Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 268: Taman Hiburan dengan Alan


__ADS_3

"Irene!"


Irene berbalik mencari sumber suara yang memanggil namanya. Ternyata dia adalah Hansen teman dari fakultas lain yang dulu pernah ikut lomba bersamanya. Ia melambaika tangan membalas panggilan Hansen.


Wajah Hansen terlihat sedikit keheranan. Lelaki itu berlari kecil menghampiri Irene. Ia memandangi Irene dari atas hingga bawah dengan perasaan keheranan.


"Irene?" tanyanya memastikan.


Irene tersenyum. Ia mengangguk. "Sudah lama ya, kita sudah tidak bertemu padahal masih satu kampus," ucapnya.


Hansen terlihat gugup dan canggung. Irene yang sekarang sangat berbeda dari yang sebelumnya. Wanita itu kini terlihat sangat cantik meskipun dulu menurutnya Irene juga memiliki daya tarik.


"Aku sibuk magang di perusahaan untuk kepentingan pembuatan tugas akhir. Makanya aku jarang ke kampus sekarang," kata Hansen.


Irene dan Hansen menjadi dekat sejak acara lomba waktu itu. Mereka cukup sering bertemu saat di kampus setelah saling kenal. Hanya akhir-akhir ini saja mereka jarang bertemu.


"Kamu mau kemana?" tanya Irene.


"Aku memang sengaja mencarimu, Ren. Aku ingin bertemu denganmu," jawabnya.


Irene mengerutkan dahi.


"Kabar kalau penampilanmu berubah sudah sampai ke fakutasku. Banyak yang membahas tentang kamu. Katanya serang kamu jadi cantik. Ternyata memang benar," kata Hansen dengan malu-malu.


Irene jadi tersenyum kikuk. "Orang-orang memang terlalu berlebihan. Padahal aku biasa saja," ucapnya.


Irene sudah berusaha tampil sesederhana mungkin saat ke kampus. Meskipun tidak menyamar sebagai Irene dekil, ia masih mengenakan pakaian yang biasanya dikenakan ke kampus. Ia juga memulaskan makeup tipis-tipis dan penampilannya tidak berlebihan.


"Tapi, kamu memang cantik, Ren," puji Hansen.


"Sayang!"


Saat mereka sedang bicara, ada suara panggilan dari arah lain. Irene menoleh, ternyata Alan sudah ada di sana. Wajah Alan terlihat kesal memergoki Irene tengah bersama lelaki lain.


"Em, Hansen, aku buru-buru mau pulang. Maaf, ya," pamit Irene.


"Ah, iya." Hansen tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan Irene pergi dari hadapannya.

__ADS_1


"Kak, kita pulang sekarang!" ajak Irene.


Ia segera menarik tangan Alan menjauhkan lelaki itu dari Hansen. Ia khawatir jika Alan masih ada di sana akan terjadi keributan. Tatapan mata Alan sangat jelas menunjukkan ketidaksukaannya.


"Dia mahasiswa yang waktu itu ikut kompetisi bareng kamu, kan?" tanya Alan.


Irene tidak menyangka jika Hamish masih mengingat hal itu. Ia mengeratkan pelukannya di lengan Alan seraya bermanja. Tujuannya agar Alan melembut hatinya dan batal marah-marah.


"Iya, Kak. Namanya Hansen. Oh, iya, setelah ini kita mau kemana?" tanya Irene berusaha mengalihkan perhatian.


"Bagaimana kalau ke taman hiburan?" usul Alan.


"Boleh. Asal sama Kakak, kemana juga tidak masalah," ujar Irene.


Alan terlihat senang. Pipinya jadi memerah apalagi digandeng mesra oleh Irene.


Dari kampus mereka langsung menuju taman hiburan yang membutuhkan waktu tempuh sekitar satu jam.


Irene jadi ingat terakhir kali ia pergi ke tempat itu bersama Arvy yang membuatnya kesusahan karena fans Arvy sangat banyak. Hari ini, ia bisa datang ke sana dengan lelaki yang ia yakini sebagau jodohnya.


Irene terus menggandeng lengan Alan dengan mesra. Seakan ia tak ingin momen seindah ini akan berlalu begitu saja. Sudah banyak kejadian tidak menyenangkan yang mereka lalui sampai akhirnya bisa saling menyadari perasaan masing-masing.


