Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 271:


__ADS_3

Hamish merasakan kepalanya berdenyut-denyut, perlahan-lahan ia membuka matanya. Cahaya remang-remang mulai memasuki pandangannya yang kabur. Ia merasakan pusing yang hebat dan jantungnya berdegup kencang. Pemandangan di sekelilingnya terasa asing, dinding putih dan bau antiseptik yang kuat. Ia mulai menyadari bahwa ia berada di kamar perawatan.


Saat ia mencoba menggerakkan tangannya, ia merasakan sakit yang luar biasa di bagian tubuhnya yang lain. Perlahan-lahan ia mengingat insiden tembak menembak yang terjadi beberapa waktu yang lalu dan menyebabkannya terjebak dalam koma.


Ketika ia mencoba untuk duduk, ia merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhnya. Ia menatap bawah dan melihat selang infus yang masih tertancap di tangan kirinya. Dengan cepat ia meraih selang itu dan berusaha mencabutnya secara kasar.


Tiga orang perawat yang sedang mengecek monitor jantungnya terkejut dan berteriak meminta bantuan. Mereka menghentikan usaha Hamish melepaskan selang infusnya.


"Tuan, apa yang Anda lakukan. Anda belum sepenuhnya pulih, tolong tenangkan diri Anda," kata salah seorang perawat. Sementara seorang perawat yang lain berlari ke luar untuk memanggil bantuan.


Ketika Hamish berusaha untuk bangkit, ia merasa lemah dan tubuhnya gemetar. Ia mencoba untuk mengingat apa yang terjadi setelah kecelakaan itu, dan tiba-tiba teringat tentang Irene. Ia memanggil Irene dengan suara keras dan berteriak histeris ketika tidak melihatnya di sana.


"IRENE! IRENE! DI MANA KAMU?!" pekiknya dengan keras.


Kedua perawat berusaha menenangkan Hamish, tetapi ia semakin berapi-api dan kembali mencabut selang infus yang menempel di tangannya sampai terlepas. "Aku harus pergi, aku harus menemukannya!" serunya sambil berusaha bangkit dari tempat tidurnya.


"Lepaskan aku! Kalian dasar sialan! Jangan menghentikan aku!" umpat Hamish kepada kedua perawat yang terus menghalanginya.


Perawat dan dokter baru saja tiba di ruangan segera berlari mendekat dan berusaha untuk menenangkan Hamish yang masih marah-marah dan bingung.


"Kenapa ini?" tanya Alberto.


Kehadiran Alberto di sana langsung mendapatkan perhatian dari Hamish. Ia memaksakan diri mendekati lelaki itu dan mencengkeram kerah lehernya. "Katakan, dimana Irene?" tanyanya dengan tatapan nyalang.


"Hamish, tenanglah. Irene tidak ada di sini. Kamu sedang berada di rumah sakit," jawab Alberto dengan tenang.


"Tidak, tidak mungkin!" seru Hamish sambil mencengkeram kerah baju Alberto. "Kamu menyembunyikannya dariku! Katakan padaku di mana dia berada!"

__ADS_1


Alberto memandang Hamish dengan tatapan tajam, mencoba menenangkan temannya yang sedang kacau. "Hamish, kamu harus beristirahat dulu. Nanti aku akan menjelaskan semuanya."


Namun, Hamish tidak terima dengan penjelasan Alberto dan semakin marah. "Aku tidak akan beristirahat sebelum aku menemukan Irene!" bentaknya.


"Tenangkan dirimu, Hamish. Kamu baru saja sembuh dari koma," ujar Alberto dengan nada tenang. Ia berusaha untuk tidak terpancing dengan emosi Hamish.


"Kamu pasti yang menyembunyikan Irene, kan? Kembalikan dia padaku! Dia istriku!" bentak Hamish dengan nada tinggi.


"Hentikan sifatmu yang keras kepala seperti ini. Irene berhak memilih keputusannya sendiri. Kamu jangan memaksanya," kata Alberto.


"Jangan ikut campur urusanku! Irene itu milikku! Akan aku bunuh kamu!" ancam Hamish.


Ia berusaha mencekik leher Alberto. Beberapa perawat yang ada di sana langsung sigap menarik Hamish menjauh dari Alberto.


Hamish terus meronta dan mengumpat kepada Alberto. Dokter akhirnya memberikan suntikan obat penenang untuk menenangkan Hamish.


"Kalian semua sialan! Aku tidak mau ada di sini! Irene ... Irene ...."


Perawat memapahnya kembali ke atas ranjang dan memasang kembali peralatan medis yang sempat terlepas paksa.


"Dokter, kenapa dia seperti itu?" tanya Alberto.


"Itu efek terkejut. Dia masih belum siap sadar dan kembali mengingat kejadian sebelum koma. Itu bukan hal yang berbahaya," jawab dokter.


Alberto bernapas lega. Ia bersyukur Hamish masih bisa bangun dari komanya.


"Aku dengar tadi ada suara ribut-ribut?" tanya Myria yang baru saja tiba di sana.

__ADS_1


Ia terkejut melihat ada banyak perawat di ruangan keponakannya. Dokter dan Alberto juga terlihat tengah berbicara secara serius.


"Oh, Myria. Kamu sudah datang," sapa Alberto.


Myria menghampiri Alberto. Ia memberikan pelukan. "Ayah, kenapa dengan Hamish?" tanyanya.


"Hamish tadi sudah bangun dari koma. Tapi, dia mengamuk. Dokter sudah memberikan suntikan obat penenang," jawab Alberto.


Myria menatap Hamish dengan perasaan kasihan. Kehidupan sepupunya itu sangat berat. Mulai dari kehilangan orang tua sampai harus berjuang sendirian demi mempertahankan kehormatan keluarga. Ia tetap salut dengan usaha yang Hamish lakukan meskipun cara yang ditempuh salah.


"Apa dia tidak menanyakan tentang Irene?" tanya Myria.


"Justru karena itu dia tadi mengamuk. Dia ingin Irene ada di sini," kata Alberto.


Myria jadi bingung. "Bagaimana kalau nanti dia bangun lagi? Dia pasti akan kembali mencari Irene."


Alberto menghel napas. "Emtahlah, dia memang anak yang keras kepala. Sebisa mungkin kita tetap menahannya di sini agar tidak mengganggu Irene."


"Tentang urusan Zayn, apa Ayah sudah mengurusnya?" tanya Myria.


Alberto mengangguk. "Aku sudah menemui keluarga angkatnya. Mereka sudah mengakui jika memang telah mengadopsi Elios, Zayn kita. Aku juga sudah bertemu langsung dengan orangnya. Sekarang dia ada di tempat orang tuamu," terangnya.


Myria kembali memeluk Alberto. "Terima kasih ya, Ayah," katanya.


Alberto hanya tersenyum melihat tingkah anak yang ia besarkan sejak bayi itu. "Kamu tidak berpikir untuk meninggalkan ayahmu ini, kan?" tanyanya memastikan.


"Hahaha ... Selama ini Ayah yang lebih sering meninggalkanku di sini. Lagi pula, dimana saja kita tetap bisa bersama, Yah," ucap Myria.

__ADS_1


"Maaf, Tuan, Nona, saya pamit. Kondisi pasien sudah kembali stabil. Apabila ia tersadar dan kembali mengamuk, langsung saja hubungi kami," kata dokter yang baru selesai mengecek peralatan medis Hamish bersama beberapa perawat.


"Ah, iya, Dokter. Terima kasih," kata Alberto.


__ADS_2