
Arvy membawa Adila ke lokasi syuting iklan mie instan yang baru saja mereka dapatkan. Keduanya akan menjadi bintang iklan tersebut, dan mereka sangat senang karena ini merupakan kesempatan besar bagi mereka berdua.
Setelah sekian lama istirahat dari dunia hiburan, Adila akhirnya memiliki kesempatan untuk kembali pada dunia yang telah membesarkan namanya.
Ketika mereka tiba di lokasi syuting, produser langsung memperkenalkan diri dan memberikan arahan pada Arvy dan Adila untuk memerankan karakter sesuai dengan skenario. Namun, sepanjang proses syuting, Adila seringkali memancing Arvy untuk bertengkar.
"Arvy, kok akting kamu jelek banget sih? Kayak gak punya bakat akting," ledek Adila.
Semua kru yang mendengar terlihat kaget dengan tingkah Adila yang sangat berbeda. Wanita itu biasanya bersikap pendiam dan imut di lokasi syuting. Adila yang sekarang terlihat jadi berani.
"Apa katamu? Aku sudah melakukan yang terbaik." Arvy sedikit gregetan dengan ucapan Adila.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik? Coba lihat dirimu sendiri, kamu masih banyak salah." perkataan Adila terdengar sangat mengejek.
"Tidak ada yang salah dengan aktingku. Kamu yang terlalu kritis. Sudahlah, jangan berdebat lagi!"
"Kritis? Sama sekali tidak. Aku hanya ingin agar iklan ini menjadi yang terbaik."
Produser merasa kesal dengan perdebatan mereka. "Hei, kalian berdua! Jangan bertengkar di sini, fokus pada karakter yang kalian perankan. Semua kru sudah lelah!" katanya dengan sedikit nada membentak.
"Maaf, Pak Produser. Kami akan memperbaikinya," kata Adila. Ia langsung menghentikan perdebatannya.
"Iya, kami akan bekerja sama dengan baik untuk menciptakan iklan yang terbaik," sahut Arvy.
Setelah teguran dari Produser, Arvy dan Adila mencoba untuk bekerja sama dalam proses syuting dan mencapai hasil yang terbaik. Meskipun masih ada beberapa ketegangan di antara mereka, namun mereka berhasil menyelesaikan proses syuting iklan mie instan tersebut dengan sukses.
Selesai proses syuting, Arvy dan Adila merasa lelah dan lapar. Mereka memutuskan untuk makan bakso bersama di sebuah warung dekat lokasi syuting.
"Bagaimana rasa baksonya?" tanya Arvy.
"Enak banget! Aku suka banget dengan pedasnya." Adila tampak menyantap bakso di mangkoknya dengan lahap.
"Aku juga suka bakso pedas. Kamu makan dengan tangan atau pakai sendok?" sindir Arvy yang melihat Adila mengambil bakso besar dari mangkok dan menggenggamnya. Cara makan Adila terlihat aneh baginya.
Adila tak menggubris perkataan Arvy. Dia terus menikmati bakso besar yang ada di genggamannya.
__ADS_1
"Kamu makan dengan sangat rakus, tapi tetap cantik seperti biasanya." Arvy mulai mengeluarkan kegombalannya.
Adila sampai memutar malas kedua bola matanya dan menjulurkan lidah meledek Arvy.
Arvy mengulurkan tangannya berniat mengambil sisa makanan di pipi Adila. Namun, Adila tidak suka saat Arvy mengusap sisa makanan di pipi. Dia menghindar dan menatap Arvy dengan tatapan tajam.
"Jangan sentuh wajahku. Kamu tahu aku tidak suka!" kata Adila dengan nada ketus.
"Kapan kamu akan berhenti galak padaku," gerutu Arvy pada dirinya sendiri.
"Ngomong-ngomong, Irene bagaimana? Apa dia sudah pulang?" tanya Adila.
Arvy merasa bosan dengan pertanyaan itu. Ia ingin sesekali yang ditanyakan kabarnya, bukan Irene terus. "Dia sudah pulang. Kenapa? Kamu kangen dia?" tanyanya dengan nada kesal.
"Iya, aku kangen banget sama Irene. Kamu ajak dia kapan-kapan main ke rumahku. Sudah lama dia tidak main ke rumah," pinta Adila. Setiap kali membahas tentang Irene, nada bicara Adila menjadi lembut.
"Kenapa aku harus melakukannya? Kamu bahkan tidak memberikan imbalan apa-apa setiap kali aku mengajak Irene menemuimu," protes Arvy.
"Memangnya kamu mau minta imbalan apa?" Adila memicingkan sebelah alisnya.
Adila mematung mendengarkan persyaratan yang diajukan.
Ctak!
"Aduh!" Arvy berteriak saat Adila memukul kepalanya.
