
"Irene, kamu mau kemana?" tegur Jeha saat melihat Irene mengemasi barang-barang lalu ingin pergi begitu saja dari kelas saat perkuliahan usai.
Langkah kaki Irene terhenti mendengar seruan Jeha. Ia berbalik memandangi Jeha, Winda, dan Bian yang menatapnya heran. Ia hanya mengulas senyum. "Aku ada urusan sebentar. Maaf, tidak bisa makan bareng kalian," ucapnya.
Irene kembali melanjutkan langkah. Ketiga temannya sangat penasaran, Irene terlihat misterius dan menyembunyikan sesuatu. Padahal mereka sudah sepakat ingin makan bersama di kantin usai perkuliahan.
Irene tidak bisa mengatakan kepada teman-temannya kemana ia akan pergi. Saat perkuliahan berlangsung, ia mendapat pesan dari Ares. Lelaki itu ingin bertemu dengannya di kampus.
Seperti biasa, mereka akan bertemu secara diam-diam. Sudah menjadi kesepakatan sejak awal jika keduanya tidak ingin terlihat dekat di kampus. Jangankan untuk dikenal dekat dengan Irene, dikenal sebagai adik Alan atau bagian keluarga Narendra saja Ares tidak mau. Ia masih ingin menikmati kehidupannya sebagai dirinya sendiri.
Di kampus, sudah mulai banyak yang mengenal Irene. Semua berkat kompetisi yang pernah dimenangkannya. Irene yang awalnya dicap sebagai wanita kampungan, kini mulai banyak yang menyukainya.
Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya juga ada yang menyapanya. Tentu saja Irene akan membalas dengan senyuman yang tulus.
Irene terus berjalan menuju lantai teratas gedung. Jalan menuju rooftop tampak sepi. Ia menapaki satu per satu anak tangga hingga mencapai pintu. Hembusan angin langsung menyapa saat pintu terbuka.
Irene berjalan mencari Ares di sana. Lelaki itu tampak sedang duduk santai di pojokan sembari menikmati lagu melalui earphone yang terpasang di telinga.
Irene berdiri tepat di hadapannya, menggeleng-geleng dengan kelakuan Ares yang selalu dadakan memintanya datang.
"Akhirnya kamu datang juga," ucap Ares seraya melepaskan earphone di telinga. "Duduk sini!" pintanya sembari menepuk tempat di sampingnya.
Irene duduk di samping Ares. Lelaki itu menyodorkan sekotak makanan yang langsung membuat air liur Irene bergejolak. "Weh, ada tokpokki," serunya dengan mata berbinar-binar.
Tanpa mengatakan apapun, Irene langsung mengambil pemberian Ares dan mulai memakannya. Rasa kesal yang ada seakan hilang saat lidahnya mulai menggoyang makanan di dalam mulutnya. Ia tersenyum-senyum sendiri ke arah Ares.
Ares tersenyum miring melihat kelakuan Irene. "Lihat makanan langsung beda sikap, ya!" sindirnya.
"Siapa sih, manusia di bumi ini yang tidak menyukai makanan," ucap Irene. Ia begitu menikmati makanan pemberian Ares.
__ADS_1
"Kamu ngapain sampai lama datang ke sini?" tanta Ares.
"Kuliah, lah! Ngapain lagi? Kamu pikir aku tidak ada kerjaan sampai bisa langsung datang kapapun kamu panggil?"
"Oh, kuliah ... Aku kira kamu sedang sibuk dengan teman-teman barumu," ucap Ares. Ia seperti merasa tidak senang Irene memiliki banyak teman baru. Biasanya, mereka masih bisa sering bertemu. Namun, sejak Ares masuk perusahaan dan Irene memiliki kesibukan padat dengan kompetisi, keduanya semakin jarang bisa bertemu. Apalagi sekarang ada teman Irene yang bernama Jeha dan Winda ikut bergabung di kampus mereka.
"Kalau kamu tidak memanggilku ke sini, mungkin aku juga akan pergi ke kantin dengan mereka. Lagian kamu sendiri yang aneh, tidak mau bertemu denganku di tempat umum," gerutu Irene.
