Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 185


__ADS_3

Irene menatap dirinya di cermin sebelum keluar dari kamarnya. Ia terkejut saat melihat Ares pagi itu sudah berdiri bersandar pada dinding sembari melipat tangannya.


"Kamu mau apa, Res?" tanya Irene sembari mengelus dada karena tadi terkejut.


"Sudah tahu hasil tes di sekolah, kan?" ucap Ares sembari tersenyum senang. Ia menunjukkan hasil pengumuman di ponselnya dan ia mendapatkan peringkat ketiga.


"Oh, kamu berhasil?" ucap Irene dengan nada datar.


"Bukan itu yang mau aku katakan. Tapi, apa kamu ingat dengan janjimu waktu itu?" tanya Ares.


Irene hampir saja melupakannya. "Ah, iya. Nanti malam ayo kita main bareng. Aku mau mencari kakek dan nenek dulu," ucap Irene.


Ia berlari menghampiri kakek dan neneknya yang tengah bersantai di halaman samping rumah sembari memandangi ikan-ikan di kolam.


"Kakek, Nenek," sapa Irene seraya mencium pipi mereka seperti seorang cucu yang manja.


"Lihat cucu kita, Kek. Penampilannya setiap hari seperti ini. Apa dia tidak bosan, bukannya seharuanya berdandan yang cantik supaya Alan lebih tertarik," sindir nenek.


Irene hanya bisa melebarkan senyum. "Takutnya Kak Alan syok, Nek. Aku kan terlalu cantik untuk ukuran manusia di bumi," candanya.


Kakek dan nenek sontak tertawa.


"Biarkan saja Irene begini kalau memang dia menyukainya." Kakek terlihat tak terlalu memperdulikan penampilan Irene.


"Ngomong-ngomong, Alan ada dimana? Kenapa dia belum kelihatan sejak tadi?" tanya nenek penasaran.


"Kak Alan kalau libur pagi-pagi pergi jogging, Nek. Mungkin dia belum pulang," jawab Irene.


"Aku dengar kamu masih sering bertemu Hamish."

__ADS_1


Perkataan sang kakek membuat suasana yang awalnya riang berubah menjadi sedikit serius.


"Kakek sudah mengingatkanmu untuk menjauhinya," ucap kakek.


"Kakek ...." nenek berusaha memberi kode agar kakek tak melanjutkan pembahasan mereka.


"Meskipun kita masih satu keluarga, pemikirannya tidak bisa ditebak. Jangan sampai kamu ikut terlibat bahaya karena dekat dengan Hamish.


Irene terdiam. Hamish di matanya tak seburuk yang kakeknya katakan. Bagaimanapun juga, ia menyayangi Hamish sebagai kakaknya sendiri.


"Kamu juga tidak perlu memberitahu Hamish tentang pernikahanmu ini. Kami takut dia akan mengamuk dan menghancurkan remcana pesta pernikahan kalian," ucap kakek.


"Oh, iya, Nek. Waktu aku di Swiss, aku bertemu dengan Tante Myria," kata Irene untuk mengalihkan topik pembicaraan.


Irene mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan momen foto-fotonya bersama sang bibi. Kakek dan nenek terlihat cukup sumringah mengetahui kondisi putri bungsu mereka dalam kondisi yang baik-baik saja. Bahkan nenek sampai menitihkan air mata saking terbarunya.


***


Irene membuka game di akun utamanya, Xunqi. Ia mengundang aku Ares dan teman satu timnya untuk bermain bersama.


A_Rest: Ini serius Xunqi?"


Chun.Zoe: Wah, benarkan ini akun Xunqi yang asli?


Abigail: Serius?


Tim: Eh, ternyata kalian diundang juga oleh Xunqi. Aku kira hanya sendiri.


Abigail: Tapi kok kayaknya Irene tidak diundang, ya? Kenapa?"

__ADS_1


Chun.Zoe: Mungkin karena levelnya masih rendah. Irene kan baru level telor ceplok.


Tim: Hahaha .... Anjir, telor ceplok nggak, tuh?


Ares dan teman-temannya merasa heran telah diundang Xunqi untuk bermain bersama. Mereka langsung meramaikan area chat yang tersedia sebelum pertandingan dimulai.


Xunqi: Hai semua, terima kasih telah menerima undanganku. Apa kalian siap untuk bermain?


Tim: Eh, Xunqi bisa bahasa kita?"


Abigail: Xunqi, aku tidak akan menjadi beban dalam permainan ini!


Chun.Zoe: Aduh, aku jadi grogi mau main dengan panutan.


Abigail: Kalian jangan malu-maluin, ya! Kita akan main bareng.


Xunqi: Hahaha ... Untuk apa kalian grogi, kita kan bukan kali pertama ini main game.


Chun.Zoe: Lah, memangnya kita pernah main bareng Xunqi, ya? Kapan deh, kok aku lupa.


Tim: Tau tuh! Mungkin Xunqi cuma bercanda.


Xunqi: Hahaha ... Kalian memang sangat lucu. Aku kan Irene. Aku pakai akun lama ....


Ares terkejut melihat tulisan Xunqi di bagian percakapan grup. Xunqi mengaku bahwa ia adalah Irene. Segera ia melompat turun dari ranjangnya dan belari ke arah kamar Irene.


"Buka, Ren!" ucap Ares seraya berseru dan menggedor pintu Irene.


Irene membuka pintu kamarnya. Ia mengembangkan semyuman lebar sembari menunjukkan ponselnya. Benar saja, akun yang Irene pakai merupakan akun milik Xunqi.

__ADS_1


"Kamu senang kan, tahu kalau tinggal serumah dengan si jenius Xunqi," ledek Irene.


Ares langsung menarik tangan Irene dan membawanya ke ruang tengah lantai atas.


__ADS_2