
Irene telah menganalisis laporan keuangan perusahaan yang kemarin sempat diberikan oleh Kakek Narendra kepadanya. Ares turut membantunya mengecek antara laporan yang ada dengan keadaan sebenarnya. Hari ini, ia akan menghadap kembali sang kakek di ruangan direktur utama.
"Bagaimana, Irene. Apa kamu sudah menyelesaikannya?" tanya Kakek Narendra dengan wajah yang tampak begitu sumringah.
Kehadiran Kakek Narendra langsung menggeser posisi Januar dan Harris di sana. Keduanya tak lagi bisa berkutik saat sang kakek telah kembali. Dari cara bicaranya, Kakek Narendra seorang yang tegas dan kritis dalam menyikapi sesuatu. Keputusannya tidak bisa dibantah oleh siapapun, baik anak kandungnya atau cucu-cucunya.
Alan turut berada di sana mendampingi Kakek Narendra. Dari raut wajahnya bisa dilihat kalau ia sangat terpaksa ikut datang ke kantor. Meskipun tampak keren mengenakan pakaian kerjanya, namun itu bukan style yang Alan suka. Ia lebih suka mengurus restoran miliknya karena jam kerja yang fleksibel dan tidak perlu patuh pada aturan baku.
Irene meletakkan hasil analisisnya terhadap kondisi keuangan perusahaan di hadapan sang kakek. "Saya dan Ares menemukan beberapa kejanggalan dalam penganggaran biaya-biaya pengeluaran di perusahaan. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, keuntungan yang diperoleh perusahaan menurun cukup signifikan. Kakek bisa mengeceknya sendiri pada bagian yang sudah saya cocokkan."
Kakek Narendra mulai membuka-buka hasil analisa Irene. Alan turut membantu sang kakek mengeceknya. Keduanya saling bertatapan saking terkejut dengan pekerjaan yang telah Irene lakukan. Laporan yang dibuat oleh Irene begitu rapi dan sangat mudah dipahami. Mereka langsung tahu letak masalah di perusahaan.
"Bukannya saya ingin menjelek-jelekkan, tapi sepertinya Pak Januar dan Pak Harris berusaha melakukan korupsi di perusahaan ini. Bukan hanya itu saja, beberapa rekanan dan calon investor yang hampir bekerja sama dengan perusahaan, mereka alihkan ke perusahaan milik mereka. Bisnis yang sedang mereka kembangkan arahnya sama dengan perusahaan ini. Karena keduanya juga menjabat di perusahaan, maka lebih cepat mendapatkan relasi."
Kakek Narendra tampak menghela napas. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi. Sudah ia duga kedua putranya yang lain akan melakukan hal semacam itu. Padahal, sebagai orang tua dia telah berusaha berbuat adil kepada ketiga putranya. Ia harus menjaga apa yang menjadi hak kelima cucunya dari putra pertamanya apapun yang terjadi.
"Sudah aku bilang kan, Kek. Kalau Om mau perusahaan ini, biarkan saja mereka memilikinya. Aku tidak mau ada permusuhan karena mereka juga masih bagian dari keluarga."
"Diam, Alan! Tidak ada keluarga yang berbuat jahat kepada keluarganya sendiri. Kalau mereka mau berbuat curang, aku tidak bisa membiarkannya. Sebagai anak, kamu seharusnya bisa memperjuangkan hakmu sendiri! Ini bukan sesederhana tentang harta, tetapi juga tentang kehormatan dan wibawa mendiang ayahmu yang sudah berjuang membangun perusahaan ini."
__ADS_1
"Apa kamu juga tega membiarkan Alex berjuang sendirian di tempat yang seharusnya menjadi miliknya, tapi dipenuhi orang-orang yang tidak memihaknya?"
Perkataan kakek membuat Alan termenung. Alex susah payah bisa masuk perusahaan tanpa bantuan siapapun, termasuk sang kakek. Sementara, dirinya dan saudaranya yang lain menolak ikut masuk perusahaan padalah telah diminta untuk masuk. Seharusnya mereka, lima bersaudara yang bisa menjadi pemegang jabatan tertinggi di perusahaan.
"Irene, pekerjaanmu sangat baik. Kakek kagum kepadamu. Jadi, kira-kira siapa dari kelima cucu kakek yang sudah membuatmu tertarik?"