"Kamu mau orang-orang tahu kalau kita tinggal satu rumah? Enak saja!" jawab Ares dengan ketus.
Irene hanya berdecih.
"Apa kata orang kalau tahu aku tinggal dengan makhluk jelek sepertimu," ledek Ares.
"Ya ya ya ... Terserah kamu saja. Kenapa sekarang kamu mengundang orang jelek ini datang, ya?" Irene membalas celetukan Ares tak mau kalah. Ia sudah biasa mendengar perkataan buruk dari mulut Ares yang kejam.
"Aku sedang punya banyak makanan. Daripada dibuang, mending disumbangkan untuk orang yang sangat suka makan apalagi makanan gratis. Iya, kan?"
Ares tertawa kecil. Ia terhibur melihat respon kesal Irene karena kelakuannya. Sudah lama ia tidak bisa membuat masalah dengan Irene.
"Tiba-tiba aku jadi kangen untuk membuat masalah lagi denganmu," ucap Ares. Ia mengingat kembali momen-momen kenakalan yang pernah dilakukan berdua.
"Kamu mau mengajakku meretas sistem keamanan kantor lagi?" tanya Irene dengan tatapan heran.
"Ah, kalau itu aku tidak berani. Nanti Kakek bisa menggantungku hidup-hidup."
Ares kembali teringat kekacauan di kantor yang pernah mereka buat. Untung saja saat itu yang mengurusi kantor masih Alex dan paman-pamannya. Bahkan, akibat kejadian itu, sang kakek langsung mengusir kedua pamannya dari perusahaan. Alan yang awalnya tak ada minat meneruskan bisnis keluarga, dipaksa ikut masuk perusahaan.
"Akhir pekan ini ada balapan liar di sekitaran daerah XXX. Apa kamu berminat untuk ikut?" tanya Ares.
__ADS_1
Irene tertegun sejenak dengan perkataan Ares. "Kamu sedang mengajakku jadi anak nakal, ya? Kalau Kakek tahu, aku bisa ikut terkena masalah," ucapnya. Ia ingat alasannya terpaksa menerima rencana perjodohan dengan keluarga Narendra karena sering ikut balapan liar.
Ares terkekeh. "Ya jangan sampai ada yang tahu, cukup kita berdua saja," katanya enteng.
Irene berpikir sejenak. Mau menolak juga ia cukup senang melakukan hal yang menyenangkan seperti balapan. Ia menoleh ke arah Ares. "Kalau ada apa-apa, kamu harus membelaku, ya!" pinta Irene.
"Itu masalah kecil. Aku jamin akan aman kalau kita pergi bersama."
Irene sepakat dengan rencana Ares. Ia menghabiskan makanannya sembari membahas hal-hal random bersama Ares. Hingga tanpa terasa waktu telah satu jam berlalu. Irene harus bersiap dengan perkuliahan selanjutnya.
"Aku mau turun duluan. Jam kuliah berikutnya segera dimulai," ucapnya.
"Oke. Jangan lupa akhir pekan."
Irene mengacungkan jempolnya. Ia segera turun dari rooftop agar tidak ketinggalan dengan jadwal kuliah selanjutnya.
"Irene!" saat berjalan menuju arah kelas, langkahnya terhenti oleh panggilan dari seseorang. Ia menoleh ke asal suara.
Siapa sangka jika yang memanggilnya adalah kakak tingkatnya yang bernama Dewa, ketua BEM Fakultasnya. Ia heran kenapa sampai seorang ketua BEM datang menemuinya, hal yang sangat tidak lazim.
"Ada apa, Kak?" tanyanya dengan sopan.
"Ikut aku sebentar!" Dewa menarik tangan Irene, membawanya ke tempat yang sepi.
Irene tidak merasa punya salah atau urusan sampai harus berhadapan dengan Dewa. Lelaki itu terus menatapnya dalam jarak dekat, membuat Irene semakin merasa tidak nyaman.
"Aku punya salah apa ya, Kak?"
"Aku menyukaimu!" lelaki itu langsung menimpali pertanyaan Irene. Tentu saja Irene sangat kaget dengan apa yang lelaki itu ucapkan.
__ADS_1
"Apa?"
"Aku menyukaimu," kata Dewa sekali lagi.