Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 94:


__ADS_3

"Siapa dia?" tanya seorang lelaki yang berada di belakang Irene.


Lelaki itu yang sepertinya tadi mendorong Irene masuk ke dalam. Lelaki itu menatap Irene sembari tersenyum.


Alan melirik sebentar ke arah Irene. "Irene ... Dia salah satu kerabatku. Aku tidak tahu kalau ternyata dia bekerja di sini," jawab Alan.


Wanita yang sedari tadi berada di samping Alan terus memegang erat lengan Alan. Ia menatap tidak suka ke arah Irene, seakan ingin memberitahukan bahwa Alan adalah miliknya.


"Kalau begitu ... Aku permisi dulu!" ucap Irene yang canggung berada di kumpulan orang-orang yang tak dikenalnya. Tatapan mata wanita itu juga seperti ingin mengusirnya.


"Eh, kenapa buru-buru. Kamu kan saudara Alan. Tetaplah di sini bersama kami. Kebetulan kami hanya sedang berbicara santai saja, makin banyak orang makin menyenangkan." lelaki itu menahan kepergian Irene. Ia menarik tangan Irene dan menyuruhnya duduk.


Alan tidak bisa berbuat apa-apa. Misty, wanita yang terus menempel padanya sangat membuat risih. Akan tetapi, ia berusaha bersabar hanya untuk menghargai Igor, rekan bisnisnya.


Alan sudah tahu jika Irene merasa tidak nyaman berada di sana. Ia juga risih diperhatikan Irene sedang didekati oleh wanita manja seperti Misty.


"Irene, kamu boleh makan dan minum apa saja. Nanti aku yang bayar," ucap Igor.


"Dia tidak boleh minum alkohol, Igor," bantah Alan.


"Kenapa? Dia sepertinya sudah cukup dewasa untuk meminumnya. Jangan jadi orang kolot, kasihan Irene, dia sedang tahap bersenang-senang." Dengan santainya Igor meneguk minuman beralkohol dari gelasnya. Misty juga turut melakukannya dengan santai.


"Kakek yang melarangnya," ucap Alan.


"Ah, kalau itu perintah Kakek Narendra, memang seharusnya kamu tidak minum, Irene. Minum saja jus atau yang lainnya." bahkan Igor tidak berani menentang Kakek Narendra.


"Jadi bagaimana? Rencana pembangunan pabrik minyak goreng sudah final?" tanya Alan. Ia tidak ingin pembicaraannya melebar lagi. Niat awal pertemuan mereka memang untuk membahas kerjasama.


"Tentu saja sudah final. Proses pembangunan sudah sampai 80 % masa mau dibatalkan? Ini juga tujuanku datang menemuimu untuk memastikan kesanggupan perusahaanmu sebagai pemasok bahan baku sawit."


"Kalau harganya cocok, tentu saja aku setuju saja dengan kerjasama yang kamu ajukan."


"Pastilah kami akan memberikan harga yang bagus. Proses pembangunan pabrik akan dipercepat dan langsung bisa produksi. Makanya aku ingin membahasnya secara santai dan kekeluargaan, aku tidak akan menawarkan kerjasama yang mengecewakan."


"Aku dengar fokusmu nanti untuk membuat produk berkualitas ekspor, kan?" tanya Alan memastikan.


Igor mengangguk. "Perkebunan sawit milik perusahaanmu salah satu yang berkualitas baik. Apalagi kita sudah cukup lama kenal dan pernah bekerja sama sebelumnya. Aku harap kamu mau menyetujuinya."

__ADS_1


"Direksi sudah memutuskan untuk bekerja sama dengan perusahaanmu, aku bisa apa selain menyetujuinya?"


Igor hanya tersenyum-senyum. Sebelum menghubungi Alan, ia memang terlebih dahulu telah membujuk orang-orang berpengaruh di perusahaan Alan. Namun, keputusan akhir tetap saja ada di tangan Alan.


Irene merasakan dirinya berada di dunia lain. Ia sama sekali tidak paham dengan pembahasan yang mereka lakukan. Tingkah wanita bernama Misty juga semakin membuatnya muak. Wanita itu bertingkah seolah seperti istri Alan, tidak mau jauh-jauh dari sisi Alan.


"Alan Sayang, buka mulutmu ...." Misty ikut-ikutan bertingkah di sela-sela perbincangan kedua pengusaha itu. Ia menyuruh Alan membuka mulut untuk memakan jeruk yang sudah dikupasnya. Mau tidak mau Alan menurut saja dari pada wanita itu mengganggu.