Alan memicingkan sebelah alisnya. "Kamu yakin? Kita baru sampai di sini masa langsung naik yang ini? Kalau kapok kamu tidak akan bisa menikmati permainan lainnya. Kita coba permainan-permainan yang santai saja," ujar Alan.


"Jangan-jangan Kak Alan sendiri yang takut naik itu, ya?" ledek Irene. Ia lantas berlari menuju atrian agar bisa naik wahana itu.


Alan menghela napas. Tak ada yang bisa ia lakukan selain membuntuti Irene.


Setelah wahana berhenti, penumpang yang sebelumnya naik satu persatu turun. Banyak yang terlihat lemas setelah turun. Namun, hal itu tidak menyurutkan Irene untuk tetap naik. Bahkan Irene memilih tempat paling belakang yang biasanya menyeramkan.


"Kamu serius mau di sini?" tanya Alan.


Irene hanya membalas dengan anggukkan. Alan lantas duduk di sebelah Irene.


"Kenapa kamu keras kepala? Kalau turun nanti muntah-muntah awas, ya!" ucap Alan seraya mencubit pipi Irene.


"Itu tidak akan terjadi," kata Irene dengan percaya diri.

__ADS_1


Setelah seluruh penumpang naik dan sabuk pengaman terpasang, operator mulai menggerakkan wahana tersebut.


Awal-awal gerakannya yang pelan membuat penumpang bersorak kegirangan. Mereka seperti tengah naik di atas ayunan. Lambat laun gerakan kora-kora semakin kencang. Ayunanya hampir mencapai 180 derajat. Penumpang yang berada di paling ujung sudah merasakan hampir terbang.


Alan menoleh ke arah Irene. Bukannya ketakutan, wanita itu malah tertawa kegirangan. Sementara penumpang lain banyak yang menangis ketakutan dan berteriak minta turun.


Alan menepuk dahinya sendiri. Ia lupa kalau itu Irene yang kelakuannya selalu sulit untuk ditebak.


Turun dari wahana kora-kora, Irene masih terlihat segar bugar. Wanita itu meminta menaiki wahana lain yang tak kalah ekstrem. Mulai dari roller coaster, tornado, rajawali, histeria, sampai kicir-kicir dicoba semua. Alan seperti seorang ayah yang tengah mendampingi anaknya bermain.


"Mau ke mana sekarang? Sepertinya tidak ada yang seru lagi," gumam Irene sembari melihat ke sekeliling. Sejak tadi ia hanya asyik sendiri, bahkan Alan seperti tidak ada. Mungkin Irene menganggap Alan seperti bodyguard.


"Kita naik kincir raksasa saja!" ajak Alan.


Kebetulan antrian di sana tak begitu panjang. Mereka langsung bisa masuk ke salah satu keranjang yang akan digerakkan memutar 360 derajat.


Alan berpindah duduk ke sebelah Irene saat kincir mulai berputar.


"Kenapa pindah, Kak?" tanya Irene heran.


"Supaya bisa menciummu," jawab Alan. Tanpa basa-basi, ia mencium bibir Irene saat itu juga.


Sejak tadi ia sama sekali tak mendapatkan momen romantis dan membuatnya sedikit kesal.


"Kamu lupa kalau ada aku?" tanya Alan.


Irene mengedip-ngedipkan matanya. "Kok bisa lupa? Aku tidak lupa," kilahnya.


"Sejak tadi kamu asyik main sendiri. Aku sudah seperti ayahmu," protes Alan.


"Benarkah? Aku seperti itu?" Irene tidak menyadari perbuatannya sendiri.


Alan merengkuh pinggang Irene dan membiarkan wanita itu bersandar padanya. Dari tempat mereka berada, tampak pemandangn indah laut yang bisa disaksikan dari atas sana.


"Apa hari ini kamu senang?" tanya Alan.


"Ya, aku sangat senang sekali. Terima kasih sudah mengajakku ke sini," kata Irene seraya memeluk Alan.

__ADS_1


Sudah lama rasanya ia tak menikmati hidup seperti ini. Irene bisa bebas bermain tanpa mengkhawatirkan apapun. Sejak dulu ia dilatih untuk bersikap dewasa bahkan sebelum ia benar-benar dewasa. Bisa dikatakan apa yang Irene lakukan terkadang hanya untuk memuaskan masa remaja dan kanak-kanak yang terlewatkan.


__ADS_2