
Irene turun dari taksi di tempat yang tak jauh dari titik kesepakatan dengan orang yang meneleponnya. Setelah Irene menurunkan kopernya, taksi tersebut lantas pergi dari sana.
Irene memandangi sebuah gudang tua yang ada di daerah sepi itu. Di dalam sana, merupakan tempat transaksi yang telah disepakati. Ia juga telah membawa uang uang diminta dalam koper yang dibawanya.
Irene memasang topeng rubah untuk menutupi wajahnya. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi anak buahnya.
"Halo, Don, jemput aku di dekat lokasi penyekapan setengah jam lagi!" perintahnya.
"Anda yakin mau pergi sendiri, Nona?"
"Ya, aku harus ke sana sendiri sesuai permintaan mereka. Kalau sampai dalam waktu tiga puluh menit aku belum keluar, susul aku ke dalam!"
"Baik, Nona."
Irene lantas mematikan sambungan teleponnya. Ia menyimpan kembali ponselnya dan berjalan mendekat ke arah gudang tua terbengkalai tersebut mengenakan topeng rubah yang menutupi wajahnya.
Sesampainya di depan pintu depan gudang, dari arah samping dua orang lelaki berjalan menghampirinya. Bisa ditebak jika mereka merupakan anak buah lelaki misterius yang meneleponnya.
Mereka memandu Irene agar ikut bersama mereka masuk ke dalam. Pintu kembali ditutup setelah Irene masuk.
Di dalam sana terdapat banyak tumpukan jerami, sepertinya tempat itu dulunya merupakan gudang penyimpanan hasil panen dari ladang yang ada di sekitarnya.
"Selamat datang, Nona Cookie ... Aku sangat salut dengan keberanianmu."
Seorang lelaki berwajah seram dengan senyuman yang tak kalah membuat merinding itu berjalan menghampiri Irene. Pada wajah lelaki itu terdapat bekas luka sayatan yang cukup panjang. Penampilannya sangat mirip seperti preman.
"Aku dengar Nona Cookie memiliki paras yang sangat cantik. Kenapa harus menutupinya dengan topeng jelek seperti itu? Bukalah, supaya aku bisa lebih mengenalmu, Nona," kata lelaki itu.
Namanya Feng, salah satu anggota Big-O yang terkenal tangguh dan pemberani. Sepertinya lelaki itu dendam kepada Irene karena dirinya pernah membocorkan kemesraan Feng dengan terapis pribadinya yang sama-sama lelaki.
Meskipun bukan rahasia umum jika Feng menyukai sesama lelaki, namun beredarnya foto privat itu di media internet sangat membuatnya geram. Banyak artikel yang menuliskan bahwa ia butuh berhubungan badan dengan terapisnya sebelum melakukan pertandingan basket. Sontak kabar itu menggemparkan fans dan tim basketnya.
Irene tidak akan mengusik Feng jika lelaki itu tidak lebih dulu berusaha berbuat curang terhadap beberapa client-nya. Organisasi Big-O beberapa kali kedapatan dengan sengaja mengirimkan virus untuk berusaha membobol sistem keamanan milik organisasi yang membayar jada Cookie.
__ADS_1
"Untuk menghadapi satu wanita sepertiku, apa harus mengerahkan anak buah sebanyak ini?" sindir Irene. Ia mulai menghitung jumlah musuhnya di dalam sama. Feng di sana bersama 6 orang anak buahnya. Jumlah yang cukup banyak untuk ia hadapi sendiri.
"Hahaha ... Aku memang tidak membutuhkan mereka. Namun, aku hanya tidak ingin mengambil resiko jika kesepakatan kita akan gagal," kilah Feng.
Irene menyeringai. "Jadi, mungkin memang kamu yang penakut dan pengecut di sini!" ia berusaha menjatuhkan mental Feng.
Tentu saja Feng tidak terima dengan hinaan yang Irene berikan. Ia memberi isyarat kepada keempat orang yang ada di dekatnya untuk pergi. Ia ingin berhadapan satu-satu dengan Nona Cookie. Sementara, dua orang lainnya tetap di sana untuk menjaga pintu.
"Meskipun aku menyukai lelaki, tapi aku tidak akan menolak jika kamu menyerahkan dirimu padaku, Nona," kata Feng.
