Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 133


__ADS_3

"Bagaimana dengan ujiannya?" tanya Irene.


Ares tampak mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia kurang puas dengan ujian kali ini dan rasanya ingin mengulangnya.


"Aku paling tidak bisa kalau disuruh memberikan jawaban untuk jenis soal terbuka. Lebih baik dosen memberikanku soal yang jawabannya sudah pasti karena semalaman aku sudah menghafal semu buku-buku perkuliahan sampai kepalaku rasanya mau meledak!" keluh Ares.


"Sebenarnya itu sama saja. Seharusnya kamu tuliskan teori yang sudah dipelajari jika dihadapkan pada persoalan yang diminta. Ibaratnya kita diajak untuk memberikan solusi di dunia nyata berdasarkan teori di perkuliahan," kata Irene.


Ares menghela napas. Tetap saja ia tidak puas dengan jawabannya sendiri.


"Sudahlah, kamu juga telah berusaha. Jangan pesimis begitu," hibur Irene.


"Cie .... Kayaknya ada yang sedang merasa kesusahan," sahut Jeha.


Ares terlihat malas melihat kehadiran Jeha di dekat Irene.


"Menurutku soal-soal kali ini cenderung mudah. Jawabannya sudah ada di buku semua. Kalau membaca seharusnya bisa lah ya ... Masa berharap jadi ranking 5 besar baru bertemu soal model begini sudah dibilang sukar," ejek Jeha.


"Aku pergi duluan! Malas ada dia!" kesal Ares seraya pergi meninggalkan mereka.


Jeha masih mengejek dengan menjulurkan lidahnya sampai Ares mau pergi.


"Kamu jangan begitu sama Ares, kasihan," kata Irene.


"Biarin. Dia juga seenaknya padamu. Jangan terlalu baik dan membelanya."


"Hei! Ayo pulang!" seru Winda yang mengintip dari arah pintu. Ia baru saja selesai perkuliahan di kelas lain.

__ADS_1


Irene dan Jeha mengemasi barang dan menghampiri Winda.


"Ada yang mau datang ke fan meeting Arvy Galaksi, nggak?" tanya Winda sembari mengemut lolipopnya.


"Susah dapat tiketnya. Aku saja yang satu manajemen dengannya tidak bisa dapat. Malah dipersulit untuk mendapatkan tiketnya. Heran aku dengan orang manajemen," keluh Jeha.


Karir keartisan Jeha memang bermula dari manajemen yang sama dengan Arvy. Namun, level kepopuleran mereka jauh berbeda. Arvy sangat terkenal dan tidak sembarangan orang di perusahaan bisa menemuinya. Apalagi artis kecil seperti dirinya.


"Kok bisa susah? Kayaknya di luar tadi banyak yang menawarkan tiket fan meeting Arvy. Yah, walaupun harganya lebih mahal sedikit," kata Winda.


"Dimana? Dimana? Aku juga mau satu!" seru Jeha semangat.


"Ada di dekat gerbang. Kita lihat saja bareng," ajak Winda.


Irene merasa ada yang aneh. Namun, ia tetap mengikuti kemana Jeha dan Winda pergi.


"Ye .... Akhirnya kita dapat!" seru Jeha kehirangan.


"Nanti kita pergi bareng-bareng, ya! Pakai baju warna oren biar sama kayak warna kesukaan Arvy," kata Winda.


"Setuju!" kata Winda.


"Sebentar, sebentar ...." Irene mencegah Jeha dan Winda yang hendak membayar tiket yang baru saja mereka dapatkan.


Irene merebut tiket yang ada di tangan Jeha lalu mengamatinya dengan baik. Harga tiket yang ditawarkan lebih mahal 50% dari harga seharusnya.


"Apa kalian punya izin resmi untuk menjual tiket ini?" tanya Irene kepada kedua lelaki yang menawarkan tiket itu kepada temannya.

__ADS_1


Kedua lelaki itu saling bertatapan. "Kalau tidak berniat membeli, pergi saja! Banyak yang menginginkan tiket ini!" ketus salah seorang dari mereka. Lelaki itu merebut tiket dari tangan Irene.


"Aduh, jangan diambil, itu tiketku ...." rengek Jeha.


"Bilang pada temanmu, kalau tidak punya uang, jangan ikut-ikutan di sini. Aku tidak ada waktu mengurusi tawar menawar dengan orang iseng!" omel di penjual tiket.


"Aku kan hanya bertanya. Kalau memang kalian penjual tiket legal dan punya izin, untuk apa takut aku tanya-tanya? Setahuku harga tiket fan meeting pasti disamaratakan sesuai kebijakan dari promotor," kata Irene.


"Itu kalau kalian mau beli langsung rebutan di website memang harganya normal. Tapi, kemungkinan untuk mendapatkan tiketnya juga kecil. Kami punya akses khusus agar para penggemar Arvy bisa mudah bertemu idolanya. Wajar kalau harganya berbeda sebagai imbalan jasa," kilah si penjual.


"Sepertinya tiket yang kalian jual juga agak berbeda dengan versi resmi. Aku curiga kalian mau menipu pembeli," kata Irene.


"Wah, ini keterlaluan. Kamu berusaha untuk menjelekkan kami di depan pembeli?" si penjual tiket kelihatan marah.


"Irene, sudah! Jangan membuat masalah!" bisik Winda. Ia takut para penjual tiket itu akan mencelakai Irene.


"Aku akan menelepon polisi. Kalau benar kalian menipu, kalian harus dipenjara!" ucap Irene.


Jeha dan Winda semakin takut dengan kelakuan Irene. Apalagi tiga penjual tiket lainnya ikut mendekat ke arah mereka.


"Sebaiknya kita pergi dari sini deh," kata Winda. Ia menarik tangan Irene agar pergi dari sana. Jeha ikut membuntuti di belakang meninggalkan para penjual tiket.


Jeha terlihat sedih karena tidak jadi mendapatkan tiket untuk bertemu Arvy. Ia menoleh ke belakang, semakin banyak mahasiswa yangmengerumini penjual tiket. Ia yakin dalam waktu singkat pasti akan habis karena Arvy memang sedang menjadi primadona saat ini.


"Kamu kenapa menuduh mereka menipu? Mereka kan calo, wajar kalau harga yang ditawarkan sedikit lebih mahal?" tanya Winda.


"Iya, Ren. Aku jadi gagal dapat tiketnya," keluh Jeha.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Tapi, aku yakin nanti kalian akan berterima kasih padaku untuk hari ini," ucap Irene.


__ADS_2