Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 226: Buket Bunga


__ADS_3

"Aku mau kembali ke depan lagi, ya, Kak Alan pasti menungguku," pamit Irene.


"Ah, iya. Makasih, ya," kata Violet.


Irene berbalik badan seraya berjalan meninggalkan ruang persiapan pengantin wanita. Meskipun terdengar samar-samar, Irene tahu jika Violet dan temannya itu tengah membahas tentang dirinya. Teman Violet tidak percaya jika Irene merupakan calon istri Alan.


Irene mengabaikannya dan terus berjalan melewati arah yang sebelumnya ia lalui.


"Ini ya orangnya?"


Belum sampai di tempat acara, Irene sudah lebih dulu dicegat oleh empat orang wanita cantik di depannya. Dari penampilan mereka yang anggun menunjukkan bahwa keempatnya bukanlah wanita sembarangan. Apalagi bisa datang dalam acara pernikahan salah satu pengusaha yang lumayan dikenal namanya.


"Maaf, ya, aku mau lewat," kata Irene dengan nada yang sopan.


"Siapa yang mengijinkanmu lewat? Apa kamu yang bernama Irene?" tanya salah satu wanita yang bertubuh kurus dan mata lebar itu.


"Iya, benar. Apa kalian ada perlu denganku?" Irene berusaha untuk bersikap tenang dan pura-pura polos. Dari gaya mereka mengajak bicara sebenarnya ia sudah tahu kalau mereka hanya ingin merendahkannya.


"Hahaha ... Ini calon istri Alan? Yang benar saja," ujar wanita berambut pirang ikal dengan dandanan yang menor. Wanita itu memperhatikan Irene dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Pink, masa kamu kalah saing dengan modelan begini?" ucap wanita satunya yang bertubuh agak gempal.


Wanita paling cantik dari mereka berempat yang dipanggil Pink itu memandang sinis kepada Irene.


"Kakakku memang membeli gaun dari wanita ini. Tapi, apa perlu sampai harus mengundangnya k3 sini? Merusak pemandangan saja!" kata Pink dengan nada angkuhnya.


Irene baru tahu jika saat ini ia tengah berhadapan dengan adik Violet si pengantin wanita.


"Apa kamu menyukai calon suamiku?" sindir Irene secara terang-terangan.


Pink merasa direndahkan. Ia merasa cantik dan tidak seharusnya kalah oleh wanita biasa seperti Irene. "Apa kamu pakai dukun di jaman modern ini?" tanyanya.

__ADS_1


Ketika teman Pink tertawa. Irene hanya menyunggingkan senyumannya.


"Ya, aku pakai dukun supaya kalian terlihat seperti monyet di mata Kak Alan. Apa kalian mau aku kenalkan dengan dukun yang aku pakai? Sayang sekali wajah cantik seperti kalian tidak laku-laku," ledek Irene.


"Wah, kurang ajar juga wanita ini!" kata Si rambut pirang mulai emosi.


Irene tetap berusaha menyikapi dengan santai.


"Jangan belagu, ya! Aku bisa saja merebut calon suamimu kalau aku mau. Selama ini tidak ada yang bisa menolak pesonaku," kata Pink dengan percaya dirinya.


"Beri dia pelajaran, Pink!


"Rebut saja, Pink!"


"Gadis belagu ini memang harus diberi pelajaran!"


Ketiga teman adik Violet memberi dukungan.


Irene kembali tersenyum. "Kalau begitu, lakukan saja! Semangat, ya ...," kata Irene cuek. Ia lantas menyingkirkan mereka dari jalan karena menghalangi.


Saat memastikan tunangannya itu ada di salah satu sudut ruangan, ia berjalan menghampiri. Alan masih berbicara dengan rekan bisnisnya.


Irene merangkul lengan Alan dengan mesra sampai membuat lelaki itu terkejut. Orang lain yang melihatnya juga ikut heran.


"Kamu sudah kembali? Kenapa lama sekali?" tanya Alan dengan nada lirih.


