Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 20: Bertemu Sovia


__ADS_3

Adila membulatkan mata mendengar ucapan Irene yang sangat provokatif.


"Kalau kamu tidak percaya diri, putus saja! Bersaing denganku saja sudah putus asa apalagi menghadapi banyak wanita canti di luar sana. Apalagi Kak Arvy artis, teman-temannya banyak yang cantik. Aku terharu bisa dicemburui wanita secantik dirimu."


Adila menunduk. Ia begitu tertusuk dengan ucapan Irene.


"Sepertinya kalian butuh waktu bicara berdua. Kalau begitu, aku pergi dulu, ya." Irene memilih pergi memberi kesempatan mereka menyelesaikan masalah. Bantuan yang ia berikan dia rasa sudah cukup.


"Tunggu aku di parkiran, Irene," pinta Arvy. Bagaimanapun juga hari ininia bisa merasakan kebahagiaan berkat Irene. Ia tidak tega jika harus membiarkan wanita itu pulang sendirian ke rumah. Belum lagi keempat saudaranya yang lain pasti akan mempertanyakan tentang kesepakatan yang telah mereka buat. Jika Arvy mengingkarinya, yang lain pasti akan marah.


"Tidak usah, Kak. Aku sudah tahu jalan pulang." Irene tahu diri posisinya sebagai orang ketiga. Masalah tidak akan kunjung selesai jika ia tetap berada di sana. Ini baru satu masalah dengan Adila, belum lagi dia nanti pasti akan berurusan dengan pacar Alan, Alex, Alfa, dan Ares. Entah seperti apa pusingnya jika harus menghadapi para wanita yang cemburu.


"Nanti aku dimarahi yang lain ...." Arvy berusaha membujuk Irene agar mau menunggunya.


"Aku akan pulang sebelum sore agar mereka tidak khawatir. Kak Arvy juga supaya mereka tidak curiga."


"Baiklah, kamu hati-hati di jalan."


Irene mengangguk. Ia segera meninggalkan ruangan itu sendirian.


Sebenarnya Irene tak begitu paham rute pulang ke rumah. Tapi, waktu masih panjang sebelum sore menjelang. Ia masih bisa jalan-jalan ke tempat selain taman hiburan. Irene ingin menelusuri kota, dimana ia belum pernah melakukannya sekalipun selama di sana.


Irene memasuki kawasan street food yang berada tak jauh dari mawasan taman hiburan. Ada beraneka ragam makanan yang dirawarkan selanjang jalan. Meskipun masih siang, peminatnya sangat banyak. Orang-orang sudah berkerumin untuk berburu kuliner di sana.

__ADS_1


Pilihan makanan yang ditawarkan sangat beraneka ragam, dari mulai masakan lokal, China, Korea, sampai masakan barat. Asalkan kantong tebalndan lambung kuat, apa saja bisa dibeli.


Irene yang sangat menyukai makanan jepang mampir ke salah satu pedagang sushi. Bentuknya lucu-licu dan menggugah selera. Ia memesan satu kota sushi yang akan dimakan sambil meneruskan perjalanan.


Menikmati keindahan kota sendiri tak begitu membosankan. Daripada dengan orang lain, menurut Irene lebih enak sendiri. Dulu, ia tidak pernah jajan sembarangan di pinggir jalan. Minimal restoran atau kafe.


Setelah diberi kesempatan datang ke Surabaya, ia tak akan menyia-nyiakan meng-explore kota itu sepuasnya. Satu tahu harus cukip untik menjelajahi setiap sudut kotanya. Selain makanannya yang enak dan murah, Irene juga menyukai budayanya yang masih terjaga dengan baik.


Irene berhenti di depan penjual permen kapas. Ini pertama kali ia melihat langsung pembuatan permen kapas raksasa aneka warna yang dibuat menyerupai bunga. Bentuknya sangat indah sampai rasanya sayang untuk dimakan.


Ada pedagang makanan yang juga menarik perhatiannya. Tempat jualannya bisa menimbilkan bunyi yang unik. Ternyata dia adalab seorang penjual kue putu. Cara pembuata kue putu juga menurutnya unik.


