit merasa heran denhgan Alan. Seharusnya ia berangkat dengan Alan karena Arvy pernah bilang tidak bisa mengantar jemputnya lagi. Namun, hari ini Arvy tiba-tiba bisa mengantarnya.


"Hah? Kecewa kenapa?" Irene tidak paham dengan maksud pertanyaan Arvy.


"Karena bukan Kak Alan yang mengantarmu ke kampus," tebak Arvy.


"Hah? Biasa saja. Aku tidak masalah siapa yang mengantar."


"Kamu suka Kak Alan, ya?"


Irene mengerutkan dahi. "Hah, memang apa hubungannya?"


"Akui saja deh, dari tatapan kamu ke Kak Alan sudah berbeda. Kalian juga sering bersama. Aku rasa hubungan kalian bukan hubungan yang biasa-biasa saja," kata Arvy.


"Apaan sih! Menurutku aku biasa saja, semuanya sama bukan hanya pada Kak Alan." Irene tetap menyangkal.


Arvy tertawa kecil. "Kalau kamu benar-benar suka Kak Alan, buruan bilang deh. Kalau kelamaan nanti menyesal. Soalnya Kak Alan banyak penggemarnya."


"Dari pada bicara yang tidak-tidak, mending fokus pada kemudi, Kak. Takutnya mobil ini nabrak karena Kak Arvy kebanyakan bicara," protes Irene.


Arvy kembali tertawa. Ia tak menanyakan hal itu lagi kepada Irene. Ia fokus mengemudikan mobil sampai akhirnya tiba di depan kampus Jessy.

__ADS_1


"Makasih ya, Kak. Sudah mengantarku. Nanti bisa jemput nggak?" tanya Irene setelah turun dari mobil Arvy.


"Nanti kamu ikut pulang bareng Ares, ya. Aku ada acara," kata Arvy.


"Ya, ya, ya .... Seperti biasa. Cepat pergi sana!" Irene mengusir Arvy.


Arvy segera memutar balik mobilnya setelah mengantar Irene. Ia akan langsung pergi ke tempat syuting sesuai yang dijadwkan manajernya.


Drrtt .... Drrtt ....


Ponselnya berbunyi. Satu panggilan masuk dari Marco ke nomornya.


"Hah! Orang ini tidak sabaran sekali," gerutu Arvy seraya mengangkat telepon dari Marco.


"Arvy, kami dimana? Masih ingat jadwal syuting mulai jam berapa, kan?"


Baru saja Arvy mengangkat telepon sang manajer sudah marah-marah. "Sebentar, Kak. Aku masih di jalan," jawabnya.


"Aku kira kamu baru bangun tidur. Awas kalau sampai telat!"


"Aku baru antar Irene ke kampus, ini on the way ke sana, tenang saja."


Bruk!


Tiba-tiba mobil Arvy menabrak sesuatu. Arvy terkejut. Sepertinya ia baru saja menabrak orang tanpa sengaja.


"Halo, Arvy? Halo ...."


"Kak ... Aku menabrak orang," kata Arvy dengan badan gemetar.


"Hah! Jangan main-main kamu, Arvy! Kamu tidak sedang mengerjaiku, kan?"


"Tidak, Kak. Aku benar-benar telah menabrak seseorang," kata Arvy lagi.


Ia berbegas turun dari mobilnya meninggalkan telepon yang masih menyala. Beberapa orang yang mengetahui kejadian itu mendekat. Arvy terkejut melihat ternyata orang yang ditabraknya adalah Bian, teman baik Irene.


"Ini mau bagaimana? Mau dibawa ke rumah sakit atau bagaimana?" tanya salah seorang saksi mata.


"Pak, tolong angkat dia dan masukkan ke dalam mobil. Biar saya membawanya ke rumah sakit," kata Arvy yang berusaha tenang.


Tiga orang tersebut bergotong royong mengangkat tubuh Bian yang sudah tergolek lemas ke dalam mobil Arvy. Salah seorang di antara mereka turut ikut mendampingi karena takut Arvy akan kabur setelah menabrak orang.


Arvy melihat sambungan teleponnya masih menyala. "Halo, Kak, aku akan ke rumah sakit terlebih dahulu," pamit Arvy.

__ADS_1


"Ya, cepat kamu bawa ke rumah sakit! Aku akan kesana menyusulmu!"


__ADS_2