Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 306


__ADS_3

"Jadi akhirnya tetap dia ya, yang jadi pemeran utama?" kata seorang wanita sembari berbisik kepada kru film. Tatapannya mengarah kepada Adila menunjukkan rasa tidak suka.


"Entahlah, sutradara maunya dia. Padahal kita semua tahu dia kan sedang gila selama beberapa bulan ini. Aku rasa juga belum pulih sepenuhnya," jawab kru film yang bertugas di bagian perlengkapan.


"Dulu memang dia bintang top. Tapi aku rasa karirnya sekarang sudah redup. Aku yakin filmnya nanti tidak akan laku!" kata wanita itu dengan penuh percaya diri.


"Heh! Jangan menyumpahi begitu! Kalau film tidak laku dan rugi, aku tidak akan dapat bonus. Mungkin bayaran juga akan dikurangi," protes sang kru film.


"Hahaha ... Itu nasib sialmu bekerja dengan artis yang mulai redup ketenarannya." wanita itu kembali menatap ke arah Adila dengan sinis. "Sepertinya dia tipe artis yang rela melakukan apa saja, ya?" tanyanya.


"Melakukan apa memangnya?" tanya si kru film penasaran.


"Tidur dengan sutradara misalnya!" kata wanita itu dengan gamblang.


"Hush! Jangan bicara sembarangan! Kalau ada yang dengar bisa bahaya!" kata si kru film mengingatkan.


"Kalau dipikir pakai logika, mana ada rumah produksi yang mau mengajak orang tidak waras main film. Seperti tidak ada artis berbakat yang lain saja!"


"Sudah, hentikan ucapanmu itu. Ada banyak orang di sini!" kata sang kru film mengingatkan. Ia kembali melihat sekelilingnya, untung saja masih sepi.


"Main film biasanya kan ada audisinya, ya. Prosesnya juga lama. Mungkin dia pilih jalur cepat audisi di atas ranjang sutradara," sindir wanita itu.


Sang kru film pangsung membungkam mulut temannya itu. Ia mengajak wanita itu menjauh dari sana. Akan bahaya jika ada yang mendengar mereka.


"Kamu pantasnya memang di rumah saja! Mulutmu itu berbisa, tau! Sudah, sudah! Jangan katakan apapun yang bisa membuat aku kesulitan!" perintah si kru film.


"Sori, sori," kata wanita itu sambil mencebikkan bibirnya.


"Rencana pembuatan film ini memang sudah satu tahun yang lalu. Karena dibuat berdasarkan buku, maka si penulis merekomendasikan Adila untuk menjadi pemeran utamanya. Karena dia terinspirasi dari Adila saat menulis buku itu," kata si kru memberi penjelasan.


"Padahal bisa cari yang lain yang lebih sesuai," kata wanita itu yang tetap berkilah mencari pembenaran.


"Sudahlah, berhenti mengurusi hal yang tidak penting. Semakin kamu banyak bicara, semakin membuarku susah," ujar si kru film.

__ADS_1


Di sisi lain, Adila tengah duduk bersantai menunggu gilirannya syuting lagi. Ia tahu ada banyak orang di sana yang tidak menyukai keberadaannya. Bahkan samar-samar ia mendengar ada yang menyebutnya gila.


"Hahaha ...." Adila tertawa sendiri memikirkan persepsi orang tentangnya.


Orang lain tidak akan ada yang tahu bagaimana perasaan dia yang sebenarnya. Ia bersusah payah untuk bangkit dan kembali meniti karir sembari menghilangkan traumanya. Sampai saat ini ia masih rajin datang ke dokter jiwa setiap akhir pekan. Semua ia lakukan untuk menjaga kewarasan.


Setelah putus dengan Arvy, kondisinya sempat memburuk. Ia sampai mendapat perawatan di rumah sakit karena kelelahan dan stres. Saat ia mencoba kove on, bertemu Arvy lagi membuat hatinya kembali berdebar-debar sekaligus terasa sakit.


"Adila, giliranmu!" seru sang manajer.


Adila segera berlari menghampiri manajernya yang tengah bersama sang sutradara di tepi laut. Semua kru dan pemain lainnya berada di sekitar, siap untuk melanjutkan proses syuting.