"Dasar orang aneh!" gerutu Adila. Ia berhenti bicara dengan Arvy dan meneruskan makan.
Arvy masih memegangi kepalanya yang dijitak. Ia merasa Adila masih saja galak padanya. Padahal dulu mereka sangat romantis dan ciuman menjadi hal biasa. Sekarang, jangankan minta cium. Untuk jalan berdua saja sulit. Kalau bukan karena kepentingan iklan, mereka juga tidak akan bertemu.
"Main ke taman hiburan, Yuk!" ajak Arvy.
Arvy ingin mengajak Adila ke taman hiburan, namun Adila awalnya menolak karena dia merasa takut dengan wahana-wahana yang ada di taman tersebut. Arvy mencoba meyakinkannya bahwa dia akan selalu menjaganya, dan akhirnya Adila setuju untuk pergi ke taman hiburan bersamanya.
Ketika tiba di taman hiburan, Adila merasa sangat bahagia. Dia melihat banyak wahana yang sangat menarik dan ingin mencoba semuanya. Arvy mengajak Adila untuk mencoba roller coaster.
__ADS_1
"Arvy, aku takut. Kamu gila ya, membawa orang amnesia sepertiku naik ini?" gumam Adila sembari melihat roller coaster yang tengah berjalan disertai suara teriakan orang-orang yang berada di atasnya.
"Amnesia tapi menjengkelkannya luar biasa," ucap Arvy dengan nada yang sangat lirih. Adila tampak memandang ke arahnya dan ia mengembangkan senyuman saja. "Tentu saja, kamu bisa melakukannya. Aku akan selalu menjagamu. Kalau takut boleh pegang tanganku," ujarnya dengan nada sedikit meledek.
Adila yang pada dasarnya tidak mau kalah, akhirnya mau menerima ajakan itu. "Baiklah, aku akan mencobanya. Aku pikir mungkin kamu yang akan pingsan setelah turun!" ledeknya.
Setelah roller coaster berhenti, tiba giliran mereka untuk naik. Keduanya mendapat tempat di bagian paling depan.
"Masih ada kesempatan kalau memang kamu mau turun," kata Arvy.
Adila berdecih. Ia tidak mau diremehkan oleh Arvy. Ia tetap berada di sana dan menunggu sampai sabuk pengaman diturunkan.
Saat wahana yang mereka naiki mulai bergerak, awalnya Adila merasa gugup dan takut. Namun, lambat laun ia mulai merasakan keseruan permainan roller coaster itu. Tidak terlalu menyeramkan seperti yang dibayangkannya.
Usai menyelesaikan roller coaster, mereka menaiki wahana perahu kora-kora yang tak kalah menatang. Jantung terasa mau copot saat wahana tersebut terombang ambing di udara.
Tak cukup dua wahana itu, keduanya mencoba beberapa wahana ekstrim dan cenderung berbahaya yang dapat memacu adrenalin.
Mereka menikmati waktu mereka bersama-sama di taman hiburan dan berbagi kenangan yang indah. Adila merasa senang dan terhibur karena Arvy selalu ada untuk mendukungnya dan membuatnya merasa aman.
Arvy dan Adila sedang menikmati waktu mereka di taman hiburan dan mereka memutuskan untuk mencoba kincir raksasa. Saat mereka naik ke atas, mereka bisa melihat pemandangan yang indah di sekitar taman hiburan.
"Arvy, lihatlah pemandangan yang indah ini. Ini seperti dunia yang berbeda di atas sini," ujar Adila.
"Ya, benar. Taman hiburan ini memang tempat yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu bersama-sama."
"Hey Arvy, coba tebak, ada lima burung di ranting, kamu menembak satu. Berapa burung yang tersisa?" tanya Adila.
"Hmm, sepertinya jawabannya nol, karena yang lain terbang menjauh, Bukan?"
"Hehe, benar sekali. Kamu pintar ya." Adila merasa gagal karena ternyata Arvy sudah tahu jawabannya. "Oke, satu lagi. Apa yang lebih panjang dari yang diukur, dan lebih pendek dari yang dijelaskan?"
"Ini sulit. Aku tidak yakin." Arvy terlihat tengah berpikir selama beberapa saat. Namun, ia sama sekali tak mendapatkan jawaban yang sekiranya masuk akal.
"Jawabannya kata! Kamu kalah!" Adila terlihat senang karena tebakannya tak tertebak.
__ADS_1
Mereka berdua tertawa bersama-sama saat kincir raksasa berputar-putar. Mereka menikmati waktu yang menyenangkan bersama-sama dan berbagi kenangan indah. Walaupun Arvy tidak bisa menjawab semua tebak-tebakan Adila, mereka tetap menikmati permainan tersebut dan bersenang-senang di taman hiburan.