Rasanya Irene ingin memukuli Alan. Apa demi pekerjaan sampai harus segitunya bersabar menghadapi wanita manja itu. Alan sungguh tidak menghargai keberadaannya di sana.


Irene membuka ponselnya, mencoba mengirimkan pesan kepada Jeha. Temannya itu pasti kebingungan jika ia pergi terlalu lama.


Irene: Jeha, aku tersesat di ruangan orang dan sulit keluar.


Tak berapa lama berselang, ia mendapat balasan dari Jeha.


Jeha: Dimana? Di toilet?


Irene: Bukan ... Di ruangan nomor 57.


Jeha: Kok bisa? Kamu sama siapa?


Jeha: Tunggu sebentar! Aku akan menyusul ke sana.


Tak berapa lama kemudian, Jeha benar-benar datang ke sana.


"Tuan, ada seseorang yang ingin masuk." salah seorang pelayan membawa Jeha masuk.


Igor terpana saat Jeha memasuki ruangan. Wanita cantik itu mampu menarik perhatiannya. "Biarkan dia di sini. Kemarilah!" Igor meminta Jeha mendekat ke arahnya dan duduk di sampingnya.


Jeha merasa Canggung. Ia melirik ke arah Irene dan Alan. Sepertinya keputusannya masuk ke sana adalah hal yang salah. Tadinya ia kira Irene sedang bersenang-senang karena Alan ada di sana. Melihat keberadaan wanita se.ksi seperti di samping Alan, juga wajah-wajah playboy dari lelaki yang menyuruhnya masuk, ia jadi takut.


"Kamu cantik sekali. Siapa namamu?" tanya Igor.


Jeha tersenyum canggung. "Namaku Jeha," katanya.


"Oh, namamu juga cantik, ya ... Secantik orangnya. Kalau aku Igor." Ia memandangi secara lebih lekat wajah wanita yang ada di sampingnya. "Kamu cocoknya jadi artis soalnya wajahmu cantik."

__ADS_1


Jeha semakin tidak nyaman dengan keberadaannya di sana. Irene yang ingin membantu juga tidak berani. Ia hanya bisa melirik ke arah Alan untuk memberi kode agar membantunya.


"Igor, dia sebenarnya teman Irene. Sepertinya dia ke sini untuk memanggil Irene," ucap Alan.


"Benar, begitu?" tanya Igor kepada Jeha.


"Iya. Kami sedang karaoke di ruangan lain. Irene terlalu lama keluar jadi aku mencarinya."


"Oh, kalian sedang karaoke? Bagaimana kalau kita karaoke bersama di sini? Semakin banyak orang akan semakin menyenangkan," kata Igor bersemangat.


"Tapi ...." Jeha ingin menolak tapi sungkan.


"Kita masih ada urusan, Gor. Bagaimana kalau kamu biarkan mereka pergi dan kita lanjutkan penandatanganan berkas-berkas?" pinta Alan.


"Jadi kamu setuju?" tanya Igor.


"Tentu. Makanya cepat kita selesaikan, jangan buang waktu lagi!" desak Alan.


"Baiklah kalau begitu. Kalian bisa keluar dulu. Kapan-kapan mungkin kita bisa bertemu lagi, ya!"


Jeha tersenyum kecut. Buru-buru ia bangkit dari duduk, meraih tangan Irene dan mengajaknya kabur dari sana. Mereka kembali ke ruang karaoke yang telah disewa.


"Hah! Gila! Apa-apaan tadi," guman Jeha sembari mengatur napasnya. Ia paling takut dengan lelaki semacam Igor yang kelihatan agresif dalam mendekati mereka.


"Makanya aku lama kembali. Gara-gara orang itu tadi!" keluh Irene.


"Aku kira kamu pingsan di toilet sampai gak keluar-keluar. Memang tadi bagaimana kok bisa ada di sana?"


"Aku hanya mau menyapa Kak Alan. Nggak nyangka ada monster juga di sana."


"Kok kamu tidak melawan? Biasanya kan kamu paling berani dengan lelaki."


"Itu rekan bisnis Kak Alan ... Mereka sedang membahas kerjasama. Takutnya aku dimarahi kalau bikin ribut."


"Tapi kok ada wanita se.ksi juga di sana. Pesanan Kak Alan, ya?" tanya Jeha.


"Hust! Ngawur! Itu adiknya lelaki yang namanya Igor tadi."

__ADS_1


"Heh ... Dia punya adik? Kayaknya mereka sama-sama tidak beres."


__ADS_2