Pedagang memasukkan bahan ke dalam tabung bambu kecil lalu ditengahnya diberi gula merah dan ditutup dengan adonan lagi. Adonan dalam bambu itu diletakkan di atas lubang tungku yang mengeluarkan uap. Dengan uap itu adonan matang dan siap dikeluarkan dari cetakan.


Saat hendak melanjutkan perjalanan, langkahnya terhenti saat melihat Sovia sedang bergandengan mesra dengan seorang pria yang kelihatan lebih muda darinya. Mereka saling bergandengan tangan, berjalan dengan mesra satu sama lain. Irene tertegun melihatnya.


"Kenapa, Sayang? Apa kamu mengenalnya?" tanya lelaki itu.


"Iya, aku mengenalnya. Bisa kita bicara berdua sebentar?"


Irene mengikuti saja saat Sovia mengajaknya berbicara di tempat yang sepi. Padahal jika dia mau menolak diajak bicara juga boleh. Apa yang dilakukan Sovia sama sekali bukan urusannya.


"Apa kamu mau melaporkan kejadian ini kepada Alan?" tanya Sovia. "Meskipun Alan tahu, ini tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap hubungan kami." Sovia seakan ingin menegaskan bahwa Alan telah cinta mati padanya.

__ADS_1


"Kalau memang kamu sudah tahu seperti itu, kenapa sampai harus mengganggu perjalananku? Jangan-jangan kamu talut kalau aku melaporkannya."


Sovia tertawa. Wanita yang ada di hadapannya ternyata cukup berani dan tidak bisa ia gertak. Ia kira Irene akan ketakutan saat ia labrak langsung.


"Aku heran sekali standar apa yang Kakek Narendra gunakan untuk memilihmu sebagai calon menantunya. Darj segi manapun aku rasa kamu tidak memiliki kelebihan apapun," ejek Sovia. "Selain wajahmu yang kelewat jelek, itu kelebihanmu."


Irene tersenyum. " Mungkin itu memang kelebihanku. Orang jelek sepertiku tidak mungkin akan selingkuh. Makanya Kakek Narendra ingin aku jadi cucu menantunya," jawab Irene dengan tegas. Ia tak mau kalah dengan wanita semacam Sovia.


"Kamu mau menuduhku selingkuh?" Sovia membulatkan matanya menentang Irene.


"Tidak, dimana letak aku menuduhmu selingkuh? Aku hanya bilang kalau orang jelek tidak mungkin selingkuh. Tidak tahu kalau orang cantik. Ya, terserah kamu saja, kalau mau dianggap tidak selingkuh, jadilah orang jelek sepertiku. Karena tidak ada lelaki yang mau dengan orang jelek."


Sovia mengeratkan giginya. "Kamu anak kecil tapi diam-diam licik juga, ya! Aku ingatkan lagi, jangan ganggu Alan! Dia hanya milikku!"


"Iya, Kakak ... berjuanglah agar Kak Alan selalu berada di sisimu. Tanpa aku harus melakukan apapun, suatu saat kebiasaan selingkuh Kakak juga akan terbongkar."


Plak!


Sovia melayangkan sebuah tamparan ke pipi Irene. "Jaga mulutmu! Aku tak pernah selingkuh."


"Kalau tidak pernah selingkuh, kenapa harus takut? Belum oernah selingkuh atau belum pernah ketahuan?" sindir Irene.


Sovia hendak menamparnya lagi, namun Irene mampu menahannya. "Aku tidak akan membiarkanmu menamparku untuk kedua kalinya." Irene menatap nyalang ke arah Sovia. Ia tidak takut dengan ancaman wanita itu.

__ADS_1


Irene benar-benar tidak paham mengapa Alan punya pacar seperti wanita itu. Dari awal melihat saja sudah ketahuan kalau wanita seperti dia iti tukang selingkuh. Apa mungkin Alan benar-benar polos dan tidak tahu apa-apa? Alan bilang bisa membaca karakter orang saat memperhatikan wajahnya saat tidur. Apa Alan hanya mengucapkan omong kosong belaka?


Bertemu dengan Sovia benar-benar merusak mood. Ia yang tadinya bahagia bisa jalan-jalan sendiri jadi kesal.


__ADS_2