Irene membulatkan mata mendengar pertanyaan itu. Ia bahkan belum memikirkan apapun tentang perasaannya. Sedikit ia melirik ke arah Alan. Ia tidak bisa menjawab karena memang tidak ada bayangan dalam pikirannya untuk menikah dengan salah satu dari kelima tuan muda.
"Siapapun nanti yang akan kamu pilih, kakek akan memberikan 30% saham perusahaan kepadamu, Irene."
Ucapan Kakek Narendra membuat Irene tercengang, begitu pula dengan Alan.
"Kakek yakin, mau menjadikan Irene sebagai cucu menantu?" tanya Alan penasaran.
"Cantik?" Alan meninggikan suara untuk menekankan pertanyaannya. Sepertinya sang kakek sudah rabun atau memang Irene memiliki ramuan khusus agar bisa dipuji orang lain.
Kakek Narendra merubah ekspresi wajahnya menjadi kesal kepada Alan. "Memangnya kenapa? Kakek hanya mengungkapkan pendapat pribadi kakek. Memang menurutmu Irene jelek?"
Alan tidak bisa berkata-kata lagi. Perasaannya selama ini juga sedikit aneh kepada Irene. Tidak mungkin wanita biasa seperti dia bisa membuat dirinya tertarik.
__ADS_1
"Ya sudah, itu terserah Kakek. Aku akan ke ruangan wawancara sekarang untuk mencari penerjemah Bahasa Persia yang Kakek mau." Alan menyerah dengan keputusan sang kakek. "Irene, kalau kamu mau istirahat, masuk saja ke ruanganku yang ada di sebelah ruangan Alex," ucapnya sebelum pergi dari ruangan sang kakek.
Irene masih bertahan di sana, duduk di hadapan Kakek Narendra. Ia berharap ada sesuatu yang kakek ucapkan atau tanyakan padanya. Namun, sang kakek hanya diam dan tersenyum kepadanya.
"Apa Kakek tidak ingin menanyakan apapun kepada saya?" tanyanya.
"Tidak ada," jawab sang kakek. "Aku hanya berharap kamu bisa bicara secara biasa saja seperti kamu berbicara kepada kakekmu sendiri."
Irene bertambah canggung dengan permintaan tersebut. Ia merasa sebenarnya kakek sudah tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Hanya satu hal yang tidak ia mengerti, kenapa sang kakek tidak marah padahal ia telah menipu cucu-cucunya. Bahkan sang kakek memperlakukannya dengan begitu baik.
"Kalau begitu, saya akan ke ruangan Kak Alan," pamit Irene.
"Iya. Beristirahatlah di sana." Kakek Narendra masih menunjukkan senyum tulusnya.
Irene keluar ruangan dengan perasaan yang masih bertanya-tanya. Hatinya selalu was-was jika bertemu kakek, takut sewaktu-waktu penyamarannya terbongkar. Ataukah kakek orang yang sebaik itu sampai tidak memandang penampilannya. Bahkan kakek berniat memberikan 30% saham perusahaan kepadanya, terlepas siapapun nanti yang akan ia pilih menjadi suami dari kelima tuan muda.
Irene menunggu dengan bosan di ruangan Alan yang masih tampak serba baru. Ia mencoba duduk di kursi kerja yang embuk sembari berlagak menjadi bos. Layar monitor yang ada di hadapannya membuat ia terbersit satu ide untuk membuka hasil seleksi wawancara online perusahaan.
Kemarin sore, Irene sempat melakukan wawancara online dengan pihak perusahaan untuk mencari calon penerjemah Bahasa Persia. Sebenarnya, itu hanya keisengannya semata karena kebetulan ia bisa berbahasa Persia. Ia hanya senang ditanya-tanya dalam bahasa yang sudah lama tidak ia gunakan.
__ADS_1
Ia membuka alamat pengumuman seleksi hanya ingin tahu siapa yang akhirnya terpilih sebagai penerjemah.
Mulutnya ternganga saat melihat tampilan pengumuman yang ada di monitor. Nama samarannya "Alenta" muncul. Ia sampai mengucek mata untuk memastikannya. Sungguh tidak disangka, keisengannya malah menjadi sungguhan. Padahal, ia asal mengisi data yang diberikan dan tidak mau memasang foto profil pelamar.