"Oh, terima kasih. Aku tidak suka yang seperti itu," tolak Irene.
"Hahaha ... Sebenarnya aku juga tidak tertarik padamu. Aku hanya tertarik dengan nyawamu, Nona."
Feng mengeluarkan senjatanya. Ia mengarahkan tepat ke kepala Irene dengan tatapan mata tanam penuh amarah. Apa yang telah hacker Cookie lakukan padanya tidak bisa termaafkan.
Irene tertegun. Ia sudah menduga bahwa diculiknya Ron hanyalah sebagai pancingan agar Irene datang ke tempat itu. Satu-satunya tujuan utama lelaki itu adalah untuk menghabisi dirinya.
"Kamu sudah meminta uang, aku sudah membawannya. Biarkan aku melihat anak buahku!" pimta Irene.
Tak berselang lama, salah satu anak buahnya menarik paksa Ron agar masuk ke ruangan itu. Dengan kasar ia mendorong Ron sampai.jatuh tersungkur di lantai.
Irene merasa lega saat melihat kondisi Ron ternyata baik-baik saja. Tatapan mereka bertemu sekilas. Terlihat jelas jika Ron berusaha memberi kode dengan gelengan kepala.
"Silakan ambil uangnya dan bebaskan anak buahku!" kata Irene dengan tegas.
Feng kembali menyeringai. "Aku tidak bisa mempercayaimu sepenuhnya. Lemparkan koper uang itu ke depan!" perintahnya.
Terpaksa Irene melempar kopernya ke tengah-tengah mereka.
"Heh! Kamu maju dan cek isi koper itu!" perintah Feng.
Ron menurut. Ia melangkah maju ke tengah dan mulai menghitung nominal yang ada di dalamnya.
__ADS_1
Koper itu dibuka. Tumbukan uang dolar asli berjajar rapi di dalam sana. Ron sendiri sampai tercengang melihatnya.
Feng tersenyum lebar. Ia kembali mengangkat senjata dan mengarahkan pada Irene. "Nona, kemarilah!" pintanya.
"Nona, jangan menuruti ucapannya!" cegah Ron dengan berani.
Duak!
Feng menendang tubuh Ron, entah dengan sengaja atau tidak, ia melampiaskan kekesalannya dengan cara menendang anak yang menurutnya berisik.
"Hentikan! Jangan pukuli dia!" cecah Irene. Ia tidak tega melihat Ron terluka.
"Makanya menurut, aku juga tidak akan menyiksanya," rayu Feng.
Irene merasa tak ada pilihan lain. Terpaksa ia menyerahkan dirinya kepada Feng. "Hahaha ... Kamu masih terlihat muda. Pasti akan sangat laku jika aku masukkan kamu ke klab malam," gumam Feng.
"Oh, ya? Lakukan sendiri kalau bisa!" Feng menyepelekan ucapan Irene.
Grep!
Dengan gerakan yang sangat cepat, Irene berhasil membekuk Feng dan menjatuhkan senjatanya. Ia sendiri mengeluarkan senjata dari balik pinggangnya dan digunakan untuk menodong Feng. Posisi kini terbalik.
Anak buah Feng dibuat ketar-ketir.
"Jangan mendekat!" teriak Irene. Anak buah Feng tak ada yang berani narang selngkah.
"Berani kalian mendekat, aku akan menembaknya!" ancam Irene. "Pergi dari sini, Ron! Bawa uangnya!" perintah Irene dengan berani.
Feng sampai tak bisa berkata-kata melihat keberanian wanita yang kini tengah mengancamnya dengan sebilah pistol.
Anak buah Feng yang berjaga di depan pintu terpaksa mengalah untuk membukanya. Ron dan koper itu berhasil keluar.
"Oke, Nona Cookie, sebenarnya sejak tadi aku hanya bercanda. Aku sangat mengagumi keberanianmu bisa sampai di sini. Pulangnya bersama anak buahmu tadi juga koper uangnya. Aku tidak butuh apa-apa," kata Feng.
__ADS_1
Irene mengarahkan lirikan tajam. "Apa kata-katamu bisa dipercaya?" tanyanya memastikan. Ia agak ragu bisa terlepas begitu saja tanpa terjadi baku hantam.
"Tentu saja, untuk apa aku bohong?" ucap lelaki itu.