Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 296


__ADS_3

"Halo, Ma?"


Irene mengangkat sebuah panggilan yang masuk ke ponselnya. Indira, sang mama mertua menghubungi dirinya.


"Irene, mama dengar kamu sudah pulang ya, dengan Alan?"


Irene merasa tidak enak hati karena belum sempat menghubungi mama mertuanya. "Ah, iya, Ma. Maaf belum bisa datang ke sana," ucap Irene.


"Tidak apa-apa, yang penting nanti malam datang ke rumah, ya! Ada acara makan malam keluarga. Jangan lupa beri tahu Alan juga."


"Em, iya, Ma. Nanti aku sampaikan kepada Kak Alan. Dia masih di kamar mandi," kata Irene.


"Ya sudah, mama hanya mau menyampaikan itu saja. Sampai jumpa nanti malam."


"Iya, Ma."


Irene mematikan sambungan telepon setelah obrolan mereka berakhir.


"Sayang, telepon dari siapa?" tanya Alan yang baru keluar dari kamar mandi. Ia baru saja menyelesaikan ritual mandi sorenya.


"Ah, tadi Mama telepon, Kak," jawab Irene.


Alan mengernyitkan dahi. "Mama bilang apa?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Mama meminta kita datang ke rumah malam ini. Katanya ada acara makan malam."


Raut wajah Alan berubah muram. "Kenapa kamu tidak menolaknya?" ia menunjukkan ekspresi rasa tidak suka.


Giliran Irene yang terheran-heran. "Memangnya kenapa?"


"Kamu lupa, Alex sekarang tinggal di sana. Aku tidak mau bertemu dengannya!" tegas Alan seraya berjalan menuju ke arah lemari untuk mencari baju santai yang akan dikenakannya.


Irene sampai lupa kalau tadi siang suaminya memang mempermasalahkan tentang ayah mertua yang kembali menempatkan Alex di perusahaan.


"Em, Sayang ... Tapi ini kan undangan langsung dari Mama. Setidaknya kita harus menghormatinya," ujar Irene.


"Kamu saja yang pergi kalau mau. Aku tidak mau pergi!" tegas Alan. Ia memang tipe lelaki yang keras kepala dan teguh pada pendiriannya.


"Kak, kok belum siap-siap?"


Irene duduk di tepi ranjang dengan wajah yang sedikit murung. Alan, suaminya, sedang berdiri di dekat jendela, tampak ragu-ragu. Irene ingin mengajak Alan pergi ke acara makan malam di rumah kediaman keluarga Alan, tetapi ia tahu bahwa kehadiran Alex, yang baru saja kembali bekerja di perusahaan keluarga mereka, bisa menciptakan ketegangan.


Irene mengatupkan bibirnya. "Sayang, ayolah, datang ke acara makan malam di rumah utama. Mama mengundang kita secara khusus," rengeknya dengan nada yang lembut.


Alan berbalik menghadap Irene, masih ragu-ragu. "Kamu kan tahu bagaimana perasaanku terhadap Alex. Aku masih kesal dengan keputusan papa. Aku tidak yakin bisa menghadapi dia sekarang." ia menyampaikan alasan keengganannya untuk datang ke rumahnya sendiri.


Irene mencoba meyakinkan Alan dengan suara lembut. "Kita tidak bisa menghindarinya selamanya, kan? Ini Mama sendiri yang memintaku supaya datang. Kita juga belum sempat ke sana setelah pulang dari Turki."

__ADS_1


Alan menghela nafas panjang, berusaha memahami argumen Irene. "Aku tahu, Sayang. Tapi perasaanku terhadap Alex belum sepenuhnya pulih. Aku tidak ingin merusak suasana nanti."


Ia bahkan masih menimbang-nimbang untuk tetap di perusahaan. Ia merasa tidak bisa satu tempat dengan Alex lagi.


Irene memandang Alan dengan tatapan lembut, mencoba membujuknya dengan lebih keras. "Sayang, jika kita tidak datang, mereka akan kecewa. Kita bisa mencoba menyelesaikan permasalahan ini dengan hati yang terbuka."


Alan menggosok pelipisnya dengan tanda kelelahan. Ia mulai mempertimbangkan kata-kata Irene. "Baiklah, aku akan mencoba, tapi hanya karena kamu mendapatkan undangan langsung dari mama. Aku tidak ingin membuat mereka kecewa."


Irene tersenyum lega mendengar keputusan Alan. "Terima kasih, Sayang. Aku tahu ini tidak mudah bagimu, tetapi aku yakin kita akan melalui ini bersama-sama." ia memeluk suaminya dengan penuh kasih sayang.


"Aku melakukannya hanya karena kamu," kata Alan dengan nada malas.


"Iya, Sayang, iya ... Cepat sekarang ganti baju!" pinta Irene.


Ia menarik suaminya menuju ke area walk in closet. Dari serangkaian deretan pakaian yang ada di sana, Irene memilihkan pakaian yang senada dengan dress yang dikenakannya.


"Bagaimana kalau ini, Sayang? Bagus, kan?" tanya Irene dengan antusiasnya.


Alan hanya mengangguk setuju. Ia pasrah saja mengenakan apa yang istrinya pilihka. Lagi pula, ia tak terlalu berniat datang ke acara makan malam keluarganya.


Alan menanggalkan pakaian santainya. Ia dibantu oleh Irene mengenakan pakaian formal yang cocok untuk acara makan malam. Irene begitu telaten membantu suaminya bersiap-siap.


"Sudah, sekarang sudah ganteng!" puji Irene.

__ADS_1


Alan memberikan kecupan di dahi istrinya. "Ayo kita berangkat sekarang," ajaknya.


__ADS_2