Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 204: Luka Irene


__ADS_3

"Apa pasien sudah bangun?"


Dokter Rita telah kembali ke dalam ruang kerjanya.


Alan beralih dari bilik ruangan Irene menghampiri sang dokter.


"Irene dimana?" tanya Dokter Rita.


"Irene sudah saya bawa ke mobil. Dia sudah siuman dan meminta pulang. Maaf, tidak menunggu dokter dulu tadi. Saya kembali untuk mengambil kunci mobil yang tertinggal," kata Alan seraya menunjukkan kunci mobilnya.


"Oh, ya, tidak apa-apa kalau memang dia sudah merasa baikan," kata Dokter Rita.


"Boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Hamish.


Dokter Rita mengembangkan senyuman. "Mau tanya apa?"


"Di atas ranjang Irene tadi ada noda darah apa? Dia kenapa?" tanya Alan khawatir.


"Oh, itu. Memang lengan Irene ada bekas luka yang terbuka makanya mengeluarkan darah. Mungkin karena dibawa lari. Tapi, tadi sudah saya obati dan ganti perbannya. Suruh dia untuk tidak terlalu aktif melakukan kegiatan sementara waktu. Yang ditakutkan nanti lukanya akan terus terbuka lagi," ucap Dokter Rita.


Alan tentu saja terkejut mendengarnya. Ia tidak tahu jika Irene terluka. "Ya sudah, Dok. Terima kasih. Saya pamit dulu," katanya.


Alan kembali menghampiri Irene di tempat parkir. Ia mengajak Irene masuk ke dalam mobilnya.


Sepanjang jalan menuju rumah, Alan sesekali mencuri pandang ke arah Irene. Ia sangat ingin menanyakan kondisi luka di tangan Irene. Apalagi bekas darahnya juga masih membekas di baju Irene.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, ia memapah Irene secara hati-hati, membantunya naik lift sampai masuk ke dalam kamar.


"Beristirahatlah dulu, aku mau ke bawah sebentar," kata Alan.


Ia keluar dari kamar Irene dan turun ke lantai bawah.


"Bibi, dimana kotak obatnya?" tanya Alan kepada salah satu pelayan yang sedang bersih-bersih di sana.


"Siapa yang sakit, Tuan? Kotak obatnya ada di sana," kata si pelayan sembari menunjuk ke arah lemari.


Alan mengambil kotak obat dari sana dan membawanya kembali naik ke atas menuju kamar Irene.


"Kak Alan bawa Apa?" tanya Irene heran.


"Biarkan aku melihat lukamu," kata Alan seraya menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Irene.


"Aku tahu lenganmu terluka." Alan memasang wajah datar yang serius.


Irene menutup mulutnya. Ia terkejut jika Alan tahu tentang luka di lengannya. Ia menundukkan kepala.


"Aku sudah melihatnya di klinik tadi. Noda darahnya juga masih ada di bajumu itu," kata Alan.


Irene menoleh ke arah lengannya sendiri. Benar saja, ada noda darah yang masih tertinggal di sana. Ia tak bisa mengelak lagi.


"Kemarikan lenganmu! Aku mau melihat lukannya," pinta Alan.

__ADS_1


Irene menjauhkan tubuhnya dari Alan. Ia memegangi lengannya sendiri. "Tidak usah, Kak. Ini hanya luka kecil, kok. Biar aku yang menanganinya sendiri," tolak Irene.


"Irene ...." Wajah Alan memperlihatkan ekspresi kesal karena wanita itu tak mau menurut kepadanya.


"Tidak usah, Kak! Aku sungguh baik-baik saja." Irene tetap berkelit. Ia tidak ingin Alan tahu tentang bekas luka tembak di lengannya itu.


Alan semakin curiga jika telah terjadi sesuatu dengan Irene. Namun, ia tak mau memaksanya untuk berkata jujur.


Alan memeluk Irene dengan lembut. Irene tak bisa menghindar.


"Apa aku tidak bisa menjadi orang yang cukup bisa kamu percaya?" tanya Alan.


Irene merasa bersalah. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin ia ungkapkan kepada lelaki itu. Ia hanya tidak sanggup membayangkan jika sampai Alan murka akibat kejujurannya nanti. Kehidupan yang dijalaninya selama ini sangatlah sulit dan tidak mudah.


Alan melepaskan pelukannya. Ia menatap Irene dengan tatapan sungguh-sungguh. "Irene, aku tidak ingin menjadi orang terakhir yang mengetahui tentang masalahmu. Aku ingin kamu bisa selalu bercerita ketika ada masalah," ucapnya.


Irene menundukkan kepala. "Maafkan aku," katanya.


Alan mengusap kepala Irene. "Lain kali, berjanjilah ... Kamu tidak akan menyembunyikan apapun dariku lagi. Aku sangat mencemaskanmu, Irene," ucap Alan.


"Sebenarnya aku ...."


Belum sempat Irene menyelesaikan perkataannya, Alan sudah terlebih dahulu memagut bibirnya. Ia kembali kehilangan momen untuk berbicara sejujurnya.


"Aku harap kita akan selalu bisa berbagi suka dan duka," kata Alan sembari menyisipkan anak rambut ke belakang telinga Irene.

__ADS_1


Irene hanya mengangguk.


__ADS_2