"Adila, kita akan mulai dengan adegan berlari ke arah laut. Setelah mencapai tengah laut, kamu pura-pura tenggelam. Pastikan kamu menunjukkan ekspresi yang kuat dan dramatis. Kita akan merekam adegan ini dengan indah," kata sang sutradara saat memberi pengarahan pada Adila.


Adila mendengarkan dengan saksama dan memahami instruksi sutradara. Dia mempersiapkan diri dan mengisi pikirannya dengan karakter yang sedang ia perankan. Semangatnya membara, dan dia siap untuk memberikan performa terbaiknya.


"Aku larinya ke arah mana?" tanya Adila.


Adila mangguk-mangguk.


"Nanti, setelah Adila berteriak monta tolong, kamu langsung ikut lari ya, Roman," pinta sang sutradara.


"Siap, Pak," jawab Roman yang merupakan partner main Adila.


"Oke, Adila sudah siap, kan?" tanya sutradara memastikan.


Adila mengangguk.


Ia diarahkan kru untuk berjalan ke arah bibir pantai. Pakaian yang dikenakan sudah cocok, mengenakan tunik berwarna putih dam topi lingkaran di kepalanya.


"Siap ya, Adila, kalau bisa kita take satu ksli saja adegan kali ini," kata sang sutradara sambil berbicara dengan pengeras suara.


Adila mengacungkan jari jempolnya tanda menyetujui.

__ADS_1


"Oke, satu ... Dua ... Action!"


Adila berlari-lari licah sembari tersenyum di pinggiran laut sesuai arahan sutradara. Ia tengah menjalani syuting sebuah film.


Tanpa diduga, saat Adila berlari menuju laut, ombak tiba-tiba membesar dan berarus dengan kekuatan yang tak terduga menggulung tubuh Irene. Keadaan menjadi berbahaya, dan semua orang di sekitarnya langsung panik.


"Tolong ... Tolong ...." teriak Adila yang nerada di tengah gulungan ombak.


"Ahhh .... Ombak pasang ... Lari!" semua orang lari kalang kabut menuju daratan.


Sutradara berteriak. "Hentikan! Hentikan syuting sekarang!" perintahnya.


Kondisi sangat kacau. Semua orang kalang kabut sembari berteriak histeris sampai lupa jika Adila juga tengah tergulung ombak.


Sebelum ada yang bisa bereaksi, Adila sudah terkena imbas ombak tersebut. Tubuhnya terbawa arus yang kuat dan mendorongnya ke tengah laut. Ketakutan dan kepanikan merasuki pikirannya saat dia berusaha keras bertahan.


"Aduh, Pak! Adila hanyut!"


"Pak! Bagaimana ini? Adila terbawa ombak!"


Semua orang cemas melihat Adila yang masih berusaha hidup dengan menyembulkan kepalanya ke atas. Tak ada satupun dari mereka yang berani menolong Adila.


Tim penjaga pantai dengan cepat berusaha menyelamatkan Adila, mereka berlari ke arah pantai dan mencoba membentuk tim penyelamat. Tetapi ombak yang kuat membuat tugas mereka semakin sulit. Mereka berteriak dan memanggil bantuan, sementara Adila terus terbawa oleh arus.


Suar-suar kekhawatiran dan panik memenuhi udara saat Adila semakin menjauh dari tepi pantai. Ada kecemasan yang melanda semua orang yang menyaksikan kejadian itu. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya.


Adila berjuang dengan segenap kekuatannya untuk tetap mengapung dan bertahan di tengah ombak yang deras. Dia mencoba mengontrol napasnya dan menjaga ketenangan dalam situasi yang mengancam nyawanya.


Sementara itu, tim penyelamat terus berusaha mencapai Adila, tetapi tantangan yang dihadapi terlalu besar. Mereka melihat dengan frustrasi ketika Adila semakin terjauh dari jangkauan mereka.


Dalam detik-detik yang tegang, Adila berpegangan pada tekadnya untuk bertahan hidup. Meskipun takut dan lelah, dia terus berusaha menjaga semangat dan harapannya tetap hidup. Ia meraih sebuah papan kayu yang mengambang dan berpegangan padanya.


Di tengah laut yang bergelombang, Adila merasa sendirian dan rentan. Dia terus berjuang untuk bertahan, berharap ada bantuan yang akan datang.

__ADS_1


__ADS_2