Irene menyandarkan kepalanya dengan mesra sembari bermanja. "Ada penggemarmu yang tadi menghalangi jalan," ucapnya.


Alan mengerutkan dahi. "Penggemar? Maksudmu apa?" tanyanya meminta penjelasan.


"Kamu punya banyak sekali fans wanita yang kecewa padaku di sini, Kak. Mereka sangat cantik-cantik. Mereka tidak terima kalau calon istri kakak ternyata jelek seperti aku," kata Irene.

__ADS_1


Alan tersenyum. "Kamu ini ada-ada saja. Bagiku tidak ada yang lebih cantik dan menarik dari dirimu," katanya.


Alan balas merangkul pinggang Irene dan mencium pipi wanitanya tanpa mempedulikan bagaimana respon orang di sekitar.


Beberapa saat kemudian acara pernikahan akhirnya dimulai. Semua orang terpukau dan membicarakan tentang keindahan gaun yang dikenakan oleh mempelai wanita. Banyak yang memuji karya buatan Irene.


Ketika waktu pelemparan bunga tiba, semua wanita yang masih single antusias maju ke depan dengan harapan untuk mendapatkan bunga yang akan dilemparkan oleh pengantin wanita. Irene melihat kelompok adik Violet ikut maju untuk memperebutkannya.


"Kamu tidak mau ikut maju?" tanya Alan.


"Aku? Untuk apa? Kan sudah punya Kakak sebagai calon suami," kata Irene.


Alan tersenyum mendengar jawaban Irene.


"Baiklah, sepertinya para jomlowan dan jomlowati sudah berkumpul di depan. Kini tiba saatnya ...."


Belum sempat pembawa acara menyelesaikan perkataannya, Violet menyela. Pengantin wanita itu merebut mic yang dipegang oleh pembawa acara.


"Em, selamat malam semuanya ... Maaf kalau mungkin ini membuat kalian heran," kata sang pengantin wanita. "Pada malam ini saya mendapatkan tamu yang sangat spesial. Orang penting yang telah merancang gaun seindah ini dalam waktu yang sangat singkat. Saya ingin berterima kasih secara langsung kepadanya. Irene, silakan maju dan naik ke sini!" pintanya.


Irene tertegun saat namanya dipanggil oleh Violet. Ia tidak menyangka aman dipanggil ke depan.


"Naiklah!" pinta Alan sembari mendorong lembut tubuh Irene.


Semua orang bertepuk tangan saat Irene berjalan menghampiri Violet. Pink dan pasukannya sampai ternganga mengetahui persncang busana yang banyak dipuji orang adalah Violet.


"Yang lainnya maaf, ya ... Buket bunga ini aku berikan kepada Irene. Aku harap ia segera menyusulku ke pelaminan dengan lelaki yang dicintainya," kata Violet sembari menyerahkan buket bunganya.


Tentu saja para pasukan jomlo agak kecewa karena berharap mendapatkan buket bunga. Namun, mereka juga senang bisa mengetahui siapa perancang gaun pengantin yang indah itu.


Selain memberikan buket bunga, Violet juga memberikan mic agar Irene menyampaikan sepatah dua patah kata di hadapannya.

__ADS_1


"Perkenalkan nama saya Irene. Pertama, saya ucapkan selamat atas pernikahan Violet dan Jimmy. Semoga pernikahan kalian abadi sampai akhir hayat. Terima kasih untuk buket bunga ini dan terima kasih sudah menyukai desain gaun ini. Sebernya saya tidak bekerja sendiri melainkan di butik Kak Alfa. Dia juga tak kalah besar effort-nya untuk membuat gaun yang indah bagi pelanggannya. Silakan yang butuh gaun pernikahan bisa langsungmenghubungi Kak Alfa."


Dari arah bawah tampak Alan hanya bisa senyum-senyum menahan tawa. Ia tidak menyangka jika Irene berbicara sekaligus mempromosikan butik milik adiknya.


